Indonesia Residential Market Report 2025 H1
RINGKASAN EKSEKUTIF
Kawasan Penyangga Menjadi Pusat Pertumbuhan Hunian Premium Baru
Inventori rumah baru pada semester 1 tahun 2025 didominasi oleh segmen menengah ke atas dan mewah, yang tumbuh signifikan masing-masing sebesar 34% dan 17%, dibandingkan semester 2 tahun 2024. Pertumbuhan ini terkonsentrasi di kawasan penyangga strategis seperti Kabupaten Tangerang (BSD & PIK 2) dan Kabupaten Bogor (Sentul), di mana pengembang besar secara masif membangun kota mandiri yang menjadi target utama bagi keluarga yang ingin upgrade dan investor yang mencari aset di area prospektif.Tren Sport Lifestyle Dongkrak Pasokan Tanah Komersial
Pasokan properti semester ini tidak hanya didorong oleh sektor hunian. Data menunjukkan total inventori tanah komersial melonjak signifikan sebesar 26%, berjalan seiring dengan tren 'sport lifestyle' seperti padel. Bagi investor, ini adalah sinyal peluang emas: suplai lahan yang memadai kini tersedia di lokasi-lokasi paling prospektif, dengan pertumbuhan inventori tertinggi tercatat di pusat tren seperti Bali (+40%) dan Jabodetabek (+24%), serta kota potensial lainnya seperti Surakarta (+63%), Malang (+59%), Yogyakarta (26%), dan Bandung (18%).Pertumbuhan Permintaan Rumah Premium di Pusat Industri
Kawasan industri kini bertransformasi menjadi magnet untuk hunian premium, dengan lonjakan permintaan signifikan pada semester 1 tahun 2025. Pertumbuhan pencarian untuk rumah baru segmen menengah ke atas dan mewah meroket di Kabupaten Karawang (hingga +129%) dan Kabupaten Bekasi (hingga +113%). Tren ini didorong oleh meningkatnya populasi ekspatriat dan manajer lokal berdaya beli tinggi di pusat-pusat manufaktur, menandakan peluang pasar yang sangat kuat bagi pengembang hunian berkualitas di wilayah tersebut.Suku Bunga Turun & Cicilan Lama Naik Memicu Lonjakan KPR Take Over
Semester 1 tahun 2025 diwarnai oleh fenomena unik, di mana penurunan suku bunga acuan BI terjadi di saat banyak pemilik rumah justru menghadapi potensi kenaikan cicilan akibat masuknya periode floating rate. Hal ini memicu lonjakan transaksi KPR Take Over sebesar 5%, karena debitur yang mengambil KPR di era bunga rendah (2–4 tahun lalu) kini menghadapi suku bunga floating yang tinggi (11–13%). Penurunan suku bunga acuan BI terbaru menjadi 5,25% pada Juli 2025 semakin memperkuat tren ini, mendorong pemilik rumah untuk proaktif memindahkan pinjaman mereka demi mendapatkan cicilan yang lebih ringan dan efisien.MARKET REPORT
Ditulis oleh
21 Agustus 2025
Inventori Hunian Baru Premium Meningkat, Wilayah Kabupaten di Jabodetabek Jadi Pilihan Strategis
Memasuki pertengahan tahun 2025, pasar properti menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, terutama dari sisi total inventori. Total inventori rumah baru meningkat sebesar 46% dibandingkan semester sebelumnya. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa ketersediaan rumah baru terus tumbuh untuk menjawab beragam kebutuhan masyarakat.
Jika ditelusuri berdasarkan segmen harga, segmen rumah menengah ke atas (1,5-3 miliar) dan rumah mewah (> 3 miliar) turut mencatat pertumbuhan positif total inventori rumah baru, masing-masing sebesar 34% dan 17%. Lonjakan ini memperluas pilihan bagi pencari hunian premium yang menginginkan rumah dengan fasilitas lengkap dan lokasi strategis.
Di segmen menengah ke atas, Kab. Tangerang menunjukan sinyal potensi kenaikan nilai aset yang maksimal. Wilayah ini masih terus melanjutkan pertumbuhan, dibuktikan dengan penambahan inventori rumah baru terbanyak dari pengembang ternama pada semester I tahun 2025 dan lonjakan total inventori rumah segmen menengah ke atas sebesar 43%. Kec. Pagedangan (BSD) menonjol dengan pertumbuhan 77% untuk segmen menengah ke atas, di mana cluster modern dengan konektivitas strategis dan fasilitas lengkap menjadi jawaban ideal bagi keluarga yang ingin "naik kelas" ke hunian premium.
Di sisi lain, segmen rumah mewah didominasi oleh kawasan yang mapan, menawarkan jaminan kualitas hidup premium yang bisa dinikmati saat ini juga. Ditandai oleh total inventori terbanyak dari pengembang bereputasi, total inventori rumah mewah di Kab. Tangerang dan Kab. Bogor tumbuh masing-masing 40% dan 39%.
Sorotan utama tertuju pada Kec. Babakan Madang, Kab. Bogor, dengan lonjakan signifikan inventori rumah mewah sebesar 77%. Sebuah kota mandiri yang matang dan terus berinovasi dengan konsep pengembangan hijau dan berkelanjutan menjadi daya tarik utama. Menjamin ketersediaan fasilitas yang tidak hanya lengkap, tetapi juga berkualitas dan tertata dengan baik.
Sementara di koridor Tangerang, Kec. Kosambi, kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), menunjukkan performa baik dengan pertumbuhan inventori 72% di segmen yang sama. Menawarkan ketersediaan kebutuhan keluarga dalam satu kawasan yang mudah dijangkau. mulai dari pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga pusat kuliner dan rekreasi.
Selain Rumah Baru, Rumah Seken Dapat Menjadi Solusi Rumah Siap Huni
Bagi keluarga yang mendambakan rumah di kawasan dengan ekosistem matang namun terkendala oleh lahan baru yang semakin terbatas, pasar rumah seken menawarkan solusi. Hal ini terbukti dari data semester 1 tahun 2025 yang menunjukkan lonjakan total inventori rumah seken di provinsi-provinsi maju Indonesia, dengan DI Yogyakarta memimpin pertumbuhan sebesar 43% dibandingkan semester sebelumnya. Provinsi-provinsi ini unggul dalam berbagai faktor krusial, mulai dari lingkungan yang mendukung, kualitas sumber daya manusia, hingga ekosistem pasar dan inovasi yang hidup.
Di DI Yogyakarta, inventori rumah seken berukuran besar, tipe >= 201, mendominasi pertumbuhan pasar. Lonjakan sebesar 39% di Kota Yogyakarta dan 35% di Kabupaten Bantul pada semester 1 tahun 2025, menegaskan pasokan melimpah untuk hunian keluarga, bahkan melampaui pertumbuhan untuk tipe yang sama di kota-kota besar lainnya. Membeli rumah seken berukuran besar di sini bukan sekadar transaksi properti, melainkan sebuah investasi pada gaya hidup dan kepastian, untuk mendapatkan ketenangan lingkungan sekaligus warisan kemapanan dengan akses mudah menuju jantung pendidikan dan kesehatan.
Peluang serupa untuk hunian keluarga yang nyaman, tipe 121 - 200, juga terbuka lebar di pusat-pusat ekonomi luar Jawa, dengan pertumbuhan inventori rumah seken di tipe ini yang signifikan di Medan (34%), Palembang (33%), dan Makassar (31%). Kota-kota ini menjadi pilihan strategis karena menawarkan kombinasi unik, yaitu dinamisme sebagai pusat ekonomi regional dengan infrastruktur yang berkembang pesat, namun dengan biaya hidup dan harga properti yang lebih kompetitif untuk kualitas hidup yang lebih seimbang.
Sementara itu, bagi para profesional yang memprioritaskan kedekatan dengan pusat bisnis Jabodetabek, Jakarta Timur dan Bekasi muncul sebagai jawaban. Di Jakarta Timur, inventori rumah seken tipe 55-120 menunjukkan pertumbuhan tertinggi sebesar 37%, sebuah cerminan dari ketersediaan hunian di tengah keterbatasan lahan. Kota Bekasi juga tak kalah menarik dengan pertumbuhan total inventori sebesar 32% untuk tipe yang sama. Pilihan ini sangat beralasan, mengingat kedua area ini terus ditopang oleh pengembangan infrastruktur transportasi massal seperti LRT dan jalan tol, yang secara signifikan mempermudah akses menuju area perkantoran. Hal ini menjadikan Jakarta Timur dan Bekasi sebagai entry point ke pasar properti dekat ibu kota.
Pertumbuhan Inventori Tanah Komersial yang Dijual Sinyalkan Peluang Investasi Sport Lifestyle
Pasar properti menunjukkan dinamika yang positif tidak hanya pada sektor hunian. Data semester 1 tahun 2025 mencatat adanya lonjakan total inventori tanah komersial untuk dijual sebesar 26% dibandingkan semester sebelumnya, pertumbuhan ini bahkan mengimbangi pertumbuhan inventori rumah seken. Pertumbuhan ini membuka peluang emas bagi investor untuk menangkap tren sport lifestyle yang sedang digandrungi masyarakat.
Potensi ini paling nyata terlihat pada fenomena padel. Menurut Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI), saat ini telah berdiri 133 lapangan padel permanen, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah lapangan padel terbanyak di Asia Tenggara. Saat ini lapangan padel terkonsentrasi tinggi di Jabodetabek dan Bali.
Fakta ini menjadi semakin strategis karena sejalan langsung dengan data inventori, Bali menunjukan lonjakan inventori tanah komersial mencapai 40%, dan wilayah Jabodetabek tumbuh sebesar 24% menegaskan bahwa bagi calon investor yang ingin ikut dalam tren ini, suplai lahan yang memadai kini telah tersedia di lokasi yang paling prospektif.
Di era pasca-pandemi, Bali tidak lagi hanya sebagai tujuan wisata alam, tetapi juga wellness dan gaya hidup aktif. Permintaan yang masif dari turis mancanegara dan ekspatriat yang terus bertumbuh telah memicu lonjakan pembangunan fasilitas olahraga modern.
Menariknya, tren ini tidak hanya terbatas di Jabodetabek dan Bali. Kota-kota besar seperti Kota Surakarta (63%), Kota Malang (59%), Kota Yogyakarta (26%), dan Kota Bandung (18%) menunjukan potensi dengan pertumbuhan inventori tanah komersial yang juga positif. Keempat kota ini memiliki potensi, yakni populasi dari kelas menengah yang terus bertumbuh dengan daya beli yang meningkat. Demografis ini menciptakan peluang untuk mengadopsi tren gaya hidup baru. Bagi investor, bisa mempertimbangkan untuk masuk lebih awal ke pasar ini selagi tingkat persaingan belum setinggi di Jabodetabek dan Bali.
Lonjakan Permintaan Hunian Premium Baru di Wilayah Industri
Sejalan dengan tren positif pada sisi inventori, permintaan terhadap hunian premium baru, mencakup segmen menengah ke atas dan mewah, juga mengalami lonjakan signifikan di semester 1 tahun 2025, khususnya di kawasan industri.
Di Kab. Karawang, pencarian beli rumah baru untuk segmen rumah menengah ke atas tumbuh sebesar 129% dan segmen mewah tumbuh sebesar 7%. Sementara itu, di Kab. Bekasi, yang dikenal sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, pertumbuhan pencarian untuk kedua segmen tersebut masing-masing mencapai 55% dan 113%.
Pertumbuhan ini didorong oleh status kedua wilayah sebagai basis industri manufaktur dan otomotif global. Kehadiran ekspatriat dan manajer lokal dengan daya beli tinggi diduga menjadi penggerak di balik tren ini. Kondisi tersebut menjadikan wilayah pusat industri sebagai pasar yang sangat prospektif bagi pengembang ternama untuk menghadirkan proyek hunian unggulan dengan fasilitas premium.
Rekomendasi Pemilik Properti untuk Merealisasikan Keuntungan Investasi
Selain pencarian untuk rumah baru di sektor industri, analisis kami terhadap tren pencarian di semester 1 tahun 2025 juga mengungkap momentum signifikan di pasar rumah seken. Momentum ini membuka kesempatan bagi pemilik properti yang ingin merealisasikan keuntungan investasi secara maksimal. Dengan mengidentifikasi tipe rumah mana yang sedang menjadi 'primadona' atau paling banyak dicari di berbagai kota besar, pemilik properti dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menjual.
Di Jakarta, pencarian tertinggi bervariasi: tipe 55-120 menjadi primadona di Utara dan Pusat, tipe >= 201 memimpin di Barat, sementara pasar di Timur dan Selatan didominasi oleh pencarian tipe 55-120 dan 121-200.
Bergeser ke Depok, pencarian tertinggi juga ada pada tipe 55-120 dan 121-200. Di wilayah Bogor, tren terbagi antara tipe >= 201 di area kota dan tipe 121-200 di area kabupaten.
Selanjutnya, pencarian di Kota Tangerang menunjukkan momentum pada tipe 121-200, dan Bekasi Raya (Kota dan Kabupaten) menunjukkan minat tertinggi pada tipe >= 201. Bagi pemilik properti dengan tipe yang sedang naik daun di wilayahnya masing-masing, ini adalah momentum yang tepat untuk merealisasikan keuntungan.
Permintaan Sewa Properti: Peluang Investasi Berdasarkan Tren Pencarian dan Inventori
Selain momentum untuk merealisasikan keuntungan melalui penjualan, pasar properti juga menawarkan peluang pendapatan jangka panjang melalui sewa. Berdasarkan data internal Pinhome, analisis terhadap permintaan dan ketersediaan inventori rumah sewa di Jabodetabek pada semester 1 tahun 2025 menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan di beberapa wilayah, sehingga memberikan potensi untuk mendapatkan arus kas tetap setiap bulannya dari pendapatan sewa.
Wilayah dengan potensi paling tinggi adalah Kota Bogor dan Depok. Keduanya menunjukkan rasio pencarian yang jauh melampaui total inventori rumah sewa yang ada. Pasar di kedua kota ini secara konsisten didorong oleh segmen mahasiswa dan komuter. Selain itu, konektivitas kedua kota ini terus didukung oleh transportasi publik, selain KRL Commuter Line yang telah beroperasi dengan armada yang terus ditambah, serta diperkuat oleh adanya perpanjangan rute Transjakarta yang kini menghubungkan Bogor langsung ke Blok M. Menyewakan rumah tipe kecil hingga menengah di dekat area kampus atau stasiun di kedua kota ini menawarkan potensi okupansi yang baik.
Satu tingkat di bawahnya, Jakarta Barat dan Tangerang Selatan juga merupakan area dengan pencarian melampaui total inventori yang tersedia. Berbeda dengan Bogor dan Depok, permintaan di sini didominasi oleh profesional dan keluarga yang mencari hunian nyaman dan dekat dengan pusat bisnis. Bagi pemilik properti dapat berfokus dalam menawarkan rumah sewa dengan luas bangunan minimal 120 meter persegi.
Bebas Banjir, Strategis, dan DP 0%: Tiga Kata Kunci yang Mendefinisikan Pasar Properti Semester 1 Tahun 2025
Analisis terhadap data pencarian kata kunci di Pinhome pada semester 1 tahun 2025 mengungkapkan potret yang jelas mengenai risiko, harga, dan kepraktisan.
Hal ini tercermin dari tingginya pencarian untuk jaminan fundamental seperti "bebas banjir" dan "lokasi strategis" yang mendominasi peringkat teratas. Dari sisi finansial, permintaan untuk kemudahan akses pembiayaan sangat kuat, terlihat dari populernya keyword "dp 0%" dan "bebas bi checking", serta pencarian harga spesifik seperti "di bawah 1 miliar" Selain itu, tingginya pencarian untuk "kontrakan" menegaskan besarnya porsi pasar sewa dalam permintaan hunian secara keseluruhan.
Selain kata kunci di atas, pencari properti juga melakukan pencarian menggunakan nama kawasan atau perumahan yang spesifik. Fasilitas pendukung seperti Pendidikan dan Kesehatan menyusul sebagai prioritas berikutnya, sementara Pusat Perbelanjaan menjadi pertimbangan sekunder.
Koperasi Hunian & Masa Depan Kualitas Hidup Urban
Fenomena “koperasi rumah flat” di Menteng menandakan pergeseran dalam cara masyarakat memandang kepemilikan rumah. Harga pasaran rumah tapak di Menteng mencapai 100 juta rupiah per meter persegi, sebuah angka yang tidak terjangkau bagi mayoritas profesional dan keluarga. Inisiatif koperasi hunian ini menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan hunian vertikal di lokasi yang sama, dengan biaya yang jauh lebih terjangkau, dengan harga sewah tanah sebesar 18 juta rupiah per tahun per keluarga dan biaya konstruksi, dibayar awal, sebesar 8 juta rupiah per meter persegi. Perbedaan signifikan inilah yang menyebabkan kuatnya permintaan terhadap hunian tersebut untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak, yang diwujudkan melalui kemudahan akses ke transportasi publik, pusat perkantoran, dan kawasan komersial lainnya.
Bagi para investor, pengembang, ataupun calon penghuni yang ingin mereplikasi kesuksesan konsep ini, kami mengidentifikasi area-area yang berpotensi untuk dibangunnnya koperasi hunian serupa. Analisis data internal kami menemukan lonjakan permintaan sewa yang signifikan pada semester 1 tahun 2025, di antaranya Pancoran, dengan pertumbuhan pencarian rumah sewa sebesar 46%, dan Kebayoran Lama, dengan pertumbuhan 24% dibandingkan semester sebelumnya.
Lonjakan permintaan sewa di lokasi-lokasi premium ini adalah cerminan dari banyaknya profesional dan keluarga yang menginginkan kualitas hidup yang ditawarkan, namun terhalang oleh harga beli. Tingginya minat sewa ini adalah sinyal pasar yang sangat jelas. Ini menunjukkan bahwa jika ada solusi hunian jangka panjang yang terjangkau—seperti model koperasi dengan skema sewa selama 60 tahun—maka permintaan yang 'terpendam' ini dapat diubah menjadi sebuah komunitas hunian yang nyata dan berkembang.
Koperasi rumah flat di Menteng adalah hunian vertikal rendah (bertingkat maksimal empat lantai) yang dibangun oleh komunitas lokal melalui skema operasi tanpa peran pengembang besar atau pemerintah. Hunian ini didirikan di atas lahan sekitar 250–280 m² di Dukuh Atas, Menteng, dan dioperasikan secara kolektif dengan kepemilikan strata-title, sementara lahan tetap milik bersama koperasi.
Berada dalam kawasan transit-oriented development (TOD), rumah flat Menteng hanya berjarak sekitar 300–500 meter dari halte Transjakarta, stasiun KRL, MRT, LRT, atau KA Bandara. Karena akses vehicular terbatas, penghuni sepakat untuk tidak menyediakan area parkir, mendukung gaya hidup urban yang praktis dan ramah lingkungan.
Harga unitnya sangat terjangkau untuk kawasan Menteng, mulai dari sekitar 300 juta hingga 1 miliar rupiah tergantung ukuran (40–120 m²). Sistem pembiayaannya bersifat cicilan/simpanan melalui koperasi: biaya konstruksi dan sewa tanah dibagi di antara penghuni, tanpa margin keuntungan. Total investasi jangka panjang untuk praktik tinggal hingga 60 tahun bisa mencapai sekitar 2 miliar rupiah, tetap jauh di bawah harga rumah tapak di Menteng.
Respons Industri Terhadap Penurunan BI Rate
Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dua kali sepanjang semester 1 tahun 2025—dari 6,00% ke 5,75% di Januari 2025, dan kembali turun menjadi 5,50% di Mei 2025. Kebijakan ini menjadi sinyal akomodatif bagi calon pembeli properti yang langsung direspons oleh lembaga keuangan dengan menghadirkan berbagai program baru yang lebih kompetitif.
Tenor fixed rate 3 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun merupakan program yang paling diminati, yang tercermin dari tingginya jumlah penawaran dari bank rekanan Pinhome dibandingkan dengan program KPR lainnya di platform. Pilihan ini memberikan kepastian besaran cicilan di awal masa kredit, memberikan rasa aman bagi debitur dalam merencanakan keuangan jangka menengah hingga panjang. Berdasarkan data internal Pinhome, penurunan suku bunga juga tercermin dalam rata-rata bunga KPR dengan tenor fixed rate 3, 5, dan 10 tahun. Penurunan ini membuat cicilan rumah menjadi lebih ringan dan terjangkau.
Suku Bunga Turun, Cicilan Lama Naik: Momen di Balik Pertumbuhan KPR Take Over
Di tengah kondisi makroekonomi yang fluktuatif, semakin banyak pemilik rumah yang proaktif dalam mengelola kewajiban finansial mereka. Salah satu strategi yang kini banyak dipilih adalah KPR Take Over, yaitu memindahkan fasilitas KPR yang sedang berjalan, namun sudah masuk masa suku bunga floating ke bank lain dengan skema suku bunga fixed dan cicilan yang lebih kompetitif.
Berdasarkan data internal Pinhome, terjadi kenaikan sebesar 5% dalam jumlah transaksi KPR Take Over pada semester 1 2025, dibandingkan dengan semester 2 tahun 2024. Angka ini mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen untuk mencari alternatif pembiayaan yang lebih efisien dibandingkan skema awal yang mereka ambil.
Peningkatan ini terutama didorong oleh berakhirnya periode suku bunga tetap (fixed rate) bagi debitur yang mengambil KPR pada 2–4 tahun lalu, tepat ketika suku bunga acuan Bank Indonesia sempat berada di titik terendah, yakni 3,50%. Sebagai perbandingan, banyak dari mereka yang dahulu menikmati bunga promosi di kisaran 4-6%, kini harus menghadapi suku bunga floating yang pada pertengahan 2025 berada di level 11-13%. Perbedaan margin inilah yang menciptakan kenaikan cicilan yang signifikan.
Di sisi lain, penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia sepanjang semester ini—hingga ke level 5,5%—menciptakan momentum yang tepat bagi debitur untuk memindahkan KPR mereka ke bank dengan penawaran baru yang lebih kompetitif, demi mendapatkan kembali cicilan yang lebih ringan dan stabil.
Tidak hanya bagi end-user, tren KPR Take Over ini juga membuka peluang strategis bagi para investor properti. Dengan melakukan refinancing atau pemindahan fasilitas KPR ke skema yang lebih menguntungkan, investor dapat meningkatkan arus kas bulanan, mengurangi tekanan cicilan, dan menjaga kesehatan portofolio aset mereka secara keseluruhan.
Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan pada Juli 2025 menjadi 5.25%. Langkah ini ditempuh sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam menghadapi perlambatan pada sektor konsumsi dan investasi. Penurunan suku bunga ini memberikan dampak positif bagi calon pembeli properti yang memerlukan pembiayaan melalui perbankan. Dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah, beban cicilan kredit kepemilikan rumah menjadi lebih ringan, sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat untuk memiliki hunian melalui fasilitas pembiayaan bank.
Tren Positif Pembiayaan KPR Berbasis Syariah
Pinhome juga menyediakan opsi KPR Syariah bagi keluarga yang mencari solusi pembiayaan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Bank-bank rekanan menawarkan program KPR Syariah dengan akad yang sesuai syariah, seperti murabahah atau ijarah.
Tren penggunaan KPR Syariah menunjukkan pertumbuhan positif, dengan kenaikan transaksi sebesar 4% di semester 1 tahun 2025, dibandingkan semester sebelumnya. Meskipun rata-rata margin bagi hasil KPR Syariah cenderung sedikit lebih tinggi dibanding KPR konvensional, minat terhadap program ini terus meningkat, mencerminkan preferensi masyarakat yang ingin menjalankan transaksi keuangan yang selaras dengan nilai-nilai spiritual mereka.
Selain dilatarbelakangi oleh pertimbangan nilai-nilai religius, KPR Syariah juga semakin diminati karena menawarkan skema pembiayaan yang lebih jelas dan minim risiko. Dengan margin bagi hasil tetap hingga 10 tahun, nasabah tidak perlu menghadapi ketidakpastian akibat fluktuasi margin bagi hasil setiap tahun. Skema ini dinilai memberikan kepastian dan kestabilan dalam perencanaan keuangan jangka panjang.
Untuk menjelajahi program KPR Syariah, pengguna dapat langsung mengakses fitur pencarian khusus di aplikasi Pinhome melalui tampilan terbaru halaman KPR & Take Over Syariah.
Tentang Pinhome Indonesia Residential Market Report
Pinhome Indonesia Residential Market Report merupakan laporan semesteran yang menghadirkan analisis mendalam terkait dinamika pasar residensial. Laporan ini menyajikan wawasan terkait inventori perumahan (suplai), tren dalam permintaan beli dan sewa rumah, serta dinamika permintaan pembiayaan pembelian rumah berdasarkan data terkini dari semester sebelumnya.
Dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelaku industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum, laporan ini bertujuan untuk menyediakan panduan yang komprehensif dalam memahami tren pasar industri residensial.
Metodologi
Data yang mendasari laporan ini bersumber dari database Pinhome yang luas, mencakup lebih dari 1,8 juta inventori perumahan serta kemitraan dengan lebih dari 40 bank dan institusi keuangan. Diperkaya dengan data eksternal yang terpercaya, data disintesis dan dianalisis melalui berbagai metode statistik untuk menghasilkan wawasan yang tidak hanya bersifat nasional tetapi juga regional.
Wawasan terhadap inventori perumahan menyediakan kerangka untuk melacak evolusi suplai di pasar. Bagian yang membahas permintaan pembelian dan penyewaan rumah menawarkan perspektif tentang tren permintaan dari sisi pembeli dan penyewa dilengkapi dengan momentum yang beriringan yang sangat potensial menjadi latar belakang. Sedangkan, wawasan mengenai permintaan pembiayaan pembelian rumah mengungkap pertumbuhan dan pergeseran dalam preferensi konsumen terhadap opsi pembiayaan, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan KPR Take Over.