Pinhome

  • Blog
  • Finansial
  • Nih, Bedanya KPR Konvensional dan Syariah, Jangan Salah Pilih Ya!

Finansial

Nih, Bedanya KPR Konvensional dan Syariah, Jangan Salah Pilih Ya!

Dipublikasikan oleh Jay ∙ 21 November 2020 ∙ 6 menit membaca

Buat yang ingin punya rumah tapi gak bisa beli tunai, jangan khawatir. Bank punya program yang namanya KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Program ini diadakan untuk mereka yang mau membeli rumah dengan cara dicicil. Kalau Pins sedang merencanakan beli rumah juga, yuk baca pembahasan di bawah sampai tuntas! Nanti Pins bakal tahu tentang KPR konvensional dan Syariah.

Pinhome – Kalau Pins bertanya mana yang lebih baik antara KPR konvensional dan Syariah, maka jawabannya gak bisa serta-merta begitu saja. Pins harus tahu dulu perbedaan keduanya dan hadapkan dengan kebutuhan saat ini. Dari situ baru lah Pins bisa menentukan mana yang terbaik. Namun perlu diingat, setiap orang punya opininya sendiri untuk memilih mana yang lebih bagus.

Baca Juga: KPR Syariah Bisa Jadi Solusi Untuk Punya Rumah

Nih, Bedanya KPR Konvensional dan Syariah, Jangan Salah Pilih Ya!
(rumah.com)

Sekarang langsung aja bandingin apa sih bedanya KPR konvensional dan Syariah. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Gak ada 100% lebih bagus dari yang lainnya. Kembali lagi, perspektif bagus dan tidaknya sesuai kecocokan kondisi Pins. Berikut adalah perbedaan dari kedua jenis KPR tersebut,

Baca Juga: Jangan Bingung! Ini Istilah-Istilah KPR Yang Perlu Kamu Ketahui

Uang Muka

Meskipun Pins membeli rumah dengan mencicil ke bank, bukan berarti Pins tidak harus membayar uang muka. Dalam KPR konvensional dan Syariah ada proses pembayaran down payment (DP) yang disetorkan ke pihak penjual rumah atau developer. Di sini lah perbedaannya antara KPR versi konvensional dan Syariah.

Untuk KPR konvensional, Pins harus menyiapkan dana minimal 30% dari total harga rumah. Jadi, misalnya harga rumah Rp500 juta, maka DP minimum Rp150 juta. Sedangkan di KPR Syariah lebih ringan, besaran DP minimum 10%. Pins cukup menyiapkan uang Rp50 juta kalau harga rumahnya Rp500 juta.

Tenor Pinjaman

Selain down payment, ada istilah lainnya dalam KPR konvensional dan Syariah, yaitu tenor pinjaman. Tenor adalah lamanya angsuran atau jangka waktu yang diambil hingga cicilan tersebut lunas. Tenor dihitung berdasarkan bulan tapi ada juga yang dinyatakan dalam bentuk tahun. Minimal pengajuan tenor adalah 12 bulan (1 tahun).

Bagian yang membedakan pada tenor KPR konvensional dan Syariah adalah batas waktu maksimumnya. KPR konvensional cukup panjang tenornya, yakni hingga 25 tahun. Di sisi lain, KPR Syariah hanya bisa sampai dengan 15 tahun. Nah, sekarang coba cek plan jangka panjangnya Pins bagaimana?

Suku Bunga

Ini lah salah satu pembeda antara KPR konvensional dan Syariah. Suku bunga menjadi fokus utama pembahasan kedua jenis KPR ini. Dalam KPR Syariah tidak mengenal istilah bunga sebab dianggap sebagai riba dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip Islam sangat menghindari riba.

Sebaliknya, KPR konvensional ada dua jenis bunga. Inilah yang membuat KPR konvensional dan Syariah sangat berbeda. Ada flat rate atau fixed rate yaitu Pins tidak akan terkena naik-turun suku bunga BI. Floating rate adalah bunga yang disesuaikan dengan kondisi BI.

Saat bunga naik, maka cicilan pun akan bertambah. Inilah yang sering membebani nasabah karena jumlah cicilan akan berubah. Namun untungnya dari sistem bunga ini ketika bunga BI sedang turun, maka jumlah cicilan pun akan turun.

Penalti Pelunasan

Perbedaan lainnya antara KPR konvensional dan Syariah adalah biaya pinalti. Ini merupakan biaya yang dikenakan apabila Pins melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo. Mungkin Pins bingung mengapa dikenai biaya saat seseorang ingin melunasi pinjaman lebih cepat. Tapi begitulah aturannya pada KPR konvensional. Setiap bank besaran biaya pinaltinya berbeda-beda, namun umumnya sekitar 1% – 3,5% dari sisa tagihan yang dilunasi.

Hal selanjutnya yang membedakan KPR konvensional dan Syariah, pada KPR Syariah tidak ada biaya pinalti ini. Jika Pins ingin melunasi cicilan lebih cepat, maka bisa melakukannya dengan mudah. Bank Syariah tidak akan membebani nasabahnya untuk biaya pinalti. Jadi kalau di tengah periode cicilan tiba-tiba dapat rejeki, langsung saja lunasi cicilan KPR-nya.

Akad

KPR konvensional dan Syariah sama-sama diawali dengan proses akad. Namun yang membedakan keduanya adalah niat di awal. Akad KPR konvensional didasari dengan transaksi jual-beli berdasarkan syarat dan ketentuan yang ditentukan sepihak oleh bank. Dengan begitu, mau tidak mau Pins harus menyetujui aturan bank jika ingin memanfaatkan fasilitas mereka.

Membandingkan KPR konvensional dan Syariah, maka bank Syariah semuanya lebih transparan. Ada dua jenis akad yang umumnya diterapkan oleh KPR Syariah, yaitu mudharabah dan musyarakah mutanaqishah. Murabahah adalah konsep jual-beli yang didasarkan dengan tambahan margin. Kelebihan margin ini diketahui secara transparan oleh nasabah sehingga jumlah pinjaman pun jadi jelas.

Jenis akad lainnya adalah musyarakah mutanaqishah, yakni prinsip membeli barang dengan konsep kerjasama. Artinya, satu rumah dibeli secara patungan oleh Pins dan bank. Nantinya Pins akan mencicil bagian tersebut sampai lunas ditambah biaya sewa per bulannya. Melihat perbedaan akad antara KPR konvensional dan Syariah, maka tinggal disesuaikan dengan selera Pins.

Denda Keterlambatan

Soal denda keterlambatan, KPR konvensional dan Syariah sama-sama memberlakukannya untuk nasabah mereka. Namun ada beberapa KPR Syariah yang tidak mengenakan denda ini. Adapun besarannya tergantung kebijakan masing-masing bank. Belum tentu satu bank konvensional dendanya akan lebih rendah dari bank Syariah. Maka Pins harus memastikan sendiri perihal denda ini.

Selain besaran denda yang dikenakan, Pins pun harus cek sistem denda ini. Apakah hitungannya per hari atau per periode pembayaran cicilan. Lalu, pastikan pula kapan penarikan denda dilakukan. Apakah begitu dana di rekening mencukupi atau pada bulan selanjutnya. Ini berlaku untuk KPR konvensional dan Syariah ya, Pins, jadi apapun yang dipilih harus cek keduanya dengan teliti.

Status Kepemilikan

Meski Pins sama-sama mencicil kepemilikan rumah, ada perbedaan status kepemilikan pada KPR konvensional dan Syariah. Kalau Pins memanfaatkan KPR konvensional, maka rumah dimiliki oleh bank sepenuhnya sebelum cicilan lunas. Jika Pins sudah tidak punya tanggungan lagi di bank, maka sertifikat kepemilikan rumah akan diberikan. Tapi selama periode cicilan sertifikat ini ditahan oleh bank.

Sedangkan pada KPR Syariah, status kepemilikan bersama. Begitu cicilan lunas, maka sertifikat akan dimiliki sepenuhnya oleh Pins. Sebenarnya secara mekanisme KPR konvensional dan Syariah itu sama. Hanya saja dengan status kepemilikan bersama lebih memudahkan Pins jika terjadi sesuatu. Pins bisa berdiskusi dengan pihak bank dan membuat kesepakatan baru jika memungkinkan.

Kondisi Saat Kredit Macet

Nasabah KPR konvensional dan Syariah mungkin saja mengalami kredit macet. Dengan KPR Syariah tidak memberlakukan sistem bunga bukan berarti tidak ada nasabahnya yang bermasalah. Begitu pun dengan KPR konvensional, naik-turunnya bunga tidak selamanya meringankan nasabah.

Apabila ada kredit macet, artinya seseorang sudah tidak sanggup lagi membayar cicilan tersebut sehingga bank harus melakukan penyitaan terhadap rumah. KPR konvensional dan Syariah akan melakukan hal yang sama, namun mungkin cara yang ditempuhnya berbeda. Biasanya bank Syariah lebih mengedepankan cara musyawarah dan mediasi daripada berbagai peringatan kepada nasabah.

KPR konvensional dan Syariah sama-sama menguntungkan apabila dimanfaatkan dengan bijak dan sesuai kebutuhan. Sebab memang tujuannya adalah memudahkan masyarakat Indonesia untuk membeli dan memiliki rumah pribadi. Jadi kalau Pins sudah paham perbedaan keduanya, maka harapannya bisa lebih tenang memutuskan mau menggunakan KPR jenis yang mana.


Temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk Kamu Agen properti independen atau Agen kantor properti. Download aplikasi Rekan Pinhome melalui App Store atau Google Play Store sekarang!

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Kamu kemudahan membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Bagikan Artikel