Pinhome

Pakaian Adat Jawa Tengah

Dipublikasikan oleh Ramadhanti ∙ 7 July 2021 ∙ 10 menit membaca

Guratgarut.com – Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi yang dijuluki sebagai jantung budaya Jawa. Ada banyak kebudayaan yang berada di provinsi ini seperti wisata, rumah adat, kesenian, alat musik, lagu daerah, senjata dan pakaian adat Jawa Tengah.

Saat pertama kali kita mendengar kata pakaian adat Jawa Tengah, pasti hal pertama yang terlintas di dalam kepala kita yaitu batik atau kebaya.

Tetapi kenyataannya pakaian adat Tengah cukup beragam dan tentu saja memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda dengan daerah lain karena memiliki latar budaya yang berbeda.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu kebudayaan di provinsi Jawa Tengah yaitu pakaian adatnnya. Untuk selengkapnya simak tulisan berikut ini.

Baca Juga: Pakaian tradisional Bali

Mengenal Pakaian Adat Tradisional Jawa Tengah

pakaian adat jawa tengah
Sumber: pinterest.co.uk

Pakaian adat Jawa Tengah merupakan peninggalan atau warisan budaya nenek moyang yang sejak dari dulu dipakai dalam berbagai aktifitas kasual ataupun formal. Pakaian adat ini sejatinya ialah merupakan salah satu simbol kebudayaan Jawa Tengah yang cukup terkenal, seperti batik yang dikenal di seluruh dunia.

Pakaian adat Jawa Tengah ini memiliki ciri khas berupa pakaian yang kental dengan nuansa kerjaan atau keraton Jawa. Selain itu terdapat berbagai aksesoris yang membuat pakaian ini terlihat lebih cantik dan menawan.

Tetapi, karena perkembangan jaman dan teknologi, lambat laun pakain ini tidak lagi digunakan oleh para generasi muda bangsa kita. Adapun orang yang masih menggunakanya yaitu para orang tua atau orang yang sangat peduli pada kebudayaan Jawa Tengah.

Aksesoris dan Ciri Khas Pakaian Adat Tradisional Jawa Tengah

baju adat jawa tengah
Sumber: plaminan.com

Sebelum kita membahas tentang jenis pakaian adat Jawa Tengah, alangkah baiknya kita membahas aksesoris yang menjadikan ciri khas pada pakaian adat ini, yaitu :

Baca Juga: Pakaian adat Sumatera Utara

1. Blangkon

Blangkon berasal dari kata blangko yang merupakan istilah untuk mengatakan sesuatu yang praktis / siap dipakai bagi masyarakat Jawa. Blangkon merupakan tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang digunakan oleh para pria sebagai salah satu aksesoris atau pelengkap pada pakaian adat tradisional Jawa.

Pada jaman dahulu blangkon tidak berbentuk bulat dan siap dipakai, melainkan berupa ikat kepala yang memiliki proses pengikatan yang cukup rumit. Tetapi seiring berjalanya waktu blangkon berinovasi menjadi ikat kepala yang siap pakai.

Terdapat beberapa jenis blangkon, seperti :

  • Blangkon Ngayogyakarta,
  • Blangkon Surakarta,
  • Blangkon Kedu,
  • dan Blangkon Banyumasan.

Untuk beberapa tipe blangkon, ada bagian belakang yang disebut tonjolan. Tonjolan tersebut menandakan model rambut pria pada masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka pada bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut terlihat di bagian belakang blangkon.

Konon rambut panjang tersebut disembunyikan karena, rambut panjang merupakan suatu aib yang harus disembunyikan. Oleh karena itu blangkon digunakan. Selain itu blangkon memiliki dua buah ikatan yang harus diikat dengan kuat yang bermakna pentingnya berteguh diri pada pendirian yang kuat.

Dua ikatan tadi juga mempunyai makna filosofi pada dua kalimat syahadat pada agama Islam.

Namun, sekarang lilitan rambut panjang yang disebut tonjolan atau mondholan sudah dimodifikasi karena kebanyakan pria berambut pendek, dengan membuat tonjolan tadi dijahit langung pada bagian belakang.

2. Keris

Keris merupakan senjata tradisional Jawa Tengah yang sangat khas. Tetapi keris yang digunakan pada pakaian adat, bukanlah keris asli. Melainkan hanya replika yang terbuat dari sepotong kayu yang diukir menyerupai keris asli.

Keris tersebut berfungsi sebagai aksesoris atau tambahan pada beberapa pakaian adat Jawa Tengah seperti, baju surjan yang diletakan pada bagian belakang atau punggung. Pemakaian keris tersebut merupakan suatu keharusan pada beberapa pemakaian pakaian adat.

3. Stagen

Stagen merupakan sebuah kain panjang yang digunakan untuk menahan jarik agar tidak lepas dan melorot. Stagen merupakan sebuah pelengkap yang dikenakan sebelum memakai kebaya atapun beskap.

Stagen digunakan dengan cara melilitkan kain panjang pada perut yang berfungsi seperti korset. Oleh karena itu stagen dapat membuat penggunanya terlihat sedikit lebih langsing pada saat digunakan.

Namun penggunaan stagen sekarang jarang sekali, karena selain stagen sudah sangat sulit ditemukan, kain ini sangat sulit sekali digunakan.

4. Kuluk

Kuluk merupakan penutup kepala yang mempunyai fungsi yang sama dengan blangkon, tetapi penutup kepala ini hanya digunakan pada saat upacara pernikahan saja.

Kuluk merupakan kopiah kebesaran yang memiliki bentuk tinggi dan kaku. Disebut kopiah kebesaran karena, pada jaman dahulu kuluk hanya digunakan oleh para raja-raja untuk menghadiri acara-acara tertentu.

5. Kain Pipih Tanjung

Kain ini merupakan kain yang dililitkan dari kiri ke kanan di pinggang yang berfungsi untuk menutupi stagen yang sebelumnya sudah digunakan. Selain itu kain ini terbuat dari kain jarik yang bermotifkan batik.

6. Kain Jarik

Kain jarik merupakan kain yang mempunyai motif batik dengan berbagai corak. Jarik sendiri biasanya digunakan untuk bagian bawahan untuk menupi kaki, adapun fungsi jarik ialah :

  • Sebagai penunjuk status sosial seseorang, karena motif jarik tertentu dapat menunjukan status sosial orang yang menggunakanya.
  • Sebagai penentu sesorang dari mana ia berasal, karena dari motif yang digunakan seseorang dapat dikenali darimana ia berasal.

Selain itu jarik seringkali digunakan oleh para sesepuh orang Jawa untuk keseharian mereka. Tetapi pada jaman sekarang fungsi jarik bertambah tidak hanya sebagai pakaian, tetapi dapat digunakan sebagai bahan koleksi.

Jenis Pakaian Adat Tradisional Jawa Tengah

pakaian adat jawa tengah
Sumber: cateringmagelang.wordpress.com

Ada beberapa jenis pakaian adat tradisional di provinsi Jawa Tengah dengan bahan yang cukup beragam, diantaranya ialah :

NoMacam Macam Pakaian Adat Jawa Tengah
1Surjan
2Kebaya
3Batik
4Jawi Jangkep
5Basahan
6Beskap
7kanigaran

1. Surjan

Surjan merupakan pakaian adat resmi untuk kaum pria di Jawa Tengah. Nama surjan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti baju jas laki-laki khas Jawa berkerah tegak, berlengan panjang dan terbuat dari bahan lurik atau cita berkembang.

Terdapat dua macam surjan yang ada, diantaranya ialah :

  1. Surjan Lurik. Surjan ini disebut surjan lurik karena terbuat dari bahan dasar kain lurik, dimana kain tersebut bermotif garis-garis kecil berbahan dasar kain katun kasar.
  2. Surjan Ontrokusuma. Sedangkan untuk surjan jenis ini memiliki motif bunga seperti namanya kusuma yang berarti bunga. Surjan ini hanya digunakan oleh pada bangsawan yang terbuat dari bahan dasar kain sutra.

Menurut sejarah, surjan sudah ada sejak jaman kerajaan Mataram yang dibuat pertama kali oleh salah satu Walisongo yaitu Sunan Kalijaga. Oleh karena itu pakaian ini seringkali disebut pakaian taqwa karena memiliki makna, seperti :

  • 6 buah kancing pada kerah, yang melambangkan rukun iman.
  • 2 buah kancing pada dada, yang melambangkan kalimat syahadat.
  • 3 buah kancing tak terlihat pada bagian dada, yang melambangkan nafus manusia yang harus dikendalikan.

2. Kebaya

Kebaya merupakan pakaian yang sangat terkenal di Indonesia dan beberapa negara di Dunia. Kebaya itu sendiri ialah sejenis blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis dan dapat dipadukan dengan kain batik, sarung, atau songket.

Kata kebaya sendiri berasal dari kata arab abaya yang berarti pakaian. Tetapi ada yang menyebutkan berasal dari kata kebyak atau mbayak dari masyarakat Jawa.

Pada tahun 1500-1600 penggunaan kebaya dibatasi yang hanya dapat digunakan oleh keluarga kerjaan Jawa seperti Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Namun seiring berjalanya jaman, penggunaan kebaya menjadi salah satu pilihan sebagai pakaian formal dalam berbagai acara.

Selain itu kebaya mengalami berbagai perubahan desain yang digunakan pada berbagai acara formal seperti perayaan, kelulusan sekolah, pesta formal dan sebagai seragam resmi pramugari dari berbagai maskapai.

3. Batik

Batik adalah kain bergambar dengan cara pembuatannya yang khusus dengan cara menuliskan malam (lilin) pada kain dengan berbagai proses pengolahan yang khas.

Seperti namanya batik berasal dari bahasa Jawa yaitu ambhatik, dari kata amba yang berarti lebar, luas kain dan titik yang berarti matik yang kemudian berkembang menjadi batik.

Jadi kalau diartikan batik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pembuatan titik-titik tertentu pada kain dengan menggunakan proses pemalaman yang menghasilkan motif atau gambar.

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang merupakan salah satu bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa).

Setiap daerah memiliki karakteristik motif dan corak nya masing-masing yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan latar budaya setempat.

Pada jaman dahulu ragam corak batik sangat terbatas, dan beberapa corak hanya digunakan oleh kalangan tertentu seperti keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Tetapi seiring perkembangan jaman dan diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia pada 2 Oktober 2009, batik kian terkenal dan populer di berbagai kalangan masyarakat.

Oleh karena itu banyak sekali ragam pakaian batik tidak hanya digunakan untuk kebaya saja, tetapi digunakan pada gaun, atasan, kemeja dan jenis lainya yang menjadikan batik sebagai tren baru dalam berbusana.

Selain itu pemakain batik menjadi pakaian formal, bahkan tidak sedikit instansi-instansi pemerintah ataupun swasta menggunakan batik sebagai pakaian wajib mereka.

4. Jawi Jangkep

Jawi jangkep merupakan pakaian adat resmi provinsi Jawa Tengah sebagai pakaian khusus yang digunakan oleh pria untuk mendampingi pakaian kebaya yang digunakan oleh wanita. Pakaian ini sendiri berasal dari adat Keraton Kasunanan Surakarta.

Terdapat dua buah jenis pakaian adat ini yang dapat dibedakan dari fungsi pakaian tersebut. Yang pertama ialah jawi jangkep yang digunakan pada acara-acara yang bersifat formal, pakain ini memiliki beskap bermotif bunga atau sulur-sulur, tetapi sekarang terdapat juga jawi jangkep yang memiliki beskap berwarna hitam polos dengan hiasan bros.

Yang kedua ialah jawi jangkep padintenan (keseharian), sesuai namanya pakaian jawi jangkep padintenan merupakan pakaian keseharian yang dapat digunakan pada acara-acara non-formal, pakaian ini dapat menggunakan beskap berwarna selain hitam.

Pada umunya pakaian jawi jangkep terdiri dari berbagai bagian atau elemen penyusun pakaian, yaitu :

  1. Penutup kepala berupa destar atau blankon.
  2. Pakaian atasan dengan bagian belakang lebih pendek untuk penempatan keris atau beskap.
  3. Kain Stagen.
  4. Ikat pinggang.
  5. Kain Jarik sebagai bawahan.
  6. Keris.
  7. Selop sebagai alas kaki.
  8. Kalung bunga melati (jika digunakan untuk pengantin).

5. Basahan

Basahan merupakan pakaian adat pengantin yang berasal dari keraton Surakarta. Pada jaman dahulu pakaian ini hanya dapat digunakan oleh kalangan tertentu seperti keluarga dan kerabat keraton saja. Tetapi seiring perkembangan jaman, busana ini dapat dikenakan oleh masyarakat umum.

Busana ini juga seringkali disebut dodot/dodotan karena kedua mempelai menggunakan kain kemben panjang dan lebar dengan berbagai corak batik bernama kain dodot/kampuh. Terdapat ciri khas yang unik, yaitu kedua pengantin tidak menggunakan baju, melainkan hanya menggunakan kain kemben. Kemben / kain dodot merupakan kain pokok pengganti baju untuk menutupi bagian-bagian tertentu.

Penggunaan kain stagen, ikat pinggang, kain jarik dan lainya digunakan sebagai pelengkap pada pakaian adat ini. Terdapat juga aksesoris seperti perihiasan yang digunakan. Untuk mempelai pria digunakan perhiasan seperti kalung ulur, timang/epek, cincin, bros dan buntal. Sedangkan untuk pengantin wanita seperti, cunduk mentul, jungkat, centung, kalung, gelang, cincin, bros, subang dan timang/epek.

6. Beskap / Jas Tutup

Beskap pada awalnya merupakan salah satu bagian dari pakaian jawi jangkep, tetapi sesuai perkembangannya pakaian ini seringkali digunakan terpisah. Beskap sudah ada dari abad ke-18 sejak jaman penjajahan Belanda di kalangan kerajaan di wilayah Vorstenlanden.

Beskap memiliki beberapa varias yang berbeda, seperti :

  • Beskap gaya Solo
  • Beskap gaya Yogya
  • Beskap landung
  • Beskap gaya kulon

Beskap di atas memiliki perbedaan masing-masing, tetapi terdapat ciri khas umum pada beskap seperti, berbentuk kemeja tebal, tidak berkerah lipat, berwarna gelap dan polos. Selain itu pada bagian depan tidak berbentuk simetris, dengan pola kancing menyamping.

Sedangkan untuk bawahanya dapat dipadukan dengan kain jarik untuk menutupinya. Tidak lupa dengan aksesoris berupa keris yang diletakan di bagian gelakang.

7. Kanigaran

Kanigaran sebetulnya merujuk pada dandanan khusus pengantin dari keluarga kerajaan yang disebut paes ageng kanigaran. Pada mulanya riasan ini hanya digunakan oleh keluarga dan kerabat kerjaan saja, tetapi pada masa pemerintahan Sultan HB IX, riasan ini dapat digunakan oleh masyarakat umum.

Seperti halnya basahan, pakaian yang digunakan pada riasan kanigaran ialah kain dodot/kampuh sebagai bawahan.

Tetapi bedanya ialah pada riasan kanigaran terdapat atasan berupa baju yang tebuat dari bahan beludru hitam. Pengantin yang menggunakan busana ini harus menggunakan riasan paes ageng yang memiliki aturan khusus dan perias yang sudah terlatih.

Baca Juga: Pakaian adat Nusa Tenggara Timur

Penutup

Itulah penjelasan mengenai beberapa ciri khas dan jenis pakaian adat Jawa Tengah yang dapat kita sajikan. Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita harus terus menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut, sehingga kebudayaan ini tidak punah dan menjadi sejarah yang hilang.

Hal yang sering ditanyakan:

Apa nama pakaian adat dari Jawa Tengah?

Jawa Tengah memiliki berbagai macam atau jenis pakaian adat, diantaranya surhan, basahan, batik, kebaya, beskap dll.

Apa nama pakaian adat dari Solo?

Solo terletak di daerah Jawa Tengagah, ada bebrapa pakaian adat yang terkenal dari Solo, seperti kebaya dan basahan.

Tags :

Bagikan Artikel