Pinhome

  • Blog
  • Kesehatan
  • Face Shield: Alternatif Baru Memerangi Penyebaran Virus Corona

Face Shield: Alternatif Baru Memerangi Penyebaran Virus Corona

Dipublikasikan oleh Pinhome ∙ 17 January 2021 ∙ 6 menit membaca

Selama masa pandemic COVID-19, memakai masker saat keluar rumah  menjadi hal yang wajib dilakukan. Bahkan ada beberapa daerah yang akan memberikan denda secara tegas jika masih ada orang yang bandel tidak mau memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Kini, selain pemakaian masker kain, face shield menjadi solusi dan alternatif baru. Tapi apakah tingkat keefektifan face shield ini bisa disandingkan dengan masker kain seperti yang dipakai kebanyakan kita?

Perjuangan kita bersama untuk menekan angka penyebaran COVID-19 belum selesai. Demi kesehatan dan kepentingan bersama, memakai masker kain menjadi sebuah kewajiban yang tidak hanya penting bagi diri sendiri namun juga orang lain dan lingkungan di sekitar. Akhir-akhir ini marak orang-orang yang memilih untuk mengenakan face shield daripada memakai masker kain. Face shield adalah pelindung wajah yang dapat dibuat dengan mudah menggunakan plastic transparan. Kini, pelindung wajah ini mulai digunakan sebagai alat yang dapat membantu pencegahan penularan virus Corona selain usaha lain yang tak kalah penting seperti menjaga jarak ataupun mencuci tangan.

Tapi.. apakah memang betul pelindung wajah tipe face shield ini lebih efektif atau paling tidak, mampu menandingi tingkat efektivitas masker kain? Apakah face shield mampu digunakan sebagai pendukung atau malah pengganti masker kain bagi masyarakat umum?

Sampai pada saat ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Negara Amerika Serikat sebenarnya baru menyarankan warga negeri Paman Sam ini untuk selalu menggunakan masker saat keluar rumah. Tapi, belum ada arahan lebih lanjut lagi mengenai pelindung wajah tipe face shield. Karena penggunaan face shield lebih umum digunakan oleh para dokter dan tenaga kesehatan lainnya di rumah sakit. Pada majalah Health, dikabarkan para dokter dan ahli kesehatan di kota Iowa, Amerika Serikat, menyatakan pelindung wajah tipe ini memberikan beberapa pilihan yang jauh lebih baik dari pada masker kain. Alasannya pun beragam, face shield dinilai lebih mudah didesinfeksi daripada tipe masker lainnya. Dari sisi pemakai pun, si pengguna akan jauh lebih mudah bernafas saat mengenakannya.

Face shield juga mencegah para pemakainya untuk menyentuh wajah sedangkan disisi lain, masker kain hanya bisa menutupi area hidung, pipi dan juga mulut. Pengguna face shield atau pelindung wajah juga tidak harus bolak – balik membuka pelindung ketika mereka harus berbicara kepada seseorang. Hal yang umum dilakukan oleh orang – orang yang memakai masker. Jadi bisa dibilang, pemakaian pelindung wajah memungkinkan para penggunanya untuk tetap menjaga jarak namun tetap bisa menampilkan berbagai ekspresi wajah dan juga gerakan bibir untuk mengartikan makna komunikasi. Beberapa ahli kesehatan pun menyatakan bahwa pemakaian pelindung wajah dapat secara efektif membantu mengurangi resiko terjangkit virus COVID – 19 ketika penggunanya bisa melakukan jaga jarak dan tetap secara teliti menjaga kebersihan tangan dengan baik.

Tapi, tidak semua ahli menyatakan sepakat dengan premis face shield lebih baik daripada masker. Bruce Polsky, dokter spesialis penyakit menular yang juga menduduki posisi Ketua Kedokteran di NYU Winthrop Hospital menyatakan bahwa pelindung wajah sejatinya merupakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga kesehatan. Menurutnya, pelindung wajah layak digunakan sebagai penambah dari masker wajah, bukan malah menggantikan peran masker. Menurut Bruce Polsky, pemakaian pelindung wajah pun dilakukan dengan menyesuaikan keadaan bagi para petugas kesehatan saat ini. Bisa dibilang, para petugas kesehatan ada di posisi rawan karena terpapar resiko penyebaran aerosol dan tidak mungkin melakukan jaga jarak saat melakukan tugasnya. Karenanya, dibutuhkan pelindung wajah yang bisa memberikan lapisan pelindung ekstra sekaligus memberi perlindungan kepada mata ketika harus melakukan kontak dengan seseorang yang positif ataupun diduga terinfeksi virus COVID – 19. Hal ini disebabkan ketika para petugas kesehatan ini berbicara dengan seseorang dengan jarak yang sangat dekat atau mereka yang sedang bersin, maka COVID – 19 ini dapat memungkinkan ditularkan melalui mata.

Direktur Medis untuk Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit St. Joseph dan Rumah Sakit Misi di daerah Orange County, California, Charles Bailey, mengatakan pelindung wajah juga bisa dibilang lebih tahan lama karena tidak harus langsung dibuang setelah bertemu dan berinteraksi dengan pasien. Hal ini menjadi sangat penting karena sekarang penggunaan Alat Pelindung Diri sangat terbatas, dan pelindung wajah bisa dibersihkan berkali – kali untuk kemudian digunakan kembali oleh para tenaga kesehatan.

Bisa dibilang, pelindung wajah merupakan alat perlindungan yang penting untuk para tenaga kesehatan. Namun, masyarakat umum yang tidak beresiko tinggi karena tidak ada kontak langsung dengan pasien positif COVID – 19, tidak begitu membutuhkan perlindungan tambahan seperti pelindung wajah ini. Bruce Polsky masih menyarankan penggunaan masker kain saat beraktivitas di luar rumah. Perlu diingat, pelindung wajah ini tidak menyediakan penghalang yang cukup untuk bisa memblokir keseluruhan pembuangan pernafasan aerosol dari pemakai dibandingkan dengan masker yang biasa digunakan.

Pelindung wajah juga mempunyai sisi terbuka di daerah samping sehingga membuka kesempatan besar bagi partikel kecil dan aerosol masuk ke dalam tubuh kita. Dan jika diminta untuk memilih antara memakai masker kain atau pelindung wajah untuk penggunaan rutin sehari – hari, baik Bruce Polsky dan Bailey sama – sama menyarankan untuk tetap memakai masker kain saat keluar rumah. Hal ini kembali ke teori awal bahwa jika setiap orang dengan sadar menggunakan masker, maka semua orang secara otomatis juga bisa terlindungi.

Penerapan masker kain dan pelindung wajah saat ini di masyarakat

Sampai saat ini, baik masker kain dan pelindung wajah menjadi dua alat yang dipergunakan secara luas untuk menghadapi pandemi penyebaran virus Corona. Tingkat pemakaian kedua pelindung diri ini pun meningkat tajam setelah tahap tatanan hidup baru atau yang lebih sering disebut sebagai New Normal sudah dimulai. Kedua alat ini dianggap dapat mencegah penyebaran infeksi COVID – 19.

Beberapa penelitian lain yang dilakukan sebelum terjadinya pandemi juga menyebutkan tingkat efektivitas pemakaian masker kain dalam menahan penyebaran flu atau penyakit lainnya yang menular melalui droplet alias tetesan cairan tubuh. Hasilnya, masker kain bisa digunakan sebagai senjata terakhir dan paling ampuh mencegah penularan.

Tapi, baik masker kain ataupun pelindung wajah, sama – sama memiliki fungsi melindungi wajah dari berbagai kemungkinan paparan virus SARS – CoV – 2. Pemakaian masker kain ataupun pelindung wajah dianggap dapat meminimalisir resiko penyebaran virus di antara lingkungan orang tanpa gejala. Pada akhirnya, semua pertimbangan akan kembali ke tangan Pins sendiri. Faktanya, semua tenaga dan ahli kesehatan mengamini efektivitas dari pemakaian masker kain saat keluar rumah. Namun, pendapat masih belum bisa diseragamkan antara satu ahli kesehatan dengan ahli kesehatan lainnya tentang efektivitas sebuah pelindung wajah.

Bagi Pins yang sedang bingung mencari rumah yang tepat, ayo temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk Anda Agen properti independen atau Kantor Properti.

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Anda kemudahan membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Tags :

Bagikan Artikel