Pinhome Exclusive Report: Langkah Generasi Sandwich Menuju Kepemilikan Properti
RINGKASAN EKSEKUTIF
MARKET REPORT
Ditulis oleh
8 Oktober 2024
Motivasi Generasi Sandwich Membeli Properti
Kebutuhan Keluarga Menjadi Motivasi Utama Generasi Sandwich dalam Membeli Properti
Generasi Sandwich, yang dikenal sebagai kelompok yang berada di tengah-tengah tanggung jawab merawat orang tua yang sudah tidak produktif serta membesarkan anak-anak atau menanggung saudara-saudaranya, menghadapi tantangan keuangan yang signifikan.
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Sekalipun menghadapi tantangan keuangan, Generasi Sandwich tetap menunjukkan permintaan dalam mewujudkan impian mereka memiliki hunian sendiri. Motivasi utama yang mendorong Generasi Sandwich untuk membeli hunian adalah kebutuhan keluarga. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh YouGov, 49% dari mereka menempatkan kebutuhan ini sebagai prioritas tertinggi dalam keputusan membeli rumah.
Bagi mereka yang memilih rumah tapak, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol keamanan dan stabilitas bagi keluarganya. Stabilitas menjadi alasan penting bagi mereka yang memilih rumah tapak, mencerminkan keinginan untuk menetap di satu tempat dan mengakhiri ketidakpastian yang sering kali hadir dalam kehidupan yang berpindah-pindah dari satu rumah sewaan ke rumah sewaan lainnya.
Di sisi lain, bagi mereka yang memilih apartemen, selain memenuhi kebutuhan keluarga, terdapat faktor-faktor lain yang dipertimbangkan. Salah satunya adalah peluang pasar dan potensi investasi yang ditawarkan oleh kepemilikan apartemen. Generasi ini melihat apartemen sebagai aset yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan di masa depan.
Apa motivasi utama Generasi Sandwich dalam membeli properti?
Kuesioner dengan pilihan multi-jawaban memungkinkan hasil total melebihi 100%.
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Tantangan-Tantangan Generasi Sandwich dalam Kepemilikan Properti
Tantangan Terbesar yang Dihadapi adalah Menemukan Properti yang Tepat
Generasi Sandwich tidak terlepas dari berbagai tantangan dalam upaya mereka memiliki rumah. Berdasarkan data yang diperoleh, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menemukan properti yang tepat, yang dirasakan oleh 36% Generasi Sandwich, diikuti oleh beban biaya tambahan yang berlebihan (35%), seperti biaya asuransi dan notaris, lalu diikuti tingginya biaya cicilan (34%).
Apa tantangan-tantangan Generasi Sandwich dalam membeli properti?
Kuesioner dengan pilihan multi-jawaban memungkinkan hasil total melebihi 100%.
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Bagi Generasi Sandwich yang berhasil membeli rumah tapak dalam satu tahun terakhir, pemilihan properti yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka menjadi tantangan utama, terutama dalam pasar properti yang semakin kompetitif, penuh dengan pilihan yang beragam, dan terbatasnya dukungan atau alat yang memadai untuk membantu dalam pencarian properti.
Sebaliknya, Generasi Sandwich yang memilih apartemen sebagai pilihan tempat tinggal mereka menghadapi tantangan yang berbeda. Berdasarkan pengalaman mereka dalam setahun terakhir, kondisi properti menjadi masalah utama, dengan hampir setengah dari mereka (47%) menyatakan bahwa mereka harus menangani masalah terkait pemeliharaan atau renovasi properti yang mereka beli. Hal ini menunjukkan bahwa membeli apartemen, meskipun menawarkan potensi investasi, juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal menjaga kondisi properti agar tetap layak huni.
Kebutuhan Dukungan Eksternal: Penasihat Keuangan & Lainnya
Menghadapi berbagai tantangan ini, Generasi Sandwich sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama penasihat keuangan yang dapat membantu mereka merencanakan dan mengelola keuangan dengan lebih baik. Sebanyak 39% dari mereka menyatakan bahwa dukungan dari penasihat keuangan sangat diperlukan dalam proses pembelian rumah.
Selain itu, peran penilai properti (38%), bantuan hukum (37%), inspektur properti (36%), konsultan properti (35%), dan bantuan arsitektur (34%) juga dinilai penting dalam memastikan bahwa mereka dapat membuat keputusan yang tepat dan terinformasi dengan baik. Dalam konteks ini, peran-peran tersebut tidak hanya membantu mereka dalam proses pembelian, tetapi juga memberikan rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik bagi masa depan mereka dan keluarga.
Dukungan apa yang dibutuhkan Sandwich Generation dalam proses pembelian properti?
Kuesioner dengan pilihan multi-jawaban memungkinkan hasil total melebihi 100%.
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Sumber Anggaran Pembelian Properti
Mayoritas Generasi Sandwich Menggunakan Tabungan Pribadi Sebagai Sumber Utama Pembiayaan Pembelian Properti
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan terhadap Generasi Sandwich yang melakukan pembelian properti dalam satu tahun terakhir, mayoritas mereka (53%) menggunakan tabungan pribadi sebagai sumber utama pembiayaan pembelian rumah. Selain itu, 29% dari mereka menerima dukungan dari keluarga untuk mewujudkan impian memiliki rumah. Sementara itu, hanya 28% yang memanfaatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), dan 26% lainnya memilih menggunakan pinjaman lain seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Bagaimana Generasi Sandwich merencanakan pembiayaan pembelian properti?
Kuesioner dengan pilihan multi-jawaban memungkinkan hasil total melebihi 100%.
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Generasi Sandwich menggunakan sumber dana dari
tabungan pribadi dan bantuan dana dari keluarga
untuk pembelian properti
Dari Generasi Sandwich yang berhasil membeli properti dalam satu tahun terakhir, mereka menggunakan tabungan pribadi sebagai sumber utama pembiayaan rumah, 33% juga mengandalkan dukungan atau pinjaman dari keluarga, 26% memanfaatkan pinjaman lain seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan 25% menggunakan hasil dari penjualan aset. Kombinasi tabungan pribadi dan bantuan dana dari keluarga menjadi kombinasi pembiayaan yang paling banyak digunakan, dipilih oleh 18% dari Generasi Sandwich.
Kombinasi dengan tabungan pribadi adalah pilihan utama untuk hampir semua opsi pembiayaan lainnya. Namun, ada pengecualian di kalangan Generasi Sandwich yang menggunakan penarikan dana pensiun dan dana jaminan sosial. Dari Generasi Sandwich yang menarik dana pensiun, 51% memilih untuk menggabungkan dana pensiun mereka dengan pinjaman non-perbankan, seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di sisi lain, 48% dari mereka yang menarik dana jaminan sosial juga mendapatkan dukungan atau pinjaman dari keluarga.
Dinamika Pasar Dalam Pembiayaan Pembelian Properti
Perilaku Konservatif Tercermin Dari Penurunan Plafon Pinjaman, Pemilihan Tenor Cicilan, dan Dominasi Permintaan KPR Take Over
Langkah-langkah yang diambil oleh Generasi Sandwich dalam merencanakan anggaran ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar yang lebih luas. Pada kuartal kedua tahun 2024, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%, sebagai bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Kenaikan suku bunga ini berdampak langsung pada sektor pembiayaan.
Pertumbuhan kuartalan (qoq)
total permintaan KPR / KPA
Sebagai hasil dari peningkatan suku bunga acuan ini, terjadi penurunan dalam permintaan KPR dan KPA sebesar 8% pada kuartal kedua tahun 2024 dibandingkan dengan kuartal pertama. Kenaikan biaya pinjaman menjadi salah satu faktor utama yang menghambat daya beli masyarakat, yang berdampak pada keputusan mereka dalam mengakses produk KPR dan KPA.
Pertumbuhan kuartalan (qoq)
plafon kredit permintaan KPR/KPA
Selain itu, penurunan median plafon permintaan pembiayaan rumah sebesar 3% menunjukkan sikap yang lebih konservatif dari konsumen dalam mengambil jumlah pinjaman yang besar. Konsumen cenderung memilih rumah yang lebih terjangkau atau mengumpulkan uang muka (DP) yang lebih besar sebelum mengajukan KPR atau KPA, sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi dan kebijakan perbankan yang lebih ketat.
Di antara Generasi Sandwich yang memilih untuk menggunakan KPR atau KPA, terdapat kecenderungan untuk memilih tenor cicilan yang lebih pendek. Sebanyak 26% dari pengguna KPR memilih tenor 1-5 tahun, diikuti oleh 25% yang memilih tenor 6-10 tahun, dan 23% memilih tenor 11-15 tahun. Data ini menunjukkan preferensi Generasi Sandwich terhadap pembayaran cicilan yang lebih cepat selesai, yang mencerminkan kehati-hatian dalam mengelola beban utang di tengah tuntutan keuangan yang beragam.
Berapa lama tenor pinjaman KPR atau KPA yang dipilih oleh Generasi Sandwich saat membeli properti?
Sumber: YouGov, Pinhome Research
Dalam dinamika pasar, permintaan KPR Take Over mendominasi (60%) total permintaan pembiayaan pembelian properti, mencerminkan keinginan konsumen untuk mencari kondisi pembiayaan yang lebih stabil dan menguntungkan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Pinhome menghadirkan fitur Simulasi KPR Take Over yang memudahkan pengguna menghitung dan membandingkan berbagai opsi refinancing KPR untuk meringankan beban angsuran.
Dengan memasukkan detail KPR yang sedang berjalan, pengguna dapat melihat potensi penghematan dengan beralih ke bank lain yang menawarkan bunga lebih rendah atau tenor lebih fleksibel. Fitur ini juga memberikan rekomendasi bank terbaik dan estimasi biaya-biaya terkait, sehingga Anda dapat membuat keputusan finansial yang lebih cerdas dan terinformasi.
Penyesuaian Preferensi
Rumah Baru di Sub-urban dan Apartemen Baru di Urban Sebagai Pilihan Hunian Terjangkau bagi Generasi Sandwich
Dalam survei terbaru terhadap Generasi Sandwich yang berhasil membeli hunian dalam satu tahun terakhir, terlihat bahwa menunjukkan fleksibilitas dalam mereka menyesuaikan preferensi mereka untuk memastikan bahwa kebutuhan tempat tinggal tetap dapat terpenuhi berdasarkan anggaran yang tersedia.
Generasi Sandwich yang memilih rumah tapak memutuskan untuk membeli
rumah baruMayoritas pemilik rumah tapak memilih ukuran bangunan 22-36 m², yang mencerminkan kebutuhan akan hunian yang efisien namun tetap fungsional. Dari segi jumlah kamar tidur, rumah dengan 2 kamar tidur menjadi pilihan utama (48%), diikuti oleh rumah dengan 3 kamar tidur (31%), yang menunjukkan bahwa Generasi Sandwich mencari hunian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti mereka tanpa berlebihan.
Penyesuaian Preferensi Generasi Sandwich yang Memilih Apartemen
Generasi Sandwich yang memilih apartment memutuskan untuk membeli
apartment baruDari segi ukuran, terdapat pembagian yang seimbang antara apartemen dengan luas ≤ 21 m² (20%) dan yang berukuran 61-70 m² (21%). Hal ini mencerminkan kebutuhan akan hunian yang praktis namun tetap menyediakan ruang yang cukup. Dalam hal jumlah kamar tidur, unit dengan 3 kamar tidur menjadi pilihan tertinggi (27%), diikuti oleh unit dengan 1 kamar tidur (23%), 2 kamar tidur (22%), dan studio (22%).
Dinamika Pasar Dalam Pembelian Rumah
Lonjakan Preferensi Hunian pada Segmen Menengah ke Bawah di Daerah Sub-urban
Pada kuartal kedua tahun 2024, pasar properti Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik, terutama dalam segmen rumah residensial. Data terbaru mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan signifikan sebesar 8% dalam pembelian rumah menengah ke bawah dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini. Sebaliknya, segmen rumah mewah, yang mencakup properti dengan harga di atas 3 miliar rupiah, mengalami penurunan drastis hingga 26%.
Pertumbuhan kuartalan (QoQ) pada segmen
rumah menengah ke bawah
Pertumbuhan kuartalan (QoQ) pada kategori
rumah mewah
Pada kuartal kedua tahun 2024, pasar properti di Jabodetabek menunjukkan tren yang menarik, khususnya dalam segmen rumah dengan harga menengah ke bawah. Data menunjukkan bahwa mayoritas pembelian rumah di segmen ini terkonsentrasi di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, yang mencatatkan 56% dari total pembelian. Hal ini mengindikasikan bahwa area Bogor semakin menjadi pilihan utama bagi konsumen yang mencari hunian terjangkau di kawasan sub-urban Jabodetabek.
Sebaliknya, Jakarta hanya menyumbang 2% dari total pembelian rumah di segmen harga ini. Rendahnya persentase ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pembeli di ibu kota, di mana harga properti yang tinggi dan keterbatasan lahan membuat segmen menengah ke bawah semakin sulit untuk mendapatkan rumah yang sesuai dengan anggaran mereka. Sebagai akibatnya, banyak calon pembeli rumah di Jakarta yang memilih untuk mencari hunian di daerah sub-urban, seperti Bogor, yang menawarkan kombinasi antara keterjangkauan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Proporsi Pembelian Rumah Harga Menengah Ke Bawah Kuartal 2 2024 di Jabodetabek
Ketersediaan Inventori Rumah Terjangkau
Pertumbuhan Inventori Rumah Dipimpin oleh Rumah Segmen Harga Menengah Ke Bawah
Rumah dengan segmen harga menengah ke bawah mengalami pertumbuhan tertinggi (127%) dibandingkan segmen lainnya di kuartal 2 2024 (YoY). Berdasarkan Property Home Sell Index terbaru (PHSI 2024 Q2), rumah dengan tipe ≤ 54 di Kota Depok dan Kota Tangerang menjadi pilihan yang paling direkomendasikan untuk kepemilikan rumah pertama karena harga jual rumah pada tipe ini menurun hingga 5%.
Pertumbuhan kuartalan (QoQ) penambahan inventori rumah baru
segmen menengah ke bawahPertumbuhan kuartalan (QoQ) penambahan inventori rumah baru 2 KT
segmen menengah ke bawahKetika dilihat lebih lanjut, rumah seken segmen harga menengah ke bawah terpantau mendominasi pertumbuhan inventori total rumah seken. Total inventori rumah seken di kuartal 2 2024 bertumbuh 500% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Total Inventori Rumah Seken Segmen Harga Menengah Ke Bawah
Tahukah kamu? Tren Properti dari Barat hingga Timur Nusantara
Perkembangan properti kini semakin merata di seluruh Indonesia, dari barat hingga timur.
-
Di Indonesia bagian barat, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan mengalami pertumbuhan inventori residensial seken lebih dari empat kali lipat (YoY).
-
Sementara itu, di Indonesia bagian tengah, yaitu DKI Jakarta dan Bali, properti inventori properti residensial sewa terhadap total inventori properti residensial, mencapai dua kali lipat dibandingkan proporsi inventori residensial sewa di keseluruhan Pulau Jawa dan Bali. Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara di bagian tengah dan timur Indonesia mencatat lonjakan inventori properti komersial hingga 11 kali lipat.
-
Tren properti di Indonesia bagian timur menunjukkan bahwa di Maluku dan Nusa Tenggara, pertumbuhan inventori properti komersial juga lebih tinggi dibandingkan properti residensial. Sebaliknya di Papua, pertumbuhan inventori dipimpin oleh tipe properti residensial.
Pencarian Properti
Langkah Strategis Generasi Sandwich dalam Mencari Properti: Eksplorasi, Legalitas, dan Pemanfaatan Tools Digital
Setelah melalui proses penyesuaian preferensi yang didasarkan pada perencanaan anggaran, tahap berikutnya dalam perjalanan menuju kepemilikan properti adalah pencarian properti yang tepat. Pada tahap ini, Generasi Sandwich mulai mengarahkan fokus mereka pada eksplorasi pilihan yang ada di pasar. Proses ini mencakup berbagai aktivitas yang tidak hanya bertujuan untuk menemukan properti yang sesuai dengan preferensi dan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah dilakukan dengan informasi yang tepat dan bantuan yang memadai.
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan terhadap Generasi Sandwich yang melakukan pembelian properti dalam satu tahun terakhir, mayoritas menyebutkan bahwa langkah penting dalam pencarian properti meliputi menjelajahi area (56%), memeriksa legalitas properti/rumah (48%), dan pencarian online (44%).
Langkah Penting Dalam Pencarian Properti
Generasi Sandwich juga memanfaatkan berbagai tools digital untuk membantu proses pencarian mereka. Media sosial (misalnya Twitter, Instagram, Facebook, dll) menjadi platform yang paling sering digunakan (63%), diikuti oleh aplikasi mobile properti seperti Ray White, ERA, Century 21, dll (35%), dan situs properti yang berbasis web (34%).
Platform Pencarian Properti yang Digunakan Sandwich Generation
Konsultasi Langsung menjadi Media Informasi Krusial dalam Proses Pencarian Properti oleh Generasi Sandwich
Preferensi Media Informasi dalam Pencarian Properti Berdasarkan Kelompok Generasi Berdasarkan Usia
Dinamika Pasar Dalam Pencarian Beli Properti
Rumah Harga Menengah ke Bawah dan di Area Sub-urban Tercermin Selama Kuartal Kedua Tahun 2024
Pada hasil survei pada Generasi Sandwich yang membeli hunian dalam satu tahun terakhir, ditemukan bahwa mayoritas Generasi Sandwich memilih properti dengan luas tanah lebih kecil atau sama dengan 54 m2 (53%) dan 31% lainnya memilih properti dengan luas tanah 55-120 m2.
Sementara itu, untuk ukuran bangunan, mayoritas pemilik rumah tapak juga membeli rumah dengan ukuran bangunan kecil, yaitu dengan luas lebih kecil atau sama dengan 54 m2. Preferensi ini juga tercermin dalam tren pencarian properti di platform Pinhome selama kuartal kedua tahun 2024, spesifiknya pada rumah menengah ke bawah, dengan rentang harga 200 - 600 juta rupiah.
Penyesuaian Preferensi Generasi Sandwich yang Berhasil Membeli Properti dalam 1 Tahun Terakhir
Dari total pencarian beli rumah
Proporsi pencarian rumah
segmen menengah ke bawah
Dari total pencarian beli rumah
Pertumbuhan pencarian beli rumah
segmen menengah ke bawah
Pada kuartal kedua tahun 2024, 36% dari total pencarian beli rumah merupakan pencarian rumah dengan kategori menengah ke bawah. Pencarian beli rumah dengan kategori menengah ke bawah pada kuartal kedua tahun 2024 tumbuh sebesar 287% dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, terdapat variasi tren pencarian rumah menengah ke bawah berdasarkan area:
-
Di Jakarta Timur, Bogor Raya, dan Tangerang Raya, pencarian rumah dengan tipe 55-120 lebih dominan dibandingkan dengan tipe ≤ 54. Hal ini menandakan adanya preferensi konsumen yang memilih tinggal di pinggiran kota untuk mendapatkan rumah yang lebih luas dengan harga yang terjangkau.
-
Sebaliknya, di area DKI Jakarta, kecuali Jakarta Timur, rumah tipe ≤ 54 justru lebih diminati, yang menawarkan harga yang paling terjangkau.
Pertumbuhan Pencarian Beli Rumah Berdasarkan Tipe Rumah Kuartal Kedua 2024 Dibandingkan Kuartal Kedua 2023
Tren Pencarian Hunian Apartemen Juga Menunjukkan Perkembangan yang Signifikan
pertumbuhan pencarian beli
apartment baru 2 KT 1.8xlebih cepat dibandingkan apartment 1 KT
Pencarian untuk membeli apartemen naik 131% pada kuartal kedua 2024 dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Jika melihat berdasarkan jumlah kamar tidur yang dicari, pencarian beli apartemen dengan dua kamar tidur (2KT) tumbuh 220%. Pertumbuhan ini 1.8x lebih cepat dibandingkan apartemen dengan satu kamar tidur (1KT).
Pemilihan Properti
Prioritas Utama Generasi Sandwich dalam Memilih Properti: Akses Kesehatan, Lokasi Kerja, dan Keamanan
Ketika memilih rumah, Generasi Sandwich menunjukkan preferensi yang jelas terhadap faktor-faktor yang mendukung kesejahteraan keluarga mereka. Berdasarkan hasil survei, tiga faktor utama yang paling dipertimbangkan adalah dekat dengan fasilitas kesehatan (64%), dekat dengan kantor (62%), dan keamanan dan kenyamanan lingkungan sekitar (60%).
Selain itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa 55% dari Generasi Sandwich di golongan Generasi Z memilih properti yang dekat dengan pusat perbelanjaan, persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan Generasi Sandwich di golongan Generasi Milenial (34%). Hal ini menunjukkan bahwa Generasi Z lebih mengutamakan akses cepat ke fasilitas komersial dalam kehidupan sehari-hari.
Faktor Utama Generasi Sandwich dalam Memilih Properti
Rata-rata pertumbuhan bulanan (MoM) di Q2 2024
pencarian dekat faskes dan perkantoranPencarian untuk membeli apartemen naik 131% pada kuartal kedua 2024 dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Jika melihat berdasarkan jumlah kamar tidur yang dicari, pencarian beli apartemen dengan dua kamar tidur (2KT) tumbuh 220%. Pertumbuhan ini 1.8x lebih cepat dibandingkan apartemen dengan satu kamar tidur (1KT).
Alternatif Kepemilikan Properti
Jika kepemilikan hunian belum terjangkau, menyewa dapat menjadi alternatif bagi Generasi Sandwich. Dengan menyewa, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi tanpa beban cicilan dan biaya tambahan yang kerap menyertai kepemilikan hunian, serta memberikan keleluasaan memilih hunian sesuai preferensi.
Pertumbuhan kuartalan (QoQ)
total inventori hunian sewa +26%pada kuartal 2 tahun 2024
Pilihan hunian sewa semakin beragam seiring dengan meningkatnya pertumbuhan total inventori. Pada kuartal 2 tahun 2024, total inventori hunian sewa naik sebesar 26% dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan peningkatan pada apartemen sewa sebesar 28% dan rumah sewa sebesar 23%. Variasi ini memberikan lebih banyak opsi untuk menemukan hunian sewa yang sesuai dengan kebutuhan keluarga dan preferensi.
Tren Pasar dalam Sewa Properti
Rumah Sewa Tipe 55-120 di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bogor (Area Sub-urban) Turun Harga
Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Bekasi dan Kota Bogor merupakan pilihan menarik bagi pencari rumah sewa dengan tipe 55-120 di area sub-urban. Ketiga area ini menunjukkan penurunan harga sewa tahunan di kuartal 2 tahun 2024 dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga rumah sewa di Kabupaten Sidoarjo berubah -14% menjadi 30 juta rupiah, Kabupaten Bekasi mengalami perubahan sebesar -5% menjadi 35 juta rupiah, dan Kota Bogor berubah -3% menjadi 35 juta rupiah. Selain itu, total inventori rumah sewa di ketiga area ini juga meningkat secara kuartalan, masing-masing sebesar 27%, 36%, dan 19%. Di sisi lain, pencarian untuk rumah sewa tipe 55-120 di Kota Bogor dan Kabupaten Bekasi juga meningkat, masing-masing sebesar 125% dan 79%, menunjukan adanya peningkatan minat di area ini.
Tren Harga dan Inventori Rumah Sewa di Kab. Bekasi, Kota Bogor, dan Kab. Sidoarjo (2024 Q2)
Bagi yang lebih memilih tinggal di pusat kota, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Surabaya menawarkan peluang menarik dengan penurunan harga sewa tahunan untuk rumah tipe 55-120. Jakarta Timur mengalami perubahan harga sebesar -7% menjadi 50 juta rupiah, Jakarta Utara berubah -6% menjadi 65 juta rupiah, dan Surabaya berubah -5% menjadi 40 juta.
Terdapat juga peningkatan minat terhadap rumah sewa tipe 55-120 di Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Surabaya, dengan naiknya pencarian rumah sewa secara kuartalan, masing-masing sebesar 136%, 61%, dan 44%. Total inventori rumah sewa di ketiga kota ini juga meningkat secara kuartalan, masing-masing sebesar 89%, 8%, dan 21%.
Pencarian Apartemen Sewa di Jakarta Meningkat
Pertumbuhan kuartalan (qoq) pencarian apartemen sewa di
Jakarta
Pencarian apartemen sewa di kawasan urban menunjukkan peningkatan, dengan pertumbuhan kuartalan mencapai 14% di DKI Jakarta. Pertumbuhan ini 1,8 kali lebih cepat dibandingkan Bekasi Raya. Sementara itu, Tangerang Raya justru mengalami perubahan sebesar -23%. Mengindikasikan adanya tren positif untuk apartemen sewa di area urban dibandingkan di area sub-urban.
Tentang Pinhome Exclusive Report
Pinhome Exclusive Report adalah laporan yang dirancang untuk menyajikan analisis mendalam dan komprehensif tentang topik-topik tematik yang menjadi fokus utama dalam industri properti. Berbeda dengan laporan pasar kuartalan yang mencakup keseluruhan dinamika pasar seperti suplai, permintaan, dan kondisi pembiayaan dalam periode tertentu, Pinhome Exclusive Report mengambil pendekatan yang lebih spesifik dan menyeluruh terhadap isu-isu kunci yang mempengaruhi pasar properti Indonesia.
Pinhome Exclusive Report Oktober 2024 ini berfokus pada eksplorasi mendalam terhadap perjalanan Generasi Sandwich dalam meraih kepemilikan properti. Mengetahui Generasi Sandwich dihadapkan beban finansial yang besar karena menanggung orang tua yang sudah tidak produktif juga anak-anaknya yang masih membutuhkan dukungan finansial bahkan juga menanggung saudara-saudaranya, laporan ini menyajikan fakta-fakta terkait tantangan dan upaya generasi ini dalam memiliki hunian, serta solusi yang dapat diambil.
Metodologi
Laporan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pinhome dan YouGov. Data yang mendasari Pinhome Exclusive Report Oktober 2024 bersumber dari survei online yang dilakukan YouGov, dengan melibatkan 400 responden yang terdiri dari pria dan wanita berumur 18 tahun keatas dan berasal dari berbagai kelas sosial ekonomi di seluruh Indonesia, mencakup 200 pemilik rumah yang baru membeli dalam setahun terakhir dan 200 calon pembeli rumah dalam setahun mendatang. Selain itu, laporan ini bersumber dari database Pinhome yang komprehensif, mencakup lebih dari 1 juta inventori perumahan, untuk memberikan wawasan berharga tentang dinamika pasar saat ini, termasuk jenis properti yang diminati, perencanaan anggaran, serta perbedaan regional dalam ketersediaan dan keterjangkauan perumahan. Dengan menggabungkan database properti yang luas dari Pinhome dengan metodologi dan hasil penelitian yang handal dari YouGov, laporan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas di pasar properti, memberdayakan konsumen, pengembang, dan pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi.
Dengan analisis berbasis data dan wawasan yang dapat ditindaklanjuti, Pinhome Exclusive Report adalah sumber yang dapat diandalkan untuk memahami lanskap kepemilikan properti yang terus berkembang di Indonesia, menyediakan peta jalan yang jelas bagi mereka yang ingin mencapai tujuan kepemilikan rumah di pasar yang dinamis.
Tentang Pinhome
SHARE TO