Kamus Istilah Properti

Apartemen

istilah properti

Apartemen

Menurut KBBI, apartemen memiliki arti tempat tinggal yang terdiri atas ruang duduk, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya yang berada pada satu lantai bangunan bertingkat yang besar dan mewah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas (kolam renang, pusat kebugaran, toko, dan sebagainya). Apartemen identik dengan kehidupan urban yang serba praktis, modern, dan banyak diminati oleh anak muda.

Dilansir dari Arsitur Studio, apartemen adalah unit perumahan mandiri (sejenis perumahan real estate) yang hanya menempati sebagian bangunan, umumnya di satu lantai saja. Ada banyak nama untuk keseluruhan bangunan ini tergantung pada setiap bahasa. 

Masa/lama waktu tinggal apartemen juga sangat bervariasi, dari perumahan umum berskala besar, atau hunian pemilik yang secara resmi merupakan kondominium (strata title atau commonhold), atau penyewa yang menyewa dari pemilik tanah pribadi.

Tipe unit apartemen

Secara umum, apartemen memiliki beberapa tipe unit sesuai dengan luas dan fungsinya.

1. Apartemen tipe studio

Apartemen tipe studio ini memiliki target market para lajang atau pasangan yang baru menikah dan belum memiliki anak. Apartemen studio memiliki ciri terdiri dari satu ruangan utama yang dibagi menjadi beberapa area tanpa sekat seperti ruang makan, ruang TV, dan tempat tidur; sementara kamar mandi terpisah dari ruang utama ini.

2. Apartemen tipe 1-bedroom

Yang menjadi pembeda apartemen tipe one-bedroom dengan studio adalah ruang tidur memiliki ruangan tersendiri, terpisah dari ruang makan, dapur, dan ruang keluarga. Apartemen jenis ini cocok untuk para lajang, pasangan baru menikah, maupun keluarga dengan 1 anak.

3. Apartemen tipe 2-bedroom

Sesuai dengan penamaannya, apartemen tipe 2-bedroom memiliki 2 kamar yang terpisah dengan ruang lainnya. Apartemen jenis ini biasanya dihuni oleh pasangan yang baru menikah maupun keluarga; walau tak menutup kemungkinan juga dapat dihuni oleh para lajang.

4. Penthouse

Tipe penthouse ini berbeda-beda, tergantung penawaran dari pengelola apartemen tersebut. Disebut penthouse, karena biasanya apartemen jenis ini merupakan unit paling mahal dan paling luas di bangunan tersebut. Beberapa pengelola apartemen bahkan menyediakan lift pribadi untuk masing-masing unit penthouse.

Memilih rumah atau apartemen?

Open front door to new home

Memilih hunian, seperti apartemen atau rumah, yang tepat memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak faktor yang harus dipikirkan agar hunian terpilih bisa menjadi tempat ternyaman bagi Pins sekeluarga.

Jenis hunian yang paling populer ada diantara apartemen atau rumah. Nah, buat Pins yang lagi mencari hunian dan masih bimbang memilih antara kedua hunian ini, sebaiknya simak dulu uraian tentang dua hunian populer ini sebelum menentukan pilihan.

Apartemen atau rumah, Pins pasti sering dihadapkan oleh dua pilihan itu saat sedang memilih sebuah hunian. Sebenarnya hal ini bukan hal yang mengherankan mengingat hunian ini merupakan tempat yang paling banyak diminati. Jadi, untuk menentukan mana hunian idaman, Pins bisa melihat perbandingan antara kedua hunian tersebut.

1. Lokasi

Sebelum menentukan pilihan antara apartemen atau rumah, Pins bisa melihat perbandingan kedua hunian tersebut dari sisi lokasi. Apartemen biasanya di bangun di tengah kota yang dekat dengan berbagai fasilitas umum seperti perkantoran, swalayan, dan tempat hiburan.

Ini dilakukan agar penghuninya lebih mudah dalam melakukan mobilitas. Sebaliknya, pembangunan rumah biasanya tidak pernah melihat lokasi. Ada kalanya rumah di bangun dekat dengan pusat kota. Tidak jarang Pins menemui rumah yang berada di pinggiran kota jauh dari keramaian.

2. Harga

Jika Pins mau membandingkan antara apartemen atau rumah, harga merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Secara kasat mata, apartemen dapat dimiliki dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan rumah. Ini tidak mengherankan, sebab ketika Pins membeli apartemen, hanya bangunannya lah yang menjadi hak milik.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan pembelian rumah, dimana ketika Pins membeli rumah, tidak hanya bangunan saja yang dibeli melainkan juga dengan tanahnya.

3. Fasilitas

Setiap hunian baik itu apartemen atau rumah pasti dilengkapi oleh fasilitas pendukung. Namun, ketika Pins membeli sebuah rumah di perumahan, fasilitas yang diberikan tidak akan selengkap apartemen.

Saat membeli sebuah apartemen, Pins biasanya juga bisa menikmati berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola seperti kolam renang, lobi, lapangan tenis hingga taman bermain.

4. Keamanan

Salah satu kelebihan apartemen dibandingkan dengan rumah adalah sistem keamanannya yang sangat ketat. Tidak sembarang orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam apartemen. Kalaupun ada yang masuk, maka petugas keamanan akan melakukan pemeriksaan.

Tidak hanya itu, di sekitar apartemen biasanya juga dipasang kamera cctv untuk memantau lingkungan di sekitar apartemen.

Hal tersebut tidak akan ditemukan di lingkungan perumahan dimana biasanya hanya dilakukan penjagaan seadanya. CCTV juga biasanya hanya dipasang pada titik-titik tertentu bahkan terkadang tidak dipasang.

5. Ketersediaan Ruang

Sebenarnya baik apartemen atau rumah, keduanya memiliki ruang yang cukup bagi penghuninya. Namun, bagi Pins yang membutuhkan banyak personal space, tinggal di apartemen mungkin bukan pilihan terbaik. Ini dikarenakan ruang di apartemen sangat terbatas.

Ruangan yang Pins miliki saat membeli apartemen hanyalah ruang kamar. Taman, halaman dan teras merupakan ruang yang tidak akan bisa Pins nikmati dari sebuah apartemen.

Sebaliknya, sebuah rumah memiliki banyak ruang yang bisa Pins gunakan secara bebas. Pins bisa menggunakan taman, atau halaman dan teras sesuka hati karena kesemua itu adalah milik Pins pribadi.

6. Biaya Perawatan

Ketika Pins bimbang memilih apartemen atau rumah, biaya perawatan hunian bisa menjadi salah satu pertimbangan. Apartemen biasanya menarik biaya untuk melakukan perawatan. Karena itulah lingkungan di apartemen tidak pernah kotor.

Selain biaya perawatan, Pins juga harus membayar biaya listrik, air dan langganan parkir. Semua biaya tersebut tentu saja tidaklah murah.

Sementara itu, biaya perawatan rumah jauh lebih murah atau bahkan tidak ada jika Pins mau membersihkan lingkungan sendiri. Pins juga tidak perlu membayar parkir karena telah memiliki garasi sendiri.

7. Peraturan dan Larangan

Salah satu hal yang paling mencolok dari apartemen adalah adanya peraturan dan larangan yang harus dipatuhi oleh penghuninya. Ada kalanya peraturan dan larangan tersebut menyulitkan penghuni apartemen seperti larangan membawa hewan piaraan atau larangan memodifikasi ruangan.

Hal ini tentu tidak akan terjadi ketika Pins tinggal di rumah. Meskipun apartemen atau rumah sama-sama memiliki aturan, tetapi peraturan dan larangan di rumah adalah hal yang Pins tentukan sendiri. Ketika Pins tinggal di rumah, Pins juga bebas memodifikasi rumah atau memelihara seekor binatang.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan saat memilih hunian

Memilih hunian baik apartemen atau rumah tidaklah semudah seperti yang Pins bayangkan. Ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum suatu hunian dipilih. Ini dilakukan agar Pins tidak salah pilih dan bisa mendapatkan hunian impian yang nyaman.

1. Budget

Faktor terpenting saat memilih sebuah hunian entah apartemen atau rumah adalah budget. Pins harus bisa menyesuaikan budget dengan hunian yang akan dipilih. Jika Pins akan memilih apartemen, pilihlah jenis apartemen yang masih terjangkau oleh kantong.

Begitu juga apabila Pins akan membeli rumah. Jangan tergoda oleh ukuran rumah sehingga Pins harus mengeluarkan biaya jauh di atas kemampuan Pins. Over budget saat membeli apartemen atau rumah harus dihindari sebisa mungkin karena bisa menyusahkan.

2. Lingkungan Sekitar

Satu hal lagi yang perlu Pins perhatikan sebelum memilih apartemen atau rumah, yakni lingkungan sekitar. Meskipun apartemen bisanya memiliki lingkungan yang lebih aman dibanding rumah, bukan berarti Pins bisa asal memilih apartemen. Perhatikan lingkungan geografi apartemen dan juga suasana sosial di gedung apartemen.

Baik bagi apartemen atau rumah, lingkungan sekitar merupakan hal yang penting. Ketika Pins memilih rumah, pastikan lingkungan sekitar aman dan nyaman untuk ditinggali, sehingga Pins akan merasa betah.

3. Dekat Dengan Sekolah

Bagi Pins yang sudah berkeluarga dan memiliki anak usia sekolah, faktor jarak sekolah dengan apartemen atau rumah yang akan dipilih perlu dipertimbangkan. Sebaiknya Pins memilih hunian yang dekat dengan sekolah agar tidak merasa repot mengantar anak ke sekolah.

Meskipun Pins sekarang belum memiliki anak, tidak ada salahnya memilih hunian baik itu apartemen atau rumah yang dekat dengan sekolah. Bisa saja dimasa depan, hunian yang dekat dengan sekolah tersebut bisa dijadikan investasi.

4. Tetangga

Pins harus ingat bahwa Pins tidak tinggal sendirian baik itu di apartemen atau rumah. Ada orang lain di sekitar Pins yang disebut tetangga. Oleh karena itu, sebelum memilih hunian tidak ada salahnya jika Pins memeriksa kebiasaan calon tetangga.

Pastikan bahwa tetangga di apartemen atau rumah yang akan Pins pilih tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, karena memiliki perbedaan mendasar. Dengan begitu Pins akan merasa nyaman dan betah tinggal di hunian tersebut.

Sebagai salah satu kebutuhan utama, Pins harus benar-benar mempertimbangkan hunian yang akan ditinggali baik itu apartemen ataupun rumah. Ini dikarenakan, hunian tersebut akan menjadi tempat Pins pulang dan tempat Pins menghabiskan waktu. Sehingga, Pins harus benar-benar nyaman dengan hunian tersebut.

Kelebihan dan kekurangan memilih apartemen

Apartemen memang menjadi simbol lifestyle masa kini, terutama untuk kita para milenial. Tapi, rumah sederhana juga memiliki keuntungan-keuntungan yang gak bisa dianggap remeh! Berikut ini poin-poin yang perlu Pins perhatikan saat menentukan pilihan hunian yang paling pas.

1. Lokasi

Untuk kita, para milenial urban yang akrab dengan kehidupan perkotaan, tentu pertimbangan lokasi menjadi urutan atas dalam memilih hunian. Lokasi properti rumah biasanya berada di area-area khusus permukiman yang tenang, jauh dari area perkantoran atau Central Business District (CBD). Sebaliknya, apartemen, banyak yang berada di dekat atau bahkan menjadi satu dengan bangunan komersil, sehingga letaknya lebih strategis.

2. Harga

Berbicara tentang properti, apalagi sih yang paling bikin pusing selain harga? Makanya, Pins harus memasukkan ini saat hendak memilih rumah atau apartemen. Gak cuma harga saja, value dari investasi properti ini juga harus dipikirkan. Dengan budget yang sama, Pins bisa saja mendapatkan rumah yang lebih luas di pinggiran kota. Namun, jika Pins memilih apartemen, tentu kita harus berkompromi dengan luas bangunan yang lebih kecil, namun lebih strategis. Dengan kata lain, ada plus minus yang harus kita pikirkan matang-matang Pins.

3. Ownership

Ownership, atau kepemilikan adalah pertimbangan yang harus Pins perhatikan juga! Saat membeli rumah dengan Sertifikat Hak Milik (SHM), Pins berarti memiliki rumah beserta dengan tanahnya. Ini berarti, Pins bebas mengeksplorasi properti tersebut, termasuk menjualbelikan, mewariskan, atau pun menggadaikan, asal tetap sesuai dengan sertifikat yang dimiliki.

Sedangkan untuk apartemen, ada dua jenis kepemilikan, Pins. Jika apartemen yang diinginkan bukan properti strata title, berarti kepemilikan Pins hanya terbatas pada Hak Guna Bangunan (HGB), sedangkan tanahnya adalah milik developer. Hak Guna Bangunan ini biasanya memiliki durasi tertentu (kurang lebih 20 tahun) dan dapat diperpanjang dengan harga tertentu. Ada pula apartemen yang berstatus strata title, yang berarti seluruh pemilik unit apartemen tersebut juga memiliki hak bersama atas ruang publik. Maksudnya, Pins memiliki hak atas bagian bersama, benda bersama maupun tanah bersama secara proporsional. Misalnya, sebuah apartemen 100 unit yang dibangun atas tanah seluas 100 m2, maka masing-masing pemilik unit memiliki hak atas 1 m2 atas tanah tersebut.

Perlu diingat, strata title tidak sama dengan hak milik yang bersifat selamanya. Pins juga tetap harus memperpanjang status kepemilikan ini setelah 20-40 tahun.

4. Fasilitas

Dengan kepemilikan penuh pada properti rumah, Pins berarti juga harus mandiri melengkapi kebutuhan keamanan, pengelolaan sampah, perawatan rumah, dan sebagainya. Sedangkan apartemen biasanya dilengkapi dengan fasilitas maintenance, sehingga Pins tak perlu lagi repot mengurus hal-hal tersebut. Selain itu, ada juga apartemen yang memberikan fasilitas-fasilitas tambahan yang menarik, seperti gym, lapangan tenis, kolam renang, hingga pusat perbelanjaan.

5. Investasi

Seperti yang disebutkan di atas, kepemilikan sebuah properti dengan SHM berarti Pins memiliki sebuah rumah hingga tanah di bawahnya. Harga tanah inilah yang harganya terus meningkat secara berkala. Jika sepuluh tahun lagi Pins ingin membeli rumah yang lebih luas, kemungkinan besar Pins akan mendapatkan keuntungan dari penjualan rumah tersebut. Apartemen pun dapat menghasilkan income yang cepat jika Pins menyewakannya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa Pins tetap harus memperbaharui Hak Guna Bangunan secara berkala.

Mungkin Pins lebih menyukai perumahan dengan lahan yang cukup luas dan tempat yang strategi. Sayangnya, saat ini sulit untuk menemukan perumahan dengan kriteria demikian. Kalau pun ada, pasti harganya cukup fantastis sehingga butuh waktu cukup lama untuk Pins mengumpulkan biayanya. Oleh sebab itu, apartemen minimalis bisa menjadi salah satu alternatif jika Pins ingin memiliki hunian yang nyaman dan strategis.

Keunggulan apartemen

Sebagai salah satu tempat tinggal yang nyaman dan strategis, tentu ada alasan khusus kenapa banyak orang memilih apartemen. Apalagi kalau bukan keunggulan yang bisa Pins dapatkan dari sana. Berikut ini adalah keunggulan yang bisa Pins dapatkan jika tinggal di sebuah rumah apartemen minimalis.

1. Mudah Dijangkau

Keunggulan pertama adalah semua hal disana mudah dijangkau. Biasanya apartemen minimalis itu membuat desain setiap ruangannya untuk berada dalam satu area. Jadi, mobilitas Pins di dalam rumah bisa lebih efisien. Dengan begitu Pins yang termasuk cukup aktif melakukan berbagai macam kegiatan dengan tinggal di rumah apartemen minimalis.

2. Pins Bisa Mengusung Konsep Berbeda

Keunggulan berikutnya yang bisa Pins dapatkan adalah dapat mengusung konsep rumah yang berbeda. Desain ruangan yang minimalis, Pins lebih mudah dalam memilih dan menempatkan furnitur apa saja. Dengan begitu, Pins bisa bebas menentukan konsep desain interior yang akan diterapkan di rumah apartemen minimalis tersebut.

3. Masuknya Unsur Alami

Kalau tinggal di sebuah apartemen minimalis, Pins bisa menyalurkan hobi dengan tanaman. Tempat ini biasanya memiliki jendela yang besar sehingga rumah Pins akan mendapatkan pencahayaan yang baik. Dengan begitu Pins bisa bebas menempatkan tanaman hias di dalam rumah dan tidak perlu bingung untuk melakukan perawatan.

4. Lebih Lapang

Sebuah rumah apartemen minimalis biasanya memiliki lahan yang tidak terlalu luas, namun dengan menggunakan warna ruangan minimalis seperti warna netral justru akan memberikan kesan luas. Selain itu, penggunaan furniture yang terbuka juga akan menambah kesan bahwa ruangan itu tidak sempit. Dengan begitu orang lebih memilih tinggal di apartemen untuk mendapatkan konsep hunian minimalis.

Tips penataan ruang untuk apartemen

Bagaimana sih caranya untuk membuat rumah apartemen minimalis tetap terasa nyaman? Ternyata caranya sangat mudah, lho, Pins. Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membuat hunian minimalis yang tetap nyaman.

1. Buat Ruang Terbuka yang Fleksibel

Salah satu cara untuk membuat rumah apartemen minimalis adalah dengan membuat ruang terbuka. Ruang terbuka yang fleksibel memang menjadi salah satu ciri khas dari apartemen. Jadi, meskipun luas ruangan tidak terlalu besar, tapi tidak akan menghalangi Pins untuk beraktifitas dengan bebas.

Ruang terbuka fleksibel artinya Pin harus menghubungkan setiap ruangan dalam interior rumah apartemen minimalis. Selain itu, Pins harus bisa memaksimalkan fungsi dari ruang tidur, ruang kerja pribadi, ruang tamu dan dapur sebagai area utama. Oleh karena itu Pins harus lebih terampil dalam menentukan letak ruangan dalam interior apartemen.

Mungkin Pins bisa menempatkan kamar tidur sejajar dengan ruang untuk bersantai. Dan ruangan tersebut dibuat terhubung dengan ruang dapur dan ruang makan untuk mendapatkan porsi yang seimbang. Dengan ruang yang terbuka seperti ini akan membuat Pins merasa kalau penggunaan ruangan di rumah apartemen minimalis akan lebih maksimal dan efektif.

2. Menempatkan Tempat yang Produktif untuk Bekerja

Sebagai generasi milenial, tentunya Pins perlu bekerja secara aktif. Bukan hanya di tempat kerja melainkan di rumah juga. Dengan begitu Pins bisa membuat sebuah tempat yang memungkinkan Pins untuk bekerja secara produktif di rumah apartemen minimalis. Dengan desain apartemen yang cukup minimalis bisa memudahkan Pins untuk menempatkan tempat kerja di mana saja.

Bukan hanya itu, Pins juga perlu menggunakan furniture yang mendukung. Hal ini rupanya menjadi salah satu elemen penting untuk membuat rumah apartemen minimalis. Tentunya Pins boleh menempatkan atau menggunakan furniture seperti meja dengan bahan yang berbeda. Namun yang harus Pins ingat adalah fungsi dari furniture itu harus sama.

Jadi, Pins boleh menempatkan meja di setiap ruangan dan pastikan bahwa meja tersebut bisa Pins gunakan untuk menyimpan laptop. Dengan begitu, Pins bisa memaksimalkan penggunaan setiap ruang untuk bekerja dengan maksimal. Oleh sebab itulah banyak orang yang menyukai desain dari rumah apartemen minimalis.

3. Menggunakan Perabotan Multifungsi

Sebuah apartemen biasanya tidak memiliki ruangan yang cukup luas dibandingkan dengan rumah biasa. Sedangkan kebutuhan seseorang cukup banyak untuk bisa melakukan banyak hal di dalam rumah. Namun penggunaan perabotan yang berlebihan malah akan menghilangkan kesan minimalis.

Selain itu, penggunaan perabotan yang banyak akan membuat ruangan menjadi lebih sempit dan terasa sesak. Bahkan hal itu akan membuat mobilitas Pins di sana akan terbatasi. Oleh sebab itu, Pins harus pintar dalam menggunakan dan menempatkan perabotan di dalam rumah apartemen minimalis.

Solusi terbaik adalah Pins harus menggunakan perabotan yang multifungsi. Contohnya seperti tempat tidur berlaci, meja lipat yang bisa di tempelkan ke dinding, bunk bed ber-lemari, atau meja kopi berkompartemen. Dengan begitu Pins bisa menghemat pengeluaran dan bisa tinggal dengan nyaman.

4. Personalisasi Dengan Dekoratif yang Unik

Cara membuat rumah apartemen minimalis berikutnya adalah membuat personalisasi dengan menggunakan dekoratif yang unik. Dekorasi juga akan memperkuat konsep sebuah rumah sehingga Pins perlu menerapkannya. Selain itu, Pins bisa menunjukkan karakter dan kepribadian Pins dengan desain dekoratif yang digunakan.

Pins tidak perlu ragu lagi untuk memberikan sentuhan pribadi secara detail untuk memperindah ruangan dalam rumah apartemen minimalis. Contohnya adalah Pins bisa memajang kolase bingkai foto untuk menceritakan pengalaman hidup, atau koleksi unik lainnya.

Pajangan tersebut akan memperkuat kesan rumah apartemen minimalis yang nyaman. Selain itu, Pins bisa menunjukkan koleksi tersebut pada orang lain atau tamu yang datang. Dengan begitu, Pins tidak perlu repot menyediakan tempat lain untuk menyimpan koleksi yang Pins punya.

5. Pemilihan Warna Interior yang Elegan

Cara terakhir untuk membuat rumah apartemen minimalis adalah dengan memilih warna interior yang elegan. Warna yang elegan tersebut adalah warna-warna yang klasik dan simpel. Contohnya seperti hitam, coklat, krem, putih, abu-abu dan masih banyak lagi.

Selain bisa menghadirkan kesan rumah apartemen minimalis, warna-warna klasi tersebut juga bisa membuat Pins lebih rileks. Namun, Pins juga bisa menambahkan warna lain agar ruangan tidak terlalu monoton. Dan jangan lupa untuk memilih furniture dengan warna yang senada dengan warna dinding.

Rumah susun atau apartemen?

Jika Pins sedang mencari alternatif hunian selain rumah tapak, rumah susun atau apartemen dapat menjadi pilihan. Sama-sama merupakan hunian vertikal alias bertingkat, keduanya tampak mirip namun memiliki ciri masing-masing yang berbeda satu sama lain. Agar lebih paham tentang kedua jenis hunian ini, yuk simak lebih lanjut.

Gambaran Tentang Rumah Susun dan Apartemen

Rumah susun atau apartemen memiliki ciri khas berupa bangunan bertingkat alias vertikal. Biasanya, masing-masing terdiri dari sejumlah blok atau unit dengan penghuni yang berbeda.

Masing-masing rumah susun atau apartemen memiliki ukuran dan desain yang serupa serta dilengkapi dengan fasilitas yang sama pula. Beberapa juga memiliki fasilitas publik yang dapat dinikmati oleh seluruh penghuni bangunan.

Di samping itu, Pins juga dapat memiliki hak milik atas suatu unit di dalamnya sebagaimana rumah pada umumnya. Namun ketentuannya kepemilikannya lebih kompleks daripada rumah tapak tunggal.

Hanya bagian-bagian tertentu dari unit yang bisa dimiliki perorangan. Sementara itu, bagian lainnya merupakan milik bersama dengan seluruh penghuni lainnya.

Sebagai bukti kepemilikan, Pins harus mendapatkan Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun (SHMSRS). Sertifikat ini berlaku, baik untuk rumah susun atau apartemen karena pada dasarnya apartemen pun secara bentuk merupakan rumah susun.

Selain dengan membeli, Pins juga bisa menempati hunian jenis ini dengan menyewa. Harganya bervariasi tergantung kriteria rumah susun atau apartemen yang dipilih. Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Perbedaan Rumah Susun dan Apartemen

Tentunya ada perbedaan antara rumah susun dan apartemen meskipun bentuknya mirip. Perbedaan antara rumah susun atau apartemen sebenarnya banyak, namun perlu dilihat lebih dalam untuk dapat memahami perbedaannya.

1. Peruntukan

Pada awalnya, rumah susun dibangun oleh pemerintah dengan tujuan membenahi permukiman di kota. Selain itu, pembangunan ini juga diharapkan mampu memberi kesempatan kepada masyarakat berpenghasilan rendah untuk dapat memiliki hunian. Karenanya, rumah susun cenderung ditujukan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Sementara itu, peruntukan apartemen lebih fleksibel meskipun yang tertarik biasanya tetap merupakan kalangan menengah ke atas. Pembangunannya pun seringkali dilakukan oleh pengembang swasta dengan pemasaran sedemikian rupa. Perbedaan antara rumah susun atau apartemen yang satu ini bisa dikatakan cukup mendasar.

2. Fasilitas

Dari segi fasilitas, dapat dikatakan bahwa apartemen memiliki kelebihan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat peruntukan rumah susun atau apartemen yang memang berbeda. Dan itu berdampak pula pada kebutuhan akan gaya hidup penghuni.

Di rumah susun, Pins bisa mendapatkan fasilitas dasar seperti listrik, air, saluran pembuangan, hingga gas. Selain itu terdapat juga fasilitas bersama, di antaranya lahan parkir, tempat ibadah, area bermain anak, serta lapangan olahraga.

Sementara jika Pins memilih apartemen, fasilitas yang didapatkan biasanya lebih dari itu. Lahan parkir yang lebih luas, kolam renang, pusat perbelanjaan, tempat nongkrong, hingga fasilitas kebugaran menjadi fasilitas yang dapat dinikmati bersama.

Fasilitas lainnya adalah sistem keamanan yang terkoordinasi. Selain petugas khusus yang berjaga 24 jam, apartemen biasanya juga dipasangi CCTV di titik-titik strategis. Meskipun begitu, saat ini sudah ada juga rumah susun yang difasilitasi sistem keamanan semacam itu.

Namun kebanyakannya penghuni rumah susun membentuk sistem keamanannya sendiri yang serupa siskamling. Petugasnya pun diambil dari para penghuni itu sendiri yang bertugas secara bergiliran. Dengan caranya masing-masing, rumah susun atau apartemen bisa menjaga keamanannya sendiri.

3. Interaksi antar Penghuni

Penghuni rumah susun atau apartemen cenderung memiliki pola interaksi yang berbeda. Hal ini juga dipengaruhi oleh kalangan masyarakat yang menjadi penghuni tersebut. Karenanya, ini bisa menjadi pertimbangan dalam memilih antara rumah susun atau apartemen.

Rumah susun yang seringkali ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah, menjadikannya memiliki banyak penghuni yang sudah berkeluarga. Karenanya, interaksi lingkungan rumah susun masih terasa intensitasnya.

Salah satunya adalah dengan adanya anak-anak antar penghuni yang bermain bersama. Golongan masyarakat dewasa pun membuat kontrol sosial menjadi lebih ketat terutama terhadap remaja.

Sementara itu, penghuni apartemen lebih cenderung merupakan kalangan pemuda lajang yang lebih banyak berkegiatan dan berinteraksi di luar.

Apartemen kadangkala hanya menjadi tempat istirahat dan tidak sempat bersosialisasi dengan tetangga. Meskipun begitu, sikap individualis ini menjadikan penghuni apartemen memiliki privasi yang lebih tinggi.

4. Harga

Dalam hal harga, rumah susun atau apartemen tidak bisa dipatok secara merata. Ini disebabkan keduanya terbagi menjadi beberapa jenis lagi.

Tidak hanya pada fasilitas, tetapi juga pada hak dalam menempati bangunannya. Maksudnya, seperti halnya rumah tapak, rumah susun atau apartemen juga dapat dimiliki dengan dibeli, atau hanya ditempati dengan disewa.

Saat ini, terdapat 2 jenis rumah susun yang umum dikenal. Pertama adalah rumah susun sederhana sewa (rusunawa) sementara yang kedua rumah susun sederhana milik (rusunami).

Dari namanya, sudah jelas bagaimana status kepemilikan kedua jenis rumah susun tersebut. Rusunami sendiri sering disebut apartemen bersubsidi untuk menghilangkan kesan menengah ke bawahnya.

Apartemen pun memiliki kedua status tersebut. Namun untuk penggolongannya, apartemen lebih sering digolongkan berdasarkan ukuran ruangan. Ukuran terkecil disebut studio, kemudian diikuti convertible, 1 bedroom, 2 bedroom, duplex, dan jenis-jenis lain yang lebih besar lagi.

Namun, dengan segala perbedaan sasaran peruntukan dan fasilitas antara rumah susun atau apartemen, jelas apartemen memiliki harga lebih tinggi. Baik dengan membeli ataupun menyewa.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih rumah susun atau apartemen

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk untuk dipilih sebagai hunian. Karena, rumah susun atau apartemen memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal terpenting sebelum Pins menjatuhkan pilihan adalah mempertimbangkan berbagai aspek dengan matang, berikut di antaranya:

1. Kebutuhan Jenis Hunian

Apa yang Pins butuhkan dari sebuah hunian vertikal? Jawabannya bisa beragam. Mulai dari terjaminnya kebutuhan pokok berupa tempat tinggal, kenyamanan, fasilitas, hingga perlunya sosialisasi sebagaimana di perkampungan pada umumnya.

Rumah susun atau apartemen, keduanya menawarkan jaminan tempat tinggal. Jika pertimbangannya adalah soal kenyamanan, keamanan, serta fasilitas, Pins mungkin akan senang memilih apartemen. Terlebih bagi yang belum berkeluarga serta menginginkan lebih banyak privasi.

Namun, bagi Pins yang mengutamakan efisiensi, memilih rumah susun bukanlah pilihan buruk. Apalagi sekarang, image rumah susun sebagai hunian kelas menengah ke bawah sedang coba dikikis.

Buktinya adalah dengan adanya rusunami dengan fasilitas yang menyerupai apartemen. Sesuai namanya, Pins bisa memiliki sertifikat hak milik atas unit yang ditempati.

2. Kemampuan Finansial

Tidak hanya mempertimbangkan tentang bagaimana hunian yang ditempati bisa sesuai keinginan. Tetapi Pins juga harus perhatikan perkara finansial. Cek lagi pendapatan dan pengeluaran Pins secara detail, yang mana yang paling memungkinkan, rumah susun atau apartemen?

Seperti sudah dijelaskan, harga apartemen lebih mahal daripada rumah susun, baik menyewa maupun membeli. Namun, apa yang dibayar tentu sepadan pula dengan apa yang didapat.

Bukan berarti ketika memilih rumah susun Pins harus mengorbankan kenyamanan. Dengan adanya Rusunami alias apartemen bersubsidi, fasilitas hampir serupa apartemen bisa didapat dengan harga rumah susun.

3. Tujuan

Keinginan memiliki hunian tidak selalu bertujuan untuk benar-benar dihuni sendiri. Ada sebagian orang yang membeli produk properti sebagai investasi. Misalnya dengan menyewakannya.

Jika memang bertujuan untuk dihuni sendiri, maka pertimbangan finansial dan kebutuhan jenis hunian harus dipikirkan secara seimbang. Baik rumah susun atau apartemen,

Sementara jika untuk disewakan, maka hak milik adalah hal yang harus diperhatikan. Rumah susun khususnya biasanya terikat perjanjian yang mengharuskan unit ditempati oleh orang yang namanya ada dalam perjanjian.

Setiap orang memiliki pertimbangan masing-masing dalam memilih antara rumah susun atau apartemen. Apapun yang Pins pilih hendaknya merupakan hunian impian keluarga yang disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Yang terpenting, ketahui secara detail dan teliti ketentuan serta surat-menyuratnya agar dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari.

Pengajuan Kredit Pemilikan Apartemen dan Kredit Pemilikan Rumah

Bagi kita, para milenial, memiliki sebuah hunian merupakan tantangan tersendiri. Tingginya harga properti sering menjadi faktor yang membuat kita mengulur waktu atau malah mengurungkan niat untuk membeli properti. Menyadari hal ini, pemerintah dan pihak bank menyediakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) supaya kebutuhan masyarakat atas permukiman tetap terpenuhi.

Tentu untuk mengajukan KPR atau KPA ini, Pins harus memenuhi persyaratan tertentu. Pengajuan kita juga nantinya akan di-crosscheck dengan data Sistem Informasi Debitur (SID) milik Bank Indonesia sebagai syarat kelayakan kita membayar cicilan properti yang kita pilih. Nah, supaya lebih jelas dan Pins punya bayangan kira-kira gimana tahapan pengajuan KPR dan KPA beserta perbedaannya, simak artikel berikut ini, ya!

1. Memenuhi persyaratan kelayakan pengajuan KPR dan KPA

KPR dan KPA merupakan cicilan jangka panjang. Tenor yang ditawarkan oleh bank bervariasi, mulai dari 5 tahun, 10 tahun, 15, tahun, hingga 25 tahun. Dengan lamanya tenor ini, tentu usia Pins saat pengajuan juga menjadi salah satu syarat kelayakan.

Secara umum, syarat untuk mengajukan KPR dan KPA adalah sebagai berikut:

  • Merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dan berdomisili di Indonesia
  • Genap berusia 21 tahun atau sudah menikah
  • Memiliki pekerjaan dan berpenghasilan tetap dan telah bekerja sekurang-kurangnya 1 tahun
  • Memiliki riwayat kredit yang bersih
  • Tidak masuk ke dalam blacklist Bank Indonesia
  • Melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan

2. Melengkapi dokumen yang dibutuhkan

Secara umum, dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan KPR dan KPA adalah sebagai berikut:

  • Formulir pengajuan aplikasi kredit yang sudah diisi
  • Fotokopi identitas pemohon dan pasangan (jika ada)
  • Fotokopi kartu keluarga dan surat nikah (atau surat cerai)
  • Pas foto terbaru pemohon dan pasangan (jika ada)
  • Fotokopi NPWP
  • Slip gaji asli atau Surat Keterangan Penghasilan yang distempel oleh tempat bekerja
  • Fotokopi SK Pengangkatan Pegawai Tetap (untuk pegawai dan karyawan)
  • Fotokopi akta pendirian perusahaan, misalnya SIUP, SITU, atau TDP (untuk wiraswasta)
  • Fotokopi izin praktek (untuk profesional)
  • Fotokopi rekening koran atau buku tabungan selama 3 bulan terakhir
  • Laporan keuangan hasil usaha selama 3 bulan terakhir

Wah, cukup banyak, ya! Tapi memang rumah, kan, investasi dengan nilai yang cukup besar. Tak hanya itu, Pins juga harus melengkapi beberapa dokumen dari developer atau pemilik properti sebelumnya.

Untuk KPR, yang harus disiapkan adalah:

  • Sertifikat tanah asli (Sertifikat Hak Milik atau Sertifikat Hak Guna Bangunan)
  • Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
  • Salinan bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terakhir

Jika Pins membeli KPR untuk rumah seken, pihak bank akan meminta salinan dari dokumen-dokumen di atas sebagai syarat pengajuan. Setelah penandatanganan akad kredit, bank akan menyimpan dokumen-dokumen asli tersebut sebagai jaminan.

Sedangkan untuk KTA, dokumen yang harus disiapkan adalah:

  • Salinan bukti surat pemesanan apartemen
  • Salinan dari jadwal pembayaran apartemen
  • Fotokopi bukti pembayaran booking fee dan brosur dari developer.

Untuk apartemen, bank mungkin akan melakukan appraisal unit apartemen yang kita ajukan. Untuk itu, kita perlu menyiapkan uang untuk biaya appraisal ini.

Jika diperhatikan, ternyata syarat dan dokumen kelengkapan pengajuan KPR dan KPA ini tidak jauh berbeda, ya! Yang terpenting adalah bagaimana properti baru kita bisa menjadi tempat berlindung paling nyaman. Surat-surat yang disyaratkan oleh KPR mungkin terlihat lebih banyak, namun aset tersebut kita miliki seumur hidup. Dokumen pendukung KPA nampak lebih mudah didapatkan, namun hak kita hanya sebatas unit yang kita miliki saja. Jadi, antara KPR dan KPA mana yang lebih mudah? Kurang lebih sama, tinggal Pins yang menentukan lebih butuh properti jenis apa.