Pinhome

  • Blog
  • Finansial
  • KPR adalah Solusi untuk Mendapatkan Rumah dengan Mudah

Finansial

KPR adalah Solusi untuk Mendapatkan Rumah dengan Mudah

Dipublikasikan oleh Puri ∙ 23 April 2021 ∙ 6 menit membaca

Dengan harga rumah yang semakin naik dari tahun ke tahun, seringkali membuat orang ragu untuk bisa membeli rumah terutama di kota-kota besar. Hal ini juga didukung dengan pendapatan pegawai yang naiknya tidak signifikan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, KPR adalah salah satu program yang dapat membantu Pins yang juga mengalami hal yang sama.

Pinhome – Kredit pemilikan rumah atau KPR adalah layanan pinjaman dari bank untuk membeli sebuah rumah yang nantinya akan dibayar dengan cicilan. Dengan menggunakan KPR, nasabah dapat membeli sebuah rumah dan bahkan menempatinya setelah proses terima. Nantinya rumah akan menjadi milik Pins ketika proses cicilan sudah selesai.

Tujuan dari KPR adalah untuk memudahkan dan meringankan nasabah dalam membeli rumah. Akan tetapi, dalam KPR terdapat suku bunga yang menyebabkan harga rumah naik. Oleh karena itu, pastikan Pins memilih dan menggunakan KPR yang tepat.

Jenis KPR yang ada di Bank

Sumber: Maucash

Saat ini, terdapat dua macam KPR yang tersedia di Bank-bank Indonesia, yaitu KPR Konvensional dan KPR Syariah. Kedua KPR adalah pinjaman dari bank namun menggunakan akad dan cara yang berbeda saja. Selain itu, yang membedakan adalah apa yang ditransaksikan. Untuk lebih paham, mari kita bahas masing-masing KPR secara lebih detail.

KPR yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah KPR Konvensional. Cara kerja KPR adalah bank akan memberikan pinjaman kepada para nasabah untuk membeli rumah dengan jaminan rumah tersebut. Selanjutnya nasabah harus membayar pinjaman tersebut selama periode tertentu dengan suku bunga tertentu.

Suku bunga inilah yang nilainya tidak tentu karena fluktuatif mengikuti BI rate atau kebijakan bank. Sedangkan tenor KPR adalah 5 hingga 25 tahun, tergantung keinginan dari nasabah. Namun semakin pendek tenornya, maka total pembayaran akan lebih kecil.

Sedangkan untuk sistem Syariah, KPR adalah pinjaman juga dari bank namun menggunakan akad jual-beli. Jadi, bank tidak akan meminjamkan uang, melainkan membeli dulu rumah tersebut lalu menjualnya ke nasabah. Namun harga jualnya ke nasabah akan ditambahkan dengan margin tertentu.

Nilai margin akan ditentukan di awal sehingga nilai total akan diketahui di awal. Dengan begitu, nasabah dapat mengetahui jumlah uang yang disediakan untuk membayar KPR tersebut. Dan nilai KPR adalah tetap dan tidak akan berubah meskipun tenornya 20 tahun.

Cara Simulasi KPR Konvensional & Syariah

Terlambat Membayar Angsuran KPR Rumah

Untuk lebih memahami perbedaan kedua jenis KPR, maka mari lakukan perhitungan simulasi untuk keduanya. Dalam perhitungan ini, harga rumah KPR adalah sama yaitu Rp700.000.000 dengan DP Rp100.000.000. Selanjutnya tenor juga sama-sama memilih 15 tahun. Dengan begitu, Pins dapat mengetahui jenis KPR mana yang lebih baik.

Pertama, perhitungan akan menggunakan KPR konvensional yang paling banyak digunakan saat ini. Suku bunga yang digunakan di KPR adalah 7% untuk tahun pertama. Karena total pinjaman adalah Rp600.000.000, maka nilai tersebut dibagi 20 tahun untuk mengetahui cicilan/bulannya sebelum bunga.

Angsuran pokok per bulannya adalah Rp1.890.000, sedangkan angsuran bunganya adalah Rp3.500.000. Sehingga total cicilan per bulannya adalah sekitar Rp5.400.000 Ini hanya untuk perhitungan tahun 1 saja, karena suku bunga akan selalu berubah setiap tahunnya. Namun jika suku bunga diasumsikan sama, maka total KPR adalah Rp973.970.314.

Sekarang, mari lanjut menghitung dengan KPR Syariah untuk rumah yang sama. Mari menggunakan margin 9% untuk harga rumah tersebut. Bank akan membeli rumah dengan harga Rp700.000.000 dan mengurangi nilai pinjaman dengan DP yang telah dibayar. Sehingga total KPR adalah Rp602.000.000.

Bank selanjutnya menjual rumah tersebut ke nasabah dengan seharga Rp1.414.700.000, sehingga cicilan per bulannya adalah Rp7.859.444. Jumlah ini tidak akan berubah karena bunga KPR adalah tetap/ flat dari awal hingga akhir, Jadi, Pins tidak perlu khawatir jika terjadi kenaikan suku bunga.

Lebih Baik KPR Konvensional atau KPR Syariah

Setelah mengetahui pengertian dan cara perhitungan masing-masing KPR, sebagian besar orang pasti memilih KPR konvensional untuk membeli rumah. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena pada saat awal hitungannya terlihat lebih murah dibandingkan dengan KPR Syariah. Namun perlu diingat dan dicatat bahwa suku bunga KPR adalah fluktuatif.

Untuk Pins yang tidak ingin mengambil resiko lebih dan ingin nilai yang tetap, maka KPR Syariah lebih disarankan. Meskipun tampak lebih mahal, namun KPR Syariah lebih aman ketika kondisi ekonomi tidak aman. Karena dengan sistem Syariah, suku bunga KPR adalah flat, tidak naik maupun turun.

Baca juga: Jangan Bingung! Ini Istilah-istilah KPR yang Perlu Kamu Ketahui

Tips Agar KPR Disetujui Oleh Bank

Proses Appraisal Bank

Meskipun cara kerja KPR konvensional dan Syariah berbeda namun cara pengajuan KPR adalah sama untuk setiap bank. Sebelum menyetujui KPR, bank akan tetap melakukan Analisa kelayakan terhadap keuangan nasabah. Sehingga, tidak semua KPR akan disetujui oleh bank. Untuk membantu Pins dalam mengajukan KPR, berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan:

1. Masuk Batasan Usia

Bank memiliki Batasan usia 21 tahun – 55 tahun untuk yang ingin mengajukan cicilan. Ketika akan mengajukan KPR, pastikan untuk mempertimbangkan periode tenor agar masuk dalam batasan usia tersebut. Contohnya jika Pins saat ini usia 38 tahun, maka pilihlah tenor maksimal 17 tahun.

Hal ini dikarenakan Batasan usia KPR adalah 55 tahun. Jika Pins mengambil lebih dari itu, pasti akan ditolak karena Pins sudah berusia lebih dari 55 tahun. Jadi, jangan lupa untuk mempertimbangkan hal tersebut pada saat pengajuan KPR.

2. Kelengkapan Dokumen

Ada banyak persyaratan dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan KPR. Pastikan semua dokumen lengkap dan detail karena bank akan melakukan pengecekan satu per satu. Persetujuan KPR adalah keuntungan namun juga risiko untuk bank, jadi pihak akan memastikan keaslian dokumen. Jadi, pastikan untuk melampirkan copy dokumen yang asli.

3. Kredit tidak Lebih dari 30%

Pastikan total cicilan yang dibayarkan tidak lebih dari 30-40% dari gaji Pins. Karena ini akan beresiko untuk bank dan menyulitkan pengaju. Jadi, pastikan untuk mengajukan KPR sesuai dengan kemampuan pendapatan. Jangan terlalu besar karena pasti akan ditolak oleh bank.

4. Bukti Penghasilan Detail

Salah satu syarat KPR adalah adanya bukti penghasilan detail. Bank akan melakukan pengecekan sumber dana berasal dari mana saja dan apakah cukup untuk membayar cicilan. Semakin detail dan jelas bukti penghasilannya akan semakin bagus.

5. Catatan Bersih

Bank akan selalu melakukan pengecekan terhadap sejarah keuangan nasabah melalui BI checking. Jika ada hutang yang menunggak, bank akan sangat mempertimbangkan hal ini. Jadi, agar KPR diterima, pastikan memiliki catatan yang bersih di BI.

Jadi, itulah beberapa hal yang Pins perlu ketahui tentang KPR konvensional maupun Syariah. KPR adalah salah satu metode untuk memudahkan Pins dalam membeli rumah, namun ingat bahwa ada suku bunga dan margin. Pastikan untuk selalu memperhitungkan dengan baik keuangan Pins sebelum mengajukan KPR.

Seringkali nasabah tidak melakukan perhitungan dengan baik sehingga terjadi penumpukan pembayaran di akhir. Jika Pins menggunakan KPR konvensional, akan terkena denda yang cukup besar. Jadi, pastikan untuk mengetahui kemampuan Pins dalam membayar ketika mengajukan KPR.


Temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk Anda Agen properti independen atau Agen kantor properti.

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Anda kemudahan membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Bagikan Artikel