Pinhome

Memahami KPR Konvensional dan Syariah Agar Tidak Salah Pilih

Dipublikasikan oleh Puri ∙ 2 December 2021 ∙ 7 menit membaca

Kredit Pemilikan Rumah atau disingkat KPR merupakan metode pembiayaan yang lumrah digunakan dalam membeli rumah. Hadirnya KPR sangat membantu masyarakat dengan penghasilan yang tidak memungkinkan untuk membeli secara tunai agar tetap berkesempatan memiliki rumah. Pada prakteknya, metode KPR terbagi lagi menjadi KPR konvensional dan syariah.

Pinhome – KPR biasanya diselenggarakan oleh bank dengan ketentuan yang berbeda-beda. Pins bisa saja memilih bank mana yang ingin dijadikan tujuan pengajuan KPR konvensional dan syariah. Tetapi, kadang developer bisa saja menjalin kerjasama terlebih dulu dengan bank tertentu. Karenanya, Pins juga perlu memastikan kebijakan developer sesuai dengan jenis KPR yang Pins inginkan.

Baca Juga: Keuntungan Membeli Rumah Secara Online

Sekilas Tentang KPR Konvensional dan Syariah

Secara umum, KPR adalah produk pembiayaan yang diselenggarakan  oleh bank dengan rumah sebagai jaminan. Jadi, rumah yang Pins beli pembayarannya ditanggung oleh bank. Selanjutnya, Pins mengganti pembayaran tersebut kepada bank dengan mencicil. Tetapi, untuk dapat mengajukan KPR konvensional maupun syariah, Pins tetap harus menyetorkan sejumlah biaya di awal sebagai uang muka.

KPR konvensional biasanya merupakan produk ditawarkan oleh bank konvensional pula. Pada prinsipnya, KPR jenis ini memberikan kredit dengan pembayaran mencakup harga rumah beserta bunganya. Besaran ini biasanya menyesuaikan suku bunga yang sedang berlaku.

Sementara itu, KPR syariah seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang beragama Islam. Alasan utamanya adalah karena KPR jenis ini menonjolkan sifatnya yang bebas riba. Seperti diketahui, dalam Islam segala pembayaran yang mengandung bunga termasuk ke dalam riba. Sementara riba hukumnya haram.

Lalu dari mana bank bisa mendapatkan keuntungan atas pembiayaan ini? Nah, prinsip pembiayaan pada KPR syariah adalah pembelian rumah oleh bank dari developer. Rumah tersebut kemudian dijual oleh bank kepada nasabah dengan harga yang lebih tinggi. Margin yang dibebankan kepada nasabah akan disepakati di awal dan tidak berubah.

Baca Juga: Cara Membuat Rumah Nyaman Tapi Murah

Bagaimana Perbandingan KPR Konvensional dan Syariah?

Kedua tipe KPR ini tentunya memiliki beberapa perbedaan mendasar. Perbedaan-perbedaan ini menggambarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan. Hal-hal tersebut kemudian dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih antara KPR konvensional dan syariah. Berikut uraiannya, Pins!

1. Skema Kredit

KPR konvensional dan syariah memiliki perbedaan mencolok pada skema kreditnya. Dalam KPR biasa, bank menetapkan syarat dan ketentuan atas perjanjian kredit. Dan karena menggunakan sistem bunga, maka turun naiknya suku bunga mengacu pada BI Rate.

Sementara pada KPR syariah, skema yang diterapkan adalah jual beli atau yang dikenal dengan istilah Murabahah. Jadi, bank akan membiayai pembelian suatu rumah yang dipilih nasabah. Dari nilai jual yang dibayarkan bank, nasabah membayar uang muka dengan jumlah sesuai kesepakatan.

Kemudian nasabah membayar sisa harga secara diangsur dengan ditambah margin. Jika diperhatikan, proses ini persis seperti jual beli di mana penjual membeli barang dan menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. Bisa dibilang skema kredit ini menjadi pembeda paling mendasar antara KPR konvensional dan syariah.

Baca Juga: Contoh Denah Rumah Moden Minimalis

2. Tenor Kredit

Tenor kredit yang lebih panjang merupakan salah satu kelebihan KPR konvensional. Peminjam bisa mengajukan tenor hingga 25 tahun jika memenuhi persyaratan. Panjangnya tenor berdampak kepada semakin ringannya cicilan per bulan yang harus dibayarkan. Hal ini akan lebih menguntungkan karena Pins akan lebih leluasa mengatur keuangan setiap bulan.

Sementara untuk KPR syariah, rata-rata tenornya maksimal 15 tahun. Semakin lama tenor yang Pins ajukan, semakin tinggi pula margin yang akan dibebankan. Karena itu, perpanjangan tenor dalam KPR syariah tidak terlalu menguntungkan jika dibandingkan dengan KPR konvensional. Inilah yang sering jadi pertimbangan dalam memilih antara KPR konvensional dan syariah.

Baca Juga: Tips Membeli Rumah dan Faktor yang Harus Diperhatikan

3. Besar Angsuran

Faktor besarnya angsuran sudah pasti menjadi hal yang sangat Pins pertimbangkan dalam mengajukan KPR konvensional dan syariah. Dalam KPR konvensional, jumlah angsuran pokok ditentukan oleh kebijakan masing-masing bank. Hal yang dipertimbangkan biasanya adalah besarnya uang muka yang telah disetorkan serta kondisi keuangan peminjam itu sendiri. Jumlah angsuran seluruhnya adalah angsuran pokok ditambah dengan bunga.

Perhitungan bunga inilah yang kemudian dapat menjadikan angsuran turun atau naik. Biasanya, bank akan menerapkan bunga tetap (fixed rate) di beberapa tahun awal tenor kredit sehingga angsuran yang dibayarkan tidak berubah. Namun, selepas itu bank akan menerapkan bunga mengambang yang persentasenya tergantung pada kondisi pasar (floating rate).

Besaran angsuran yang dapat berubah-ubah ini tidak berlaku pada KPR syariah karena tidak adanya sistem bunga. Tetapi bank membebankan margin kepada nasabah yang penentuan persentasenya mempertimbangakan lamanya tenor. Jadi, angsuran pokok akan ditambahkan dengan nilai margin untuk mendapatkan jumlah angsuran total. Ini menjadi satu pembeda mendasar lainnya antara KPR konvensional dan syariah.

Baca Juga: Tren Tabrak Warna untuk Rumah Minimalis

4. Ketentuan Denda

KPR konvensional dan syariah sama-sama menerapkan denda bagi peminjam yang terlambat membayar angsuran setiap bulannya. Perbedaannya adalah bahwa KPR konvensional biasanya dihitung sebagai laba bank. Sementara pada KPR syariah, denda tersebut disalurkan sebagai dana sosial. Namun belakangan ada juga KPR syariah yang tidak menerapkan denda ini.

Selain denda keterlambatan, KPR konvensional juga akan memberikan denda atau penalti jika Pins bermaksud melunasi angsuran sebelum tenor berakhir. Penalti ini tidak ada dalam KPR syariah. Sehingga jumlah yang harus dibayar tidak berubah meskipun pelunasan dilakukan lebih cepat. Inilah salah satu pembeda lain antara KPR konvensional dan syariah.

Baca Juga: Tips Desain Rumah Aman dan Nyaman

Pertimbangan dalam Memilih Antara KPR Konvensional dan Syariah

Beberapa perbandingan antara KPR konvensional dan syariah di atas mungkin sudah memberikan gambaran bagi Pins dalam menentukan pilihan. Lebih jauh, tidak hanya keunggulan pilihan KPR yang harus dipertimbangkan, tetapi juga kondisi keuangan Pins sendiri sebagai calon peminjam. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis KPR.

Baca Juga: Cara Menghitung Biaya Borong Tenaga Rumah 2 Lantai

1. Prinsip

Apakah Pins sedang berusaha menerapkan pola hidup syar’i, salah satunya dengan menghindari riba? Jika iya, maka hampir pasti pilihan akan jatuh pada KPR syariah. Dengan prinsip murabahah yang diterapkan, KPR syariah dapat membantu Pins untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Tetapi KPR konvensional dan syariah sama baiknya jika dipertimbangkan dengan tepat. KPR konvensional dengan denda keterlambatannya akan membuat nasabah berpikir untuk disiplin membayar.

Baca Juga: Informasi Lengkap Atap Baja Ringan Seng Galvanum

2. Kemampuan

Pertimbangan selanjutnya dalam memilih antara KPR biasa dan syariah adalah kemampuan finansial Pins. Mungkin Pins memiliki penghasilan bulanan yang tidak terlalu besar, tetapi nilainya stabil dan yakin akan bertahan pada pekerjaan tersebut hingga bertahun-tahun kemudian. Jika demikian, KPR konvensional bisa menjadi pilihan. Pins bisa mengajukan tenor panjang karena angsurannya akan lebih ringan.

Namun, hal yang harus diantisipasi adalah perubahan sistem dari bunga tetap ke bunga mengambang. Pins harus siap dengan fluktuasi angsuran yang disebabkan bunga yang tidak menentu. Jika ingin bebas dari permasalahan bunga ini, Pins bisa memilih KPR syariah.

Angsuran yang stabil hingga akhir tenor pada KPR syariah menjanjikan kepastian kepada nasabah. Tetapi hal yang perlu diperhitungkan adalah kemampuan finansial Pins sendiri. Seperti diketahui, dengan margin di awal serta tenor yang lebih singkat, KPR syariah biasanya memiliki nilai angsuran lebih tinggi.

Baca Juga: Dress Room adalah Ruangan Tempat Menyimpan Baju

3. Kebutuhan

Pertimbangan terakhir dalam memilih antara KPR konvensional dan syariah adalah pada kebutuhan. Misalnya Pins tidak memilih KPR syariah karena tenor yang pendek. Tetapi apakah benar Pins membutuhkan tenor yang panjang sementara penghasilan mencukupi untuk membayar angsuran dengan tenor pendek?

Contoh lainnya adalah Pins tidak memilih KPR umum karena takut terkena penalti pelunasan. Padahal belum tentu pilihan untuk melunasi lebih awal adalah sesuatu yang mungkin Pins lakukan. Apalagi jika penghasilan dimiliki terbilang stabil dan dapat secara berkala membayar hingga akhir tenor.

Baca juga: Memilih KPR, Perhatikan 5 Hal Penting Berikut Ini!

Pilihan antara KPR konvensional dan syariah memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keputusan untuk memilih tergantung kepada hasil pertimbangan Pins sendiri, baik dari segi finansial maupun faktor pendukung lainnya. Hal terpenting adalah bagaimana memberikan rumah yang nyaman bagi keluarga tersayang.


Temukan pilihan rumah terlengkap di Aplikasi Pinhome. Dapatkan properti idaman melalui program NUP untuk akses eksklusif. Untuk kamu agen properti independen atau agen kantor properti bergabunglah menjadi rekan agen properti bersama kami dan iklankan properti kamu di sini. 

Kamu juga bisa belajar lebih lanjut mengenai properti di Property Academy by Pinhome. Gabung menjadi Rekan Jasa Pinhome melalui aplikasi Rekan Pinhome di App Store atau Google Play Store sekarang!

Hanya di Pinhome.id yang memberikan kemudahan dalam membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Bagikan Artikel