Info Area

Plengkung Nirbaya Jogja

Yogayakarta merupakan salah satu kota yang memiliki sejarah khusus dalam perjalanan Indonesia. Selain itu memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi sendiri maupun bersama keluarga seperti Plengkung nirbaya di Alun-alun selatan. 

Bagi mereka yang memiliki rumah di Yogja tentu tak asing dengan gerbang keraton ini. Plengkung bermakna gerbang sementara Nirbaya berasal dari bahasa Jawa “Nir” yang artinya tidak ada, dan kata “Baya” yang bermakna bahaya. 

Makna dibalik nama Plengkung Nirbaya adalah gerbang menuju lokasi yang tidak berbahaya. Gerbang ini sendiri ternyata buka pintu gerbang biasa. Yuk simak sejarahnya beserta lokasi wisata ini berada!

Baca Juga :

Sejarah Plengkung Nirbaya Jogja

(Tribunnews)

Plengkung Nirbaya Jogja merupakan satu dari lima gerbang yang ada di daerah keraton Jogja. Gerbang lainnya yang dimaksud diantaranya adalah :

Plengkung Tarunasura 

Gerbang ini dikenal pula sebagai Plengkung Wijilan karena lokasinya di daerah Wijilan, Kelurahan Panembahan masuk wilayah Kecamatan Kraton. 

Posisinya berada di sebelah timur Alun-alun utara dan menjadi jalur utama lalu lintas kendaraan. Tarunasura sendiri dulu berisikan prajurit muda yang menjaganya.

Plengkung masih memiliki bangunan utuh. Sayangnya bagian tembok benteng kiri dan kanannya sudah hilang karena dijadikan pemukiman warga.

Plengkung Jagasura

Gerbang ini terletak di sebelah barat Alun-alun utara. Bentuknya tak utuh dan hanya berupa gapura saja. Kata Jaga sendiri bermakna menjaga sementara Sura artinya pemberani.

Filosofi dari namanya adalah gerbang yang dulunya dijaga oleh pasukan Mataram yang gagah dan tegas.

Plengkung Madyasura

Posisinya berada di sisi timur Keraton Yogyakarta dan disebut juga dengan Plengkung Buntet alias tertutup. 

Dulunya gerbang ini pernah mengalami pemugaran dan disulap sebagai gapura pada pemerintahan Sri Sultan HB VIII.

Plengkung Jayabaya

Letaknya di sisi barat Keraton Yogyakarta dan sering disebut dengan Plengkung Tamansari karena masuk kawasan Tamansari.

Jayabaya sendiri memiliki makna menjaga dari marabahaya. Jaga artinya menjaga dan Baya bermakna bahaya. Kondisi Plengkung sudah berubah bentuk dari wujud aslinya dan kini berupa gapura.

Plengkung Nirbaya

Dari semua Plengkung diatas, Plengkung Nirbaya adalah banguan terbesar dan paling utuh. Plengkung sering dikenal sebagai Plengkung Gading yang letaknya di selatan Alun-alun kidul.

Dinamakan Plengkung Gading karena warnanya putih seperti gading. Bangunan difungsikan sebagai pintu masuk menuju jeron benteng Keraton Jogja.

Ketika Sultan bertahta, tak ada satupun orang yang boleh melintasi Plengkung ini selama hidupnya. Plengkung ini menjadi pintu keluar bagi jenazah Sultan yang hendak dimakamkan menuju Imogiri.

Bagian puncak Plengkung terdapat ukiran burung yang sedang menghisap sari bunga. Dalam bahasa Jawa disebut dengan Lajering Sekar Sinesep Peksi.

Kata ini menyimpan makna berupa kata Lajering yang artinya angka satu, Sekar bermakna angka sembilan, Sinesep artinya angka enam dan Peksi berarti satu. Dari sini bisa diketahui bahwa bangunan Plengkung didirikan pada 1961.

Pada 1986 Plengkung pernah mengalami perbaikan untuk menjaga keasliannya. Berdasarkan Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY dulunya ada parit yang digunakan sebagai pertahanan terhadap serangan musuh.

Parit tersebut memiliki lebar 10 meter dan dalamnya 3 meter namun pada 1935 parit tersebut menghilang dan kini dijadikan jalan. Kini jalan tersebut berdiri Plengkung dan dilengkapi jembatan gantung.

Jika musuh datang maka jembatan akan ditarik ke atas dan menutup pintu penutup Plengkung. Di kawasan Plengkung Gading terdapat menara sirine.

Menara ini hanya digunakan dua kali saja. Pertama ketika 17 Agustus untuk mengingat detik proklamasi dan kedua saat bulan Ramadhan menjelang berbuka puasa.

Rute Menuju Plengkung Nirbaya Jogja

Plengkung Nirbaya ini meruapakan rute yang dilewati oleh jenazah sultan dan bersama keluarga kerajaan atau Keraton Jogja sebelum dilakukan pemakaman.

Kala itu  pemakaman sultan / raja dilaksanakan di daerah Kota Gede atau tepatnya di makam keluarga raja di kawasan Imogiri.

Untuk rute menuju Plengkung Nirbaya sendiri cukup mudah dan tidak perlu menempuh jalan terjal seperti gunung dan pantai yang membutuhkan perjuangan khusus. 

Kamu bisa langsung menuju Alun – alun selatan. Posisinya 300 meter di sebelah selatan. 

Jika dari stasiun Tugu Yogyakarta maka berjarak 3.8 km atau sekitar 5 km dari stasiun Lempuyangan. Plengkung ini terbuka untuk umum dan gratis bagi pengunjungnya.

Spesifikasi Plengkung Nirbaya

Plengkung Gading dibangun memakai batu bata yang dilapisi dengan semen yang memiliki ketebalan 55 cm. Ada bongkahan sebesar 2.4 meter yang dikubur dalam tanah hasil galian.

Tingginya urugan sendiri 3.7 meter dari permukaan tanah. Pengunjung bisa naik ke Plengkung melalui tangga yang ada di sebelah barat dan timurnya. 

Ada sirine di dekat Plengkung yang dibangun pada 1930. Sirine ini pada awalnya difungsikan memberikan peringatan dini adanya bahaya udara yang dioperasikan oleh Lucht Bescherming Dienst (LBD).

Mitos Plengkung Nirbaya Jogja

(Tribunnews)

Kabarnya bagi yang orang yang memiliki ilmu hitam dilarang melewati Plengkung ini. Jika tetap melewatinya bisa hilang semua ilmu hitam yang dimilikinya.

Walau sudah lama dibangun namun Plengkung masih kokoh hingga saat ini. Pada malam hari bangunan Plengkung juga dihiasi lampu berwarna-warni.

Baca Juga :


Temukan beragam pilihan rumah seperti rumah baru di Bandung terlengkap di daftar properti & iklankan properti kamu di Jual Beli Properti Pinhome. Bergabunglah bersama kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk kamu agen properti independen atau agen kantor properti. 

Kamu juga bisa belajar lebih lanjut mengenai Properti di Property Academyby Pinhome. Download aplikasi Rekan Pinhome melalui App Store atau Google Play Store sekarang!

Hanya di Pinhome.id yang memberikan kemudahan dalam membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Editor : Nurchalimah