Pinhome

Lifestyle

Pakaian Adat Sulawesi Utara

Dipublikasikan oleh Ramadhanti ∙ 31 August 2021 ∙ 6 menit membaca

Guratgarut.com – Sulawesi Utara merupakan kawasan yang sangat kaya dengan aneka seni dan budaya yang khas seperti tarian dan budaya lainya seperti, sastra, senjata, rumah tradisional hingga pakaian adat tradisional Sulawesi Utara.

Dalam masyarakat Sulawesi Utara pakaian adat merupakan pakaian yang sangat dihargai dan dihormati, karena menunjukan status sosial seseorang dalam tatanan masyarakat tersebut.

Ada beberapa busana atau pakaian yang tidak boleh digunakan oleh masyarakat umum.

Pakaian adat bukan saja sebagai busana yang dikenakan pada acara penting atau sehari-hari, melainkan juga sebagai jati diri masyarakat yang mengenakanya.

Untuk lebih lengkapnya kita akan membahas satu per satu dari berbagai jenis pakaian adat tradisional Sulawesi Utara.

Macam dan Jenis Pakaian Adat Sulawesi Utara

pakaian adat tradisional sulawesi utara
Sumber: reqnews.com

Sulawesi Utara memiliki suku dengan latar budaya yang beragam, seperti suku Minahasa, Suku Bolaang Mongondow, Suku Sangihe, Suku Talaud dan Suku Siau.

Walaupun begitu pakaian adat di Sulawesi Utara memiliki busana yang hampir sama satu dengan yang lainya. Yang membedakanya ialah aksesoris dan perlengkapan yang dikenakan.

Terdapat beberapa macam dan jenis pakaian adat Sulawesi Utara yang sudah kami rangkum, diantaranya ialah :

NoPakaian Adat Tradisional Sulawesi Utara
1Pakaian Adat Minahasa (Bajang)
2Pakaian Adat Kohongian
3Pakaian Adat Gorontalo
4Pakaian Adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko
5Pakaian Adat Sangihe Talaud
6Pakaian Adat Simpal
7Pakaian Adat Bolaang Mangondow

1. Pakaian Adat Minahasa (Bajang)

pakaian adat minahasa
Sumber: manadoterkini.com

Seperti namanya pakaian adat minahasa merupakan busana adat tradisional dari Minahasa yang menjadi ciri khas pada provinsi Sulawesi Utara.

Berdasarkan beberapa laporan sejarah, peradaban suku ini lebih maju dibandingkan dengan suku lain pada masa lalu.

Hal itu dapat dibuktikan dari beberapa hal, seperti pada aspek pengetahuan dan keterampilan dalam proses pemintalan kapas menjadi kain. Kain yang dihasilkan lebih nyaman ketika digunakan untuk busana sehari-hari.

Busana tersebut disebut dengan nama Bajang.

Kita mengetahui bahwa bajang digunakan sehari-hari, sedangkan untuk menghadiri dan mengikuti acara-acara seperti upacara adat, masyarakat Minahasa menggunakan pakaian khas yang lebih modern dengan ciri khas :

  • Baju dengan bawahan sarung,
  • Dilengkapi dasi serta daster penutup kepala yang berbentuk segitiga,
  • Untuk perempuan menggunakan kebaya dengan bawahan kain yang berwarna (yapon),
  • Menggunakan perhiasan yang diselipkan ke sanggulan rambut, leher dan telinga.

2. Pakaian Adat Kohongian

Pakaian Adat tradisional Kohongian
Sumber: kumpulanilmu.com

Pada masa lampau terdapat aturan pada pakaian adat satu ini yang dimana tidak sembarang suku atau masyarakat dapat memakainya.

Hanya masyarakat dengan status sosial satu tingkat dibawah kaum bangsawan yang dapat menggunakan busana tersebut.

Tetapi pada masa sekarang aturan tersebut belum jelas masih dipatuhi atau digunakan, karena sudah jarang masyarakat menganggap kasta masih mempunyai tempat di zaman modern ini.

3. Pakaian Adat Tradisional Gorontalo

Pakaian Adat Tradisional Gorontalo
Sumber: berbol.com

Walaupun pada tahun 2000 provinsi Gorontalu sudah memisahkan diri dari provinsi Sulawesi Utara, pakaian adat Gorontalo masih banyak diakui sebagai pakaian adat Sulawesi Utara.

Pakaian ini merupakan pakaian adat pada masyarakat Gorontalo yang terbuat dari bahan kapas mentah dan melalui proses pemintaian sampai menjadi benang.

Untuk busana wanita, mempunyai bentuk kebaya tanpa motif dan rok / sarung pada bagian bawah dengan aksesoris gelang padeta, ikat punggang dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk busana pria, pakaian ini mempunyai lengan pendek dengan aksesoris tambahan berupa tudung makuta, kalung bakso dan pasimeni.

Terdapat sedikit kemiripan dengan baju Melayu, terutama dengan pakaian adat asal Riau.

Busana ini digunakan masyarakat untuk menghadiri acara, seperti acara pernikahan. Terdapat filosofi yang terdapat pada busana adat ini, tergantung dari warna yang digunakan, seperti :

  • Ungu, berarti kewibawaan dan keanggunan.
  • Hijau, berarti kesuburan, kediaman, kesejahteraan dan kerukunan.
  • Kuning emas, berarti kemuliaan, kejujuran, kesetiaan dan kebesaran.
  • Merah, berarti keberanian dan tanggung jawab.
  • Coklat, berarti kematian atau kuburan.
  • Hitam, berarti keteguhan dan ketakwaan pada yang maha kuasa.
  • Putih, berarti kesucian dan kedukaan.

4. Pakaian Adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko

Pakaian Adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko
Sumber: borneochanel.com

Pakaian tonaas wango dan walian wangko memiliki warna hitam sebagai warna dominan yang dihiasi motif bunga padi yang berada leher baju, ujung lengan dan sepanjang baju bagian depan yang terbelah.

Tonaas wangko dan walian wangko sebenarnya jenis yang sama dan berfungsi sebagai pakaian pemuka adat.

Tetapi walian wangko pada pria sudah dilakukan proses modifikasi pada bentuknya yang lebih panjang seperti jubah.

Busana ini adalah pakaian kemeja dengan lengan panjang yang kerahnya tinggi dan berkancing tanpa saku.

Semua motif dari baju berwarna kuning keemasan, sebagai pelengkap pakaian ini seringkali disandingkan dengan topi berwarna merah dan dihiasi motif bunga padi.

Sedanglan untuk pakaian wanita, menggunakan kebaya panjang berwarna putih atau ungu, kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota.

Dipadukan dengan selempang warna kuning atau merah, kalung leher, selop dan sanggul.

5. Pakaian Adat Sangihe Talaud

Pakaian Adat Sangihe Talaud
Sumber: wadaya.rey1024.com

Pakaian satu ini berasal dari suku Sangihe Talaud yang bernama Laku tepu dan dapat digunakan oleh siapa saja.

Laku tepu merupakan busana lengan panjang dengan untaian yang cukup rumit.

Pakaian tersebut digunakan dengan aksesoris tambahan berupa popehe (ikat pinggang), bandang (selendang di bahu), paporong (penutup kepala) dan kahiwu (rok rumbai). Biasanya busana tersebut berwarna dasar warna yang cerah.

Laku tepu terbuat dari serat kofo (semacam tanaman pisang) dan serat pisang yang kuat. Kemudian serat tersebut ditenun, dipintal dan dijahit menjadi selembar pakaian.

6. Pakaian Adat Simpal

Pakaian Adat Simpal
Sumber: hipwee.com

Pakaian adat simpal merupakan busana yang hampir mirip dengan fungsi busana kohongian.

Terdapat aturan khusus dalam pemakian pakaian adat ini yang dimana hanya diperuntukan bagi sebagaian masyarakat.

Yang dimana orang-orang tersebut memiliki status sosial yang tinggi dan termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah di kerajaan. Busana ini seringkali digunakan pada saat upacara pernikahan saja.

7. Pakaian Adat Bolaang Mangondow

Pakaian Adat Bolaang Mangondow
Sumber: portalbmr.com

Suku Bolaang Mangondow merupakan salah satu etnis suku di Sulawesi Utara yang membentuk kerajaan pada masa lampau.

Oleh karena itu kemajuan kebudayaan pada kerajaan tersebut cukup pesat dan menghasilkan beragam pakaian adat dan menjadi warisan budaya masyarakat setempat.

Busana yang beragam itu seperti pakaian bangsawan, gaun pengantin pria, gaun pengantin pria dan baju rakyat biasa.

Khusus untuk baju rakyat biasa terbuat dari kulit kayu atau pelepah nenas yang diambil seratnya yang disebut lanut dan kemudian ditenun menjadi kain.

Kain tersebut kemudian dijahit dan menjadi pakaian sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat suku Bolaang Mangondow.


Artikel Terkait:


Penutup

Demikianlah ulasan dan penjelasan mengenai beberapa pakaian adat tradisional dari Sulawesi Utara.

Semoga menjadi penambah wawasan kita semua mengenai budaya Indonesia.

Jika ada yang ingin disampaikan, dapat tulis di kolom komentar atau kirim pesan melalui guratgarutcom@gmail.com.

Tags :

Bagikan Artikel