Pinhome

  • Blog
  • KPR / KPA
  • Macam-Macam Jenis KPR Syariah dan Cara Pengajuannya

KPR / KPA

Macam-Macam Jenis KPR Syariah dan Cara Pengajuannya

Ditulis oleh Pinhome ∙ 17 January 2021 ∙ 6 menit membaca

Saat ini pembelian rumah menjadi lebih mudah dengan adanya KPR. Seperti yang Pins ketahui, ada dua jenis KPR yang banyak dikenal masyarakat. Yang pertama adalah jenis KPR konvensional dan jenis KPR Syariah.

Pinhome – Meski demikian, jenis yang kedua ini masih belum begitu umum di telinga masyarakat. Padahal jenis KPR Syariah memiliki banyak kelebihan.

Sebelum mengetahui jenis KPR Syariah ini, sebaiknya ketahui terlebih dahulu tentang apa itu KPR Syariah. KPR dengan sistem Syariah adalah pembiayaan dengan waktu tertentu yang didasari atau akad pembelian jual-beli rumah.

Jadi pada saat pembelian rumah, para nasabah dapat mengetahui jumlah yang akan dibayar dan dicicil setiap bulan hingga tahunnya. Jenis KPR Syariah pun cukup bervariasi untuk memudahkan para pembeli.

Hal inilah pembeda utama antara KPR konvensional dengan jenis KPR Syariah. Karena nilai dari sistem konvensional tidak menentu dan yang ditransaksikan adalah uang.

Jadi, apa lagi sih, yang perlu Pins diketahui mengenai KPR Syariah? Kemudian  apa saja jenis KPR Syariah yang dapat digunakan?

Jenis KPR Syariah yang Tersedia di Bank

Pada prinsipnya, semua jenis KPR Syariah sama, yaitu tidak terikat dengan fluktuasi bunga dan nilainya tetap. Yang membedakan hanyalah cara menghitung nilai total dari KPR nantinya.

Jadi, sebelum Pins menentukan jenis KPR Syariah mana yang akan diambil, ketahuilah terlebih dahulu jenis-jenisnya berikut ini:

1. Akad Mudharabah
Jenis KPR Syariah ini menggunakan skema perjanjian dengan dilandasi prinsip jual beli. Jadi, rumah yang ingin dibeli oleh nasabah, akan dibeli terlebih dahulu oleh bank.

Kemudian bank akan menjual rumah tersebut ke nasabah dengan harga dasar ditambah dengan keuntungan yang telah ditentukan oleh bank. Biasanya ini akan dipengaruhi oleh periode cicilan dan harga beli rumah.

Selanjutnya, nasabah akan mencicil pembelian setiap tahunnya dengan biaya tetap selama periode waktu tertentu. Pada umumnya, bank menyediakan periode cicilan dari 5-15 tahun. Semakin lama periodenya, harga jualnya akan semakin tinggi.

2. Akad Musyarakah
Untuk jenis KPR Syariah selanjutnya adalah menggunakan akad musyarakah. Dengan akad ini, nasabah dan bank akan membeli rumah dengan sistem bagi modal. Jumlah persentase antara bank dan nasabah dapat ditentukan di awal karena akan menentukan biaya cicilan selanjutnya.

Semakin tinggi persentase yang dimodali oleh bank tentunya akan membuat cicilan menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, ada baiknya jika pembagian modal dibuat seimbang antara nasabah dan bank.

3. Akad Ijarah Muntahia Bittamlik (IMBT)
Skema perjanjian pada jenis KPR syariah ini menggunakan konsep bank sebagai pemilik rumah sedangkan nasabah adalah penyewa rumah. Untuk mendapatkan rumah tersebut, penyewa harus membayarkan cicilan sampai akhir masa cicilan. Jika sudah sampai akhir masa cicilan, rumah akan menjadi milik nasabah.

Namun pada jenis KPR Syariah ini, nasabah bisa jada urung membeli rumah tersebut. Jika hal ini terjadi, maka rumah akan tetap menjadi bank dan hanya uang muka yang akan dikembalikan ke nasabah.

4. Akad Musyarakah Mutanaqisah
Prinsip dari jenis KPR Syariah ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, dimana kepemilikannya bertahap. Namun pada akad yang digunakan di awal adalah Pins sebagai nasabah dan bank adalah pemilik. Namun porsi kepemilikan bank akan berkurang setiap tahunnya selama Pins melakukan pembayaran.

Dari keempat jenis KPR Syariah diatas, yang paling umum digunakan adalah akad mudharabah. Jadi bank akan terlebih dahulu membeli rumah yang diinginkan lalu Pins harus membelinya dengan cara mencicil.

Jika di tengah jalan, Pins mengalami kesulitan dalam membayar, maka KPR akan diberhentikan. Namun sebagian besar uang yang telah dibayarkan tidak bisa kembali.

Baca juga: Beli Rumah, Mending DP Besar atau Cicilan Besar?

Kenapa Harus Menggunakan KPR Syariah?

Jika melihat sekilas jenis KPR Syariah dan sistem perhitungannya, mungkin banyak yang mengira lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya. Namun sebenarnya banyak juga lho untung Pins jika menggunakan KPR Syariah dibandingkan konvensional. Yuk, simak beberapa keuntungan yang didapatkan dari KPR Syariah:

1. Tidak Mengenal Fluktuatif Bunga
Keunggulan utama dari KPR Syariah adalah tidak mengenal fluktuatif bunga. Seperti yang dijelaskan pada jenis KPR Syariah, harga jual-sewa bank kepada nasabah sudah ditentukan dari awal. Nilai ini tidak akan terpengaruh oleh fluktuatif bunga karena sudah diperhitungkan di awal.

Jadi dengan bunga yang flat nih Pins, jadi sebagai nasabah Pins tidak perlu panik atau khawatir cicilan akan naik. Biaya cicilan bisa saja naik namun secara total harga belinya tidak akan berubah.

2. Tidak Ada Denda
Salah satu alasan mengapa banyak nasabah cenderung memilih KPR Syariah adalah karena tidak ada denda. Apa pun jenis KPR Syariah yang digunakan, jika nasabah melakukan pembayaran secara telat, nasabah tidak akan dikenakan denda. Bank hanya akan tetap memberikan batas waktu untuk melakukan pembayaran yang telat.

Atau jika memiliki rezeki lebih, para nasabah juga bisa melunasi biaya rumah tanpa terkena denda. Bank tidak akan mengenakan denda dan rumah akan dipindahkan kepemilikannya.

3. Dapat Dipersiapkan
Dengan segala sesuatu yang pasti, para nasabah dapat mempersiapkan kebutuhan pembayaran setiap bulannya. Berbeda dengan konvensional yang berpotensi naik-turun setiap bulannya bergantung pada bunga BI. Jadi, dengan keuntungan ini, para nasabah dapat merencanakan keuangannya dengan lebih pasti.

4. Jenis KPR Syariah atau Akad yang Bervariasi
KPR Syariah menawarkan beberapa akad yang dapat memudahkan para nasabah untuk membeli sebuah rumah. Jika memiliki dana terbatas di awal, maka para nasabah bisa memilih jenis KPR Syariah Ijarah Muntahiya Bittamlik. Namun setiap jenis akad Syariah memiliki harga jual yang berbeda-beda.

5. Uang Muka Lebih Ringan
KPR Syariah menawarkan uang muka yang lebih ringan dibandingkan dengan konvensional. Pada KPR Syariah, nasabah hanya perlu membayar 10% dari harga jual, sedangkan konvensional minimal 15%. Jumlah 5% ini tentunya sangat besar terutama jika harga jual rumahnya cukup besar.

Cara Mengajukan KPR Syariah

Setelah mengetahui macam-macam jenis KPR Syariah dan keuntungannya, apakah sudah tertarik untuk mengajukan KPR Syariah? Jika jawabannya iya, pilihlah bank Syariah yang ingin diajak kerja sama untuk membeli rumah. Berikut caranya yang bisa Pins lakukan:

  • Saat ini banyak bank Syariah yang menawarkan KPR Syariah dengan bunga yang berbeda-beda. Jadi Pins harus memilih yang memiliki penawaran terbaik dan pastikan jenis KPR Syariah yang diinginkan tersedia di bank tersebut.
  • Selanjutnya Pins diharuskan untuk melengkapi form biodata sebagai nasabah. Hal ini juga perlu didukung dengan dokumen-dokumen seperti KTP, KK, surat nikah, dll.
  • Ketika proses ini selesai, maka Pins akan dipertemukan dengan notaris untuk membahas isi perjanjian. Jika semua sudah setuju, maka kedua pihak akan tanda tangan pada kontrak perjanjian.
  • Pada proses pembuatan perjanjian, Pins juga harus menyiapkan uang untuk beberapa biaya seperti biaya administrasi, notaris, dll. Jadi pastikan untuk mempersiapkan hal tersebut di awal pendaftaran juga.
  • Jika semua sudah setuju, maka KPR Syariah sudah bisa dijalankan.

Jadi, jika ada yang masih ragu dan menginginkan sebuah rumah, maka KPR Syariah bisa menjadi pertimbangan. Banyak keunggulan dari KPR Syariah dari jenis KPR Syariah yang bervariasi hingga biaya cicilannya yang tetap. KPR jenis ini juga sangat cocok bagi yang beragama Islam karena tidak menggunakan riba dalam pembelian rumah.

Temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk Anda Agen properti independen atau Agen kantor properti.

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Anda kemudahan membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa propert

Tags :

Bagikan Artikel