Kenapa Harga Crypto Turun Semua? Ini 5 Faktor Penentunya

Dipublikasikan oleh Yurinda Dini ∙ January 5, 2023 ∙ 6 menit membaca

Sejak akhir tahun 2021 lalu, harga Bitcoin dan berbagai aset kripto lainnya terus menurun. Pastinya hal ini menimbulkan banyak tanya dan rasa khawatir. Terlebih, para investor sebelumnya pernah menganggap Bitcoin sebagai nilai untuk melindungi inflasi dengan jumlahnya yang hanya 21 juta koin. Lalu, kenapa harga crypto turun semua? 

Bahkan, tidak hanya Bitcoin dan jenis aset kripto lainnya, harga saham milik berbagai perusahaan teknologi seperti Netflix dan Facebook juga mengalami kemerosotan harga. Penurunan ini tercatat mencapai angka 68% dan 45% pada periode terakhir. Apa yang menjadi penyebab penurunan aset kripto dan jenis saham lainnya?

Baca juga: Apa itu Crypto Wallet? Pengertian dan Cara Memakainya

Naik Turunnya Harga Aset Kripto

(Pexels)

Sejak mengalami lonjakan harga sekitar awal tahun 2021 lalu, jumlah investor kripto di Indonesia, tak terkecuali Bitcoin, terus mengalami peningkatan. Terhitung pada bulan Februari 2022, data dari Bappebti mencatat jumlah investor kripto di Tanah Air mencapai angka 12 juta. Tahun sebelumnya, angka tersebut hanya berada pada kisaran 5,5.

Angka ini sudah pasti jauh melebihi jumlah investor saham, yaitu sekitar 8,1 juta pada bulan dan tahun yang sama. Salah satu hal yang menjadi pemicunya adalah naiknya harga Bitcoin hingga mencapai dua kali lipat. Sekitar akhir tahun 2020 lalu, harganya berkisar 27 ribu dolar. Menjelang pertengahan tahun 2022, harga Bitcoin telah mencapai 64 ribu dolar AS. 

Tidak hanya itu, munculnya banyak proyek berbasis kripto, juga berperan dalam bertambahnya jumlah investor kripto. Ini termasuk token L1 seperti Cardano atau ADA yang nilainya melambung hingga 2.600% dan token gaming seperti Axie yang nilainya melonjak sampai 4.600% pada pertengahan tahun 2021 lalu. 

Meski pernah kembali mengalami penurunan pada harga 31 ribu dolar AS sekitar pertengahan tahun 2021, Bitcoin lagi-lagi berhasil berada pada posisi all-time high pada bulan November 2021 dengan kisaran harga sampai 68 ribu dolar AS. 

Alasan Kenapa Harga Crypto Turun Semua

Sayangnya, sejak akhir bulan November 2021, harga aset kripto Bitcoin terus mengalami penurunan. Sekitar awal bulan Juni 2022 kemarin, harga Bitcoin berada pada kisaran 30 ribu dolar AS atau mengalami penurunan sampai 40% dari all-time high periode November 2021. Selain itu, semua pasar kapital kripto juga menurun sampai 1,22 triliun dolar AS. 

Lalu, apa yang menjadi alasan kenapa harga crypto turun? Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi potensinya: 

Kebijakan The Fed untuk menaikkan suku bunga 

(Pexels)

Tanggal 4 Mei 2022, Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) mengumumkan bahwa telah terjadi kenaikan suku bunga sekitar 50 basis poin atau setara dengan 0,5%. Ini adalah naiknya suku bunga kedua dari tujuh kebijakan yang rilis tahun ini. 

Sebelumnya, sekitar bulan Maret 2022, Federal Reserve atau The Fed juga mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sampai 25 basis poin atau setara dengan 0,25%. Ini adalah kenaikan pertama sejak tahun 2018 silam. Sejak saat itu, pasar saham sekaligus kripto mengalami banyak reaksi negatif.

Misalnya, menguatnya tekanan pada pasar kripto dan ekuitas yang membuat Bitcoin mengalami penurunan nilai 6,5% hanya beberapa hari setelah FOMC merilis pengumuman tersebut. Tak berselang lama, The Fed lagi-lagi menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin yang menjadi kenaikan paling besar selama 28 tahun terakhir. 

Setelahnya, pasar kripto dan saham lain menunjukkan reaksi yang positif. Namun, harga Bitcoin selanjutnya terus menurun dan jatuh. Sampai bulan Juni 2022 kemarin, harga Bitcoin menurun sampai 29%, sedangkan ETH turun sampai 31%. Kapitalisasi pasar Bitcoin juga menurun sampai 355 miliar dolar AS dengan penurunan dominasi lebih dari 44%.

Tingginya korelasi antara pasar ekuitas dan kripto

(Pexels)

Alasan kedua kenapa harga crypto turun semua adalah korelasi antara pasar ekuitas dan kripto yang tinggi, terlebih NASDAQ. Ini artinya, pasar ekuitas yang bergerak negatif akan membuat pasar kripto mengalami sensitivitas dan penurunan. Selama beberapa tahun, para investor menganggap Bitcoin sebagai aset pelindung terhadap kondisi inflasi.

Namun, hal ini tidak dapat lagi terjadi pada tahun 2022. Sebab, pada bulan Januari kemarin, Bitcoin menunjukkan tingkat hubungan yang paling tinggi dengan NASDAQ dan S&P 500 sejak tahun 2020 lalu. Seiring dengan naiknya tingkat suku bunga AS, aset yang memiliki tingkat fluktuasi dan risiko tinggi seperti saham dan kripto akan mengalami tekanan jual lebih berat daripada bentuk aset lainnya. 

Baca juga: Apa itu Staking Crypto? Simak Penjelasan Detailnya!

Rasa khawatir terhadap resesi

(Pexels)

Naiknya tingkat suku bunga membuat pinjaman menjadi lebih mahal untuk mencegah menekan inflasi dengan menekan permintaan. Namun, naiknya suku bunga justru mendatangkan rasa takut akan hadirnya resesi. Sebab, kebijakan ini akan memicu lemahnya sektor ekonomi. 

Rasa takut akan datangnya resesi menjadi salah satu hal yang menyebabkan pasar kian melemah, baik itu kripto maupun saham. Inilah sebab lain kenapa harga crypto turun semua. Rasa cemas akan hadirnya resesi menyebabkan minat untuk investasi mengalami penurunan, terutama investasi pada sektor yang memiliki risiko tinggi seperti kripto dan saham. 

Geopolitik antara Rusia dan Ukraina

(Pexels)

Sekitar awal bulan Juni kemarin, Bank Dunia merilis informasi bahwa mencegah terjadinya resesi menjadi hal yang sangat sulit selama perang antara Rusia dan Ukraina belum usai. Gejolak dua negara tersebut memicu terjadinya krisi bahan bakar dan pangan. Naiknya harga komoditas secara signifikan menjadi efek paling buruk selama konflik berlangsung. 

Hari pertama konflik dua negara bulan Februari kemarin, muncul kepanikan pada pasar. Hal ini membuat para investor cenderung menghindari risiko dengan menjual semua aset yang punya risiko tinggi, seperti kripto dan saham. Bitcoin yang masuk dalam bentuk investasi berisiko mengalami penurunan harga secara signifikan sampai 34 ribu dolar AS dari angka semula 40 ribu dolar AS. 

Sementara itu, pada waktu yang bersamaan, saham global juga turut mengalami penurunan tajam. Sementara itu, emas, dolar, dan harga minyak justru melambung karena para investor saling berebut aset yang mungkin aman. 

Baca juga: Apa itu Airdrop dalam Crypto? Lengkap dengan Cara Memakainya

UST dan Luna yang mengalami crash

(Pexels)

Alasan terakhir kenapa harga crypto turun adalah UST yang mengalami depeg atau tidak lagi memiliki nilai yang sama dengan dolar AS. Angkanya bahkan turun sampai 0,06 dolar AS pada awal Mei 2022 kemarin. Salah satu dampaknya adalah terjadi hiperinflasi pada token Luna agar nilai UST lebih stabil. 

Alhasil, token Luna harganya sangat jatuh, bahkan mencapai 100% pada level 0,0002 dolar AS. Selain karena kondisi makro dan geopolitik, berbagai kondisi dalam industri kripto tersebut juga memengaruhi penurunan harga aset kripto. Harga Bitcoin mengalami penurunan sampai 27 ribu dolar AS untuk pertama kali pada puncak depeg UST sejak bulan Juli tahun 2021. 

Periode ini sama dengan waktu ketika Luna Foundation Guard atau LPG menjual sebanyak 80 ribu aset Bitcoin cadangan untuk mengatasi terjadinya depeg. Sayangnya, penjualan secara masif ini justru membuat harga Bitcoin semakin merosot, termasuk harga semua aset pada pasar kripto. 

Inilah sebabnya, kalau kamu berniat untuk memulai investasi pada sektor Bitcoin atau bentuk investasi lainnya, sebaiknya kamu cari informasi sebanyak mungkin lebih dulu. Hal ini akan membantu kamu supaya terhindar dari kerugian, mengingat Bitcoin dan saham menjadi bentuk investasi yang tinggi risiko.

Feature Source Image: Pexels


Temukan pilihan rumah dan apartemen terlengkap di Aplikasi Pinhome. Cek properti pilihan kami, Perumahan Smart Cluster Rawa Badak dan temukan keunggulan, fasilitas menarik dan promo menguntungkan lainnya cuma di Pinhome! Cari tahu juga tips penting persiapan beli rumah dan KPR di Property Academy by Pinhome.

Hanya Pinhome.id yang memberikan kemudahan dalam membeli properti. Pinhome PINtar jual beli sewa properti.

Artikel Pilihan

Berita Pinhome
Berita Pinhome Hadir di Denpasar, Pinhome Home Service Solusi Satu Langkah Mudah Bersih-Bersih Rumah

Jakarta, 9 Juli 2021 – Layanan Pinhome Home Service (PHS), hasil kolaborasi Pinhome dengan PT. Ap

Berita Pinhome
Berita Pinhome Hadir di Bandar Lampung dan Yogyakarta, Pinhome Home Service: Solusi Satu Langkah Mudah Bersih-bersih Rumah

Jakarta – Layanan Pinhome Home Service (PHS), hasil kolaborasi Pinhome dengan PT. Aplikasi 

Berita Pinhome
Berita Pinhome Buka Booth Free Massage di Acara CoHive Pop Up Market, Layanan Pinhome Home Service Diminati Lebih dari 150 Orang

Jakarta, 14 Juli 2022 - Pinhome selaku e-commerce properti, penyedia jasa rumah tangga, dan gaya hi

Berita Pinhome
Berita Pinhome KPR Lewat Pinhome, Agen Properti Bisa Klaim Seluruh Komisi!

Jakarta, 9 Agustus 2021 – Pinhome sebagai e-commerce properti memiliki misi untuk menjadikan prop

Berita Pinhome
Berita Pinhome Mau Bangun Usaha? Berikut Tips Pengecekan Properti untuk Tempat Usaha dari Pinhome

Jakarta, 1 November 2021 – Memahami aspek hukum pada properti merupakan hal yang krusial sebelum

Artikel Terkini

Lifestyle
Lifestyle 14 Aplikasi Membuat Komik Terbaik dan Terlengkap

Terinspirasi menjadi seorang penulis komik? Atau sekedar iseng-iseng mengisi waktu luang dengan mem

Gadget
Gadget 12 Cara Cek HP Xiaomi Asli dan Palsu Paling Akurat

Xiaomi memang sudah dikenal oleh publik sebagai brand smartphone berkualitas yang dibanderol dengan

Gadget
Gadget Cara Buat Akun Gmail di HP, Praktis dan Cepat

Memiliki akun Gmail sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh pengguna gawai pintar di dunia. Ini

Gadget
Gadget 13 Cara Mengatasi Memori HP Penuh yang Efisien

Memiliki smartphone dengan kapasitas internal memori yang besar memang ada banyak benefitnya. Tapi,

Properti
Properti Mending Mana Beli Rumah Tanpa Perantara vs Melalui Agen

Ada banyak cara yang bisa kamu pilih untuk membeli rumah impian. Mulai dari survei langsung ke peru

Ikuti Media Sosial Kami

Pinhome Indonesia