Pinhome

Lifestyle

Apa Itu Impostor Sindrom? Berikut Penjelasannya

Dipublikasikan oleh Yusuf Ammar Ilman ∙ 23 May 2021 ∙ 5 menit membaca

Setiap orang menginginkan hidup menjadi orang sukses. Punya banyak uang, pekerjaan mapan dan hidup bahagia. Namun, apakah kamu pernah merasakan bahwa apa yang telah kamu capai bukanlah sebuah kebanggaan dan juga merasa tidak pantas untuk mendapatkannya?.

Jika benar, kamu merasa cemas dan tidak pantas tandanya kamu mengidap impostor sindrom.

Baca juga : Olahraga Dulu atau Sarapan Dulu?

Impostor sindrommasuk ke dalam kategori gangguan kecemasan. Hanya saja istilah ini tidak begitu terkenal. Impostor sindrom bisa dibilang sindrom penipu. Semua ini mengacu pada satu fenomena psikologis yang banyak dialami orang-orang yang telah mencapai kesuksesannya. Saat itu mereka merasa belum cukup, kurang maksimal dan belum merasa pantas untuk mendapatkannya padahal mereka telah bekerja terlalu keras.

Apa Itu Impostor Sindrom?

Impostor sindrom adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasa tidak pantas atas kesuksesan yang telah ia raih. Ia merasa hanya menjadi orang yang beruntung di berbagai situasi.

Orang yang mengalami sindrom ini sewaktu-waktu merasa cemas, dan takut semua orang menganggapnya hanyalah seorang penipu dan tidak berhak mengakui segala keberhasilannya.

Kondisi ini tidak masuk ke dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yang berarti menunjukkan bahwa sindrom ini tidak tergolong penyakit jiwa. Hanya saja kondisi ini disertai gejala-gejala gangguan cemas dan depresi. Ya, impostor sindrom merupakan bentuk keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Gangguan ini muncul pada tahun 1978.

Gejala-Gejala Imposter Sindrom :

  • Mudah cemas
  • Tidak percaya diri
  • Depresi ketika tidak sesuai dengan keinginan
  • Cenderung perfeksionis

Baca juga : Narsistik atau Narsis Adalah … (dan Mitos Seputarnya)

Sindrom ini biasanya ditemukan pada orang yang tumbuh dari keluarga yang terlalu menekankan pentingnya sebuah prestasi.

Ditemukan juga pada orang-orang yang berasal dari kaum minoritas (Segi ras, suku, etnis, agama, tingkat pendidikan atau latar belakang ekonomi).

Selain itu, impostor sindrom juga sering ditemukan pada mereka yang telah menyelesaikan studinya. Mereka menganggap bahwa mereka belum kompeten, sehingga malah sering menunda-nunda pekerjaan karena takut hasilnya tidak sempurna.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan sindrom ini. Pertama, karena adanya tantangan baru, misalnya seperti pekerjaan baru atau kesempatan untuk naik jabatan.

Kedua, tumbuh dengan saudara yang memiliki bakat yang dapat memicu adanya sindrom ini sehingga seseorang akan merasa harus terus lebih baik.

Ketiga, dilabeli sebagai orang pintar, sehingga mereka merasa harus lebih pintar dari orang lain.

5 Tipe Impostor Sindrom

Berdasarkan riset, terdapat 5 tipe Impostor sindrom, untuk mengetahui tipe-tipe tersebut simak penjelasan di bawah ini.

The Expert

Pada tipe ini, seseorang selalu mencari informasi baru. Mereka mengukur kompetensi berdasarkan sebanyak apa hal yang mereka tahu. Mereka baru akan puas setelah mengetahui segala hal.

The Perfectionist

Orang-orang ini merasa selalu ingin menjadi sempurna. Segala hal harus sesuai dengan apa yang menjadi kehendaknya. Jika tidak sesuai maka ia akan merasakan gelisahan yang tinggi, ragu dan cemas berlebih.

Kalau pun mereka mencapai sebuah kesuksesan, maka hal tersebut adalah hal biasa, mereka percaya bahwa hasil tersebut masih bisa ditingkatkan. Padahal merayakan sebuah pencapaian dapat meningkatkan rasa percaya diri.

The Superhero

Tipe ini orang yang mampu melakukan banyak hal. mereka selalu mendorong dirinya untuk bekerja lebih keras dari orang-orang di sekitarnya. Padahal bekerja terlalu keras dan terlalu ambisius dapat membahayakan kesehatan fisik dan kesehatan mental.

The Natural Genius

Tipe ini menetapkan standar tinggi untuk dirinya sendiri. Tipe ini adalah orang yang berusaha untuk menguasai kemampuan baru dengan mudah dan cepat. Mereka menilai kompetensi berdasarkan kecepatan dan minimnya usaha yang dilakukan.

The Soloist

Seperti namanya, tipe ini memiliki rasa individualis yang tinggi. Mereka lebih suka sendiri dari pada berkelompok. Bagi mereka, meminta bantuan orang lain adalah sebuah kelemahan.

Baca juga : Cara Meningkatkan Imun Tubuh Saat Pandemi Covid – 19

Cara Mengatasi Impostor Sindrom

Jika seseorang terus menerus merasa tidak pantas atas apa yang ia raih dan terus dihadapkan pada ketakutan. Maka seseorang bisa mengalami depresi berkepanjangan. Hal ini bisa berujung pada gangguan jiwa hingga menurunkan fungsi otak.

Untuk mengatasi impostor sindrom. Seseorang bisa mempertimbangkan hal-hal di bawah ini.

Tidak Ada yang Sempurna di Dunia Ini

Orang yang memiliki impostor sindrom harus belajar supaya tidak terlalu menetapkan standar tinggi. Menurunkan sisi perfeksionis dan sadarlah bahwa semua orang tidak perlu menjadi sempurna.

Berbagi Ilmu

Jika seseorang merasa ragu akan kemampuan yang ia miliki. Seberapa mahir ia dalam melakukannya. Maka cobalah untuk membagi ilmu tersebut kepada yang lainnya.

Hal ini bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh kemampuan yang kamu bisa. Seseorang akan menyadari seberapa besar ukuran kompetensi yang dimiliki pada bidang tersebut.

Terbuka dengan Orang Terpercaya

Tidak ada salahnya untuk terbuka pada orang yang telah dipercaya. Entah itu keluarga, sahabat ataupun tenaga ahli psikolog. Dengan terbuka, kamu akan dipaksa berkaca pada diri sendiri dan kamu juga dapat mengetahui sisi lain dirimu dari orang lain.

Apresiasi Diri Sendiri

Percayalah bahwa kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan pencapaianmu. Kamu juga perlu berhenti sejenak untuk mengapresiasi diri. Mengucapkan terima kasih pada diri yang telah menjadi hebat dan mampu melewati segala rintangan.

Baca juga : Cara Tradisional Mengatasi Hidung Tersumbat Pada Bayi

Share juga pemikiran kamu di kolom komentar tentang impostor sindrom ini. Bagikan juga di sosial media agar lebih banyak orang yang teredukasi dan mengetahui apa itu impostor sindrom.

Tags :

Bagikan Artikel