Pinhome

  • Blog
  • Finansial
  • Perbedaan KPR Syariah dengan KPR Konvensional: Pastikan Sesuai Kebutuhan

Finansial

Perbedaan KPR Syariah dengan KPR Konvensional: Pastikan Sesuai Kebutuhan

Dipublikasikan oleh Pinhome ∙ 17 January 2021 ∙ 3 menit membaca

Jika akan membeli rumah, apa sistem pembayaran yang Pins lakukan? Cash? Wah, luar biasa! Tapi jika ingin metode pembiayaan yang lebih fleksibel, Pins bisa memilih menggunakan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), baik yang konvensional maupun Syariah. Apa bedanya?

Pinhome – Pins, kebutuhan masyarakat akan sistem ekonomi berkaidah Islam semakin meningkat. Hal ini tidak mengherankan karena 80% penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Nah, jika Pins selama ini ingin memiliki rumah namun ingin bertransaksi aman dan terhindar dari riba, maka KPR Syariah bisa menjadi solusinya. Tapi apakah Pins sudah tahu apa itu KPR Syariah dan perbedaannya dengan KPR konvensional?

1. Akad jual-beli rumah

Perbedaan paling mencolok dari pembiayaan Syariah ini adalah pada akadnya. Jika di KPR konvensional akad yang digunakan adalah akad kredit, di KPR Syariah Pins akan melakukan akad murabahah. Di sini, bank akan “membeli” rumah yang Pins inginkan, dan menjualnya kembali kepada kita dengan margin tertentu yang sudah disepakati. Misalnya, Pins ingin membeli rumah senilai 500 juta. Bank akan membeli rumah tersebut terlebih dahulu dan menjualnya kepada kita dengan margin 150 juta (sesuai kesepakatan). Jadi, cicilan yang Pins akan bayarkan nantinya senilai 650 juta, dipotong uang muka.

2. Cicilan tetap

Selain prinsip komitmennya pembayaran cicilan di KPR Syariah juga berbeda. Dengan memilih pembiayaan Syariah, Pins akan dikenakan cicilan dengan jumlah yang tetap selama tenor. Jadi misalnya dengan contoh di atas, Pins sepakat membayar 650 juta dipotong uang muka 5%, yaitu Rp32.500.000 dengan tenor 15 tahun. Maka, cicilan yang harus Pins bayarkan adalah Rp3.430.556,- per bulan. Hal ini berbeda dengan KPR konvensional yang menawarkan cicilan tetap hanya untuk ± 5 tahun pertama saja. Cicilan di tahun-tahun berikutnya bisa naik-turun, sesuai dengan suku bunga Bank Indonesia pada saat itu.

3. Tenor Kredit

Perbedaan lain yang diterapkan oleh KPR Syariah adalah lamanya tenor. KPR Syariah biasanya hanya menyediakan tenor maksimal 15 tahun. Hal ini berkaitan dengan penanggulangan resiko yang ditanggung oleh bank serta penentuan margin seperti yang disebutkan di awal. Semakin lama tenor yang Pins ambil, semakin besar margin yang harus dibayar. Sementara itu, KPR konvensional menawarkan masa tenor yang lebih panjang, bisa sampai 25 tahun untuk beberapa bank.

Baca juga: Hitung-hitungan KPR Konvensional dengan KPR Syariah, Mana yang Lebih Murah

Itu tadi perbedaan KPR Syariah dengan KPR konvensional. Mau pilih yang mana? Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kita. Jika Pins menginginkan pembiayaan yang aman, bebas riba, lebih cepat selesai dengan cicilan tepat, maka KPR Syariah bisa menjadi pilihan. Namun, jika Pins lebih mengutamakan fleksibilitas tenor dengan suku bunga yang bisa jadi lebih murah, maka KPR konvensional adalah solusinya. Sekali lagi, pembiayaan konvensional atau Syariah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca juga Tips Beli Rumah Pertama Bagi Para Millenials

Tapi kalau ngomongin masalah cari rumah, Pins, gak ada yang lebih gampang daripada cari di Pinhome! Dengan Pinhome, kita bisa langsung memilih properti, berkonsultasi dengan agen terlatih dan terpercaya, hingga berhubungan dengan stakeholders lainnya, seperti notaris, kontraktor, dan bank. Semua hal yang berhubungan dengan transaksi properti menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan bersama Pinhome!

Temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di Rekan Pinhome sebagai Agen dan Kantor Properti.

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Anda kemudahan membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Bagikan Artikel