Cacing Pita

Dipublikasikan oleh Harsanto Maulana Ibrahim ∙ 25 January 2021 ∙ 11 menit membaca

Cacing adalah salah satu hewan yang mudah ditemui dan banyak jenisnya. Beberapa cacing bahkan sangat berbahaya bagi manusia, salah satunya yaitu cacing pita. Cacing pita merupakan cacing parasit dan dapat masuk ke dalam tubuh sehingga dapat menimbulkan penyakit.

Salah satu jenis cacing parasit. Tapi beda dengan cacing kremi, cacing ini lebih banyak ditemukan di tubuh hewan ternak. Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut mengenai cacing pita ini, maka berikut ini adalah ulasannya.

Informasi Umum Mengenai Cacing Pita

Sesuai namanya, cacing pita adalah cacing yang memiliki bentuk yang pipih dan juga memiliki segmen. Biasanya cacing pita ini akan hidup di dalam sistem pencernaan dari hewan ternak. Biasanya cacing ini akan menular melewati minuman ternak yang terkontaminasi telur parasit.

Cacing Pita

Cacing pita memang lebih banyak menginfeksi hewan ternak, akan tetapi ternyata, cacing ini tidak hanya bisa hidup di tubuh ternak tapi juga bisa hidup di dalam tubuh manusia.

Salah satu penularan paling umum dan paling banyak terjadi pada manusia adalah ketika manusia memakan daging mentah sehingga memungkinkan telur cacing pipih hidup dan termakan.

Infeksi cacing pita disebut juga dengan Taeniasis. Umumnya, cacing pita memiliki struktur tubuh yang memanjang dan pipih layaknya pita. Tubuhnya tertutup oleh zat lilin atau yang disebut dengan kutikula. Untuk cacing pita dewasa bisa memiliki panjang 5-10 meter.

Taksonomi Dan Ciri-Ciri Cacing Pita

Ciri-Ciri Cacing Pita

Adapun taksonomi cacing pita yaitu, termasuk dalam kingdom animalia, filum platyhelminthes, ordo cyclophyllidea, kelas cestoda, famili taeniidae, dan genus Taenia. Cacing pita tergolong dalam hewan multiseluler. Artinya, hewan tersebut terdiri dari banyak sel.

Terdapat 3 lapisan lembaga pada tubuhnya, yaitu endoderm (lapisan dalam), mesoderm (lapisan tengah, serta ektoderm yang merupakan lapisan luar. Pada tubuh cacing pita tersusun atas segmen-segmen yang disebut proglotid.

Di bagian kepala cacing pita terdapat alat isap yang memiliki skoleks (kait) yang terbuat dari zat kitin. Sekalipun memiliki kait, namun cacing pita ini tidak mempunyai mulut. Dengan demikian, cacing ini menyerap nutrisi dengan permukaan tubuhnya, bukan dengan mulutnya.

Cacing pita termasuk hewan hermaprodit yaitu hewan dengan dua alat kelamin dalam satu individu. Jadi, setiap bagian proglotidnya mempunyai 2 organ reproduksi yaitu jantan dan betina.

Siklus Hidup Cacing Pita

Adapun siklus hidup cacing pita seperti dalam penjelasan berikut;

Siklus Hidup Cacing Pita

1. Telur Cacing Lepas Ke Lingkungan

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa cacing pita ini termasuk hewan parasit sehingga ia memerlukan inang agar bisa berkembang biak. Salah satu tuan rumah yang cocok untuknya yaitu usus halus manusia.

Telur cacing pita yang sudah matang kemudian berkembang menjadi larva onchospheres, lalu terlepas dari tubuh cacing pita dewasa. Setelah itu keluar bersama feses manusia melalui anus.

2. Infeksi Hewan Ternak

ketika telur cacing pita tersebut keluar dari tubuh manusia, ada kemungkinan telur tersebut bisa berpindah inang. Dua jenis hewan yang sering menjadi inangnya yaitu babi dan sapi.

Kedua hewan tersebut terinfeksi cacing pita dari pakan ternak yang dikonsumsi dan sudah terkontaminasi telur cacing pita.

Setelah telur masuk ke dalam usus binatang, larva oncocpheres kemudian menetas menjadi embrio. Lalu, menyerang dinding usus dan masuk ke sistem peredaran darah hewan.

Lalu, larva tersebut menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya jantung, otot lidah, bahu, hati, dan sistem limfatik. Embrio cacing pita pada hewan tersebut bisa bertahan beberapa tahun.

3. Infeksi Manusia

Manusia juga bisa saja menelan larva cacing pita. Hal ini karena larva tersebut biasanya tersembunyi di daging hewan yang tidak dimasak matang/ masih mentah. Tidak hanya itu, bisa juga saat mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak bersih, tercemar kotoran manusia/ hewan yang sudah terinfeksi cacing.

Setelah tertelan, kepala cacing pita akan menempel di dinding usus halus dengan sangat kuat, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa yang akan menumpahkan telurnya di kotoran manusia yang sudah terinfeksi. Siklus hidup cacing ini akan berulang kembali setelah telur-telur tersebut bermigrasi ke anus dan sudah masuk tinja.

Infeksi Cacing Pita (Taeniasis)

Penyakit yang diakibatkan karena infeksi cacing pita disebut dengan taeniasis. Infeksi parasit ini bisa ditangani dengan mudah, namun tidak boleh disepelekan karena bisa berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Sebagian besar orang yang menderita infeksi ini tidak menunjukkan gejalanya. Dengan demikian, untuk benar-benar mengetahuinya yaitu saat melihat adanya cacing pita di tinja.

Namun, beberapa orang lainnya justru menunjukkan gejalanya jika terinfeksi cacing pita ini. Gejalanya seperti; mual, diare, nafsu makan menurun, sakit perut, pusing, penurunan berat badan, dan keinginan untuk selalu mengonsumsi makanan asin.

Gejala berat juga bisa terjadi. Hal ini terjadi karena telur cacing tersebut sudah berpindah keluar dan membentuk kista larva pada organ lainnya. Untuk gejala berat seperti; sakit kepala, adanya benjolan, gejala terjadi pada sistem saraf seperti kejang, reaksi alergi terhadap larva.

Penularan Cacing Pita

Penularan Cacing Pita

Cacing pita yang biasanya muncul pada manusia biasanya ada 6 tipe, 3 jenis diantaranya yang paling banyak muncul adalah Tania Saginata, Taenia Solium dan juga Diphyllobothrium Latum.

Meskipun masing-masing cacing pita ini hidup di sapi, babi dan ikan, akan tetapi cacing pita tersebut juga bisa menular pada manusia.

Proses penularan cacing pita dari hewan ke manusia ini ada 2 cara yaitu :

Penularan Melalui Telur Dalam Makanan

Salah satu cara penularan dari cacing pita adalah melalui makanan. Cacing pita merupakan cacing yang bisa hidup di otot dari hewan yang terinfeksi.

Jika daging dari hewan yang terinfeksi ini tidak dimasak secara matang, maka telur dan cacing bisa ikut dalam daging tersebut dan masuk ke dalam tubuh.

Di dalam tubuh cacing bisa tertelur dan telur bisa menetas ke dalam tubuh menyebabkan seseorang akan terinfeksi cacing pita ini.

Penularan Melalui Manusia Lain

Selain ditularkan melalui daging dari hewan yang terinfeksi, cara lain yang umumnya bisa menyebabkan penularan cacing pita ini adalah dari satu orang ke orang lain.

Orang yang sudah terinfeksi cacing pita dan tidak membasuh tangannya dengan baik setelah pergi buang air dan menyiapkan makanan untuk orang lain juga bisa menularkan telur dari cacing pita melalui makanan yang disiapkannya tersebut.

Gejala Penderita Cacing Pita

Cacing pita bisa menyebabkan beberapa gejala pada penderitanya. Beberapa gejala yang umumnya di derita oleh orang yang terinfeksi cacing pita ini antara lain adalah :

  1. Rasa mual
  2. Rasa lelah dan letih
  3. Diare
  4. Rasa sakit pada bagian perut
  5. Selalu merasa lapar tapi tidak nafsu makan
  6. Rasa lemah
  7. Kehilangan berat badan
  8. Defisiensi vitamin dan mineral

Pada dasarnya orang yang mengalami infeksi cacing pita tidak akan mengalami gejala yang spesial. Oleh karena itu, orang-orang sering kali tidak tahu bahwa mereka sedang mengalami infeksi cacing pita ini.

Terkadang cacing pita ini juga akan terasa seperti benda bergerak di bagian pencenaan akan tetapi hal ini bukan merupakan hal yang umum dan sangat jarang ditemui.

Untuk pengobatannya, infeksi cacing pita ini bisa diobati dengan cara yang cukup mudah. Akan tetapi bisa juga menyebabkan masalah yang lebih serius karena penanganan yang terlambat.

Salah satu masalah yang paling banyak dialami oleh orang-orang yang mengalami infeksi cacing pita adalah tertutupnya saluran pencernaan atau saluran kecil lain seperti saluran pankreas dan juga saluran empedu. Jika sudah seperti ini, maka tindakan medis memang harus di lakukan.

Perlu Anda ketahui, cacing pita ini memiliki 3 fase dalam hidupnya yaitu fase telur yang biasa digunakan dalam penularan, fase larva dan juga fase dewasa. Jika cacing pita ini masih dalam bentuk larva dan ia bergerak keluar dari saluran pencenaan, maka cacing ini bisa masuk ke bagian tubuh lainnya.

Hal ini disebabkan karena ukurannya yang masih cukup kecil. Larva dari cacing pita ini bisa bergerak ke banyak organ, mulai dari liver, mata, jantung dan bahkan otak. Infeksi inilah yang menjadi salah satu infeksi yang berbahaya sangat mungkin membahayakan jiwa penderitanya.

Penyebab Taeniasis

Taeniasis ini terjadi ketika telur atau larva cacing ada di usus manusia. Adapun masuknya telur cacing ni bisa melalui beberapa hal, seperti;

  • Mengonsumsi daging babi, sapi, ikan air tawar yang tidak dimasak matang secara sempurna.
  • Mengonsumsi air kotor yang di dalamnya mengandung larva cacing. Hal ini terjadi akibat air tersebut sudah terkontaminasi kotoran, baik itu kotoran hewan maupun kotoran manusia yang sudah terinfeksi.
  • Melakukan kontak dekat atau langsung dengan penderita, misal melalui pakaian atau apapun yang sudah terkontaminasi kotoran yang di dalamnya sudah mengandung telur cacing.

Untuk cacing pita yang menular melalui daging sapi disebut dengan Taenia saginata. Sementara yang melalui daging babi disebut dengan Taenia solium.

Setiap tubuh daging pita bisa menghasilkan telur. Penyebarannya yaitu melalui kotoran yang mengandung cacing pita. Untuk itu, agar hal ini tidak terjadi, maka kebersihan harus dijaga baik itu untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Cara Diagnosis Taeniasis

Untuk mendiagnosis apakah seseorang terinfeksi taeniasis ini bisa dilakukan beberapa pemeriksaan, antara lain;

Analisis Sampel Tinja.

sampel tinja diambil, lalu dianalisis dan diteliti di laboratorium dengan alat mikroskop. Tujuannya yaitu untuk mengidentifikasi adanya telur atau bagian tubuh cacing pita lainnya yang ada di tinja.

Tes Darah Lengkap.

Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui antibodi di dalam tubuh yang bereaksi terhadap taeniasis ini.

Uji Pencitraan

Selain dua jenis pemeriksaan di atas, dokter juga bisa melakukan uji pencitraan. Misalnya; CT scan, MRI, foto rontgen, atau USG untuk mengidentifikasi adanya infeksi berat.

Komplikasi Taeniasis

Taeniasis ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi, seperti;

Gangguan Pencernaan

Cacing pita yang sudah tumbuh besar di dalam tubuh manusia akan berpotensi menghambat juga menginfeksi usus buntu. Tidak hanya itu, hal tersebut juga bisa mengganggu pankreas dan saluran empedu.

Gangguan Fungsi Organ

Gangguan fungsi organ juga bisa terjadi karena larva bisa berpindah ke organ-organ lain yang ada di dalam tubuh, seperti paru-paru, hati, atau yang lainnya sehingga membentuk kista. Kista tersebut kemudian akan tumbuh semakin besar sehingga aliran darah dan fungsi organ tersebut terhambat.

Gangguan Otak/ Sistem saraf pusat

Contoh dari infeksi taeniasis yang mengganggu sistem saraf, seperti; meningitis, demensia, dan hidrosefalus. Jika infeksi semakin parah, maka bisa menimbulkan kematian.

Bagaimana Agar Taeniasis Tidak Terjadi?

Agar infeksi cacing pita ini tidak terjadi, ada beberapa langkah yang bisa anda lakukan, yaitu;

  • Menghindari mengonsumsi daging (utamanya daging babi) dan ikan yang tidak matang sempurna.
  • Mencuci bersih semua sayuran dan buah-buahan yang akan dikonsumsi. Jika perlu dimasak, masaklah dengan matang.
  • Jika anda memiliki peternakan, maka buatlah saluran yang baik untuk pembuangan kotoran. Dengan begitu, tidak akan mencemari air dan lingkungan.
  • Jika ada hewan peliharaan yang terinfeksi, sebaiknya segera bawa ke dokter.
  • Mencuci tangan dengan sabun, baik itu sebelum atau sesudah membuat makanan, sebelum dan sesudah makan, serta setelah keluar toilet.

Pencegahan Penularan Cacing Pita

Keberadaan dan infeksi dari cacing pita memang bisa menyebabkan masalah yang cukup serius, oleh karena itu, akan lebih baik jika upaya pencegahan dilakukan.

Upaya pencegahan utama yang harus dilakukan adalah dengan mencuci tangan baik sebelum atau setelah Anda menggunakan toilet. Selain itu, ada baiknya jika Anda mengikuti beberapa hal berikut ini terkait dengan pencegahan penularan cacing pita ini.

  • Hindari makanan mentah baik itu daging ataupun ikan
  • Masak makanan hingga suhu 1450F dan diamkan daging selama 3 menit terlebih dahulu sebelum di makan. Panas yang tersisa dari proses pemasakan daging yang Anda masak ini akan membantu membunuh patogen yang ada di daging tersebut.
  • Bekukan daing hingga -40F selama 24 jam juga dapat digunakan untuk membunuh telur dari cacing pita.
  • Ketika bepergian di negara yang belum berkembang sebaiknya pastikan menghindari makanan mentah baik itu daging, ikan buah atau sayuran. Pastikan Anda merebusnya sebelum memakannya.
  • Selain membasuh tangan dengan air dan air panas sebelum menyiapkan dan makan makanan Anda.

Perawatan Penderita Infeksi Cacing Pita

Untuk Anda yang merasa mengalami infeksi cacing pita ini, maka akan lebih baik jika Anda segera menghubungi dokter. Akan tetapi akan lebih baik jika Anda mengetahui bahwa Anda benar-benar terinfeksi cacing pita ini dengan membawa bukti. Salah satu buktinya adalah keluarnya cacing pita bersamaan dengan feses yang Anda keluarkan.

Pembawaan sampel berupa cacing yang keluar dari tubuh Anda bersama dengan feses ini sangat dibutuhkan karena akan digunakan untuk melihat apa jenis cacing yang ada di dalam tubuh Anda dan digunakan untuk menentukan jenis obat dan perawatan apa yang Anda butuhkan.

Ketika ada bukti cacing pita yang muncul pada feses Anda, maka dokter akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan darah untuk melakukan pengecekan terhadap antibodi yang telah dihasilkan oleh tubuh untuk memerangi infeksi cacing pita ini.

Jika memang terbukti larva dari cacing pita ini sudah menginfeksi bagian lain dari tubuh, maka dokter biasanya akan menyarankan untuk melaksanakan CT scan dan atau MRI untuk mengetahui komponen tubuh mana saja yang sudah terinfeksi oleh cacing pita ini.

Jenis obat yang biasanya digunakan untuk melawan cacing pita ini adalah obat minum yang digunakan untuk membuat cacing pita ini pingsan sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan bersama dengan feses.

Baca juga mengenai : Cacing Tanah

Itulah beberapa hal terkait infeksi cacing pita. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan agar tidak terjangkit taeniasis ini.

Tags :

Artikel Pilihan

Berita Pinhome
Berita Pinhome Vasa Jagakarsa Hunian Modern Tropis Strategis Berkonsep Townhouse

Menentukan rumah idaman memang bukanlah perkara mudah. Pasalnya banyak hal yang harus dipertimbangk

Finansial
Finansial Mengenal Analisis SWOT Untuk Mengembangkan Bisnis

Membangun sebuah bisnis yang sukses tidak bisa terjadi dalam semalam. Ada banyak unsur dan juga keg

Properti
Properti 3 Contoh Rumah Idaman dan Populer Saat Ini

Desain atau contoh rumah idaman bagi tiap-tiap orang tentunya tidak sama. Ada yang mendefinisikan r

Properti
Properti Ingin Memilih Lokasi Tempat Tinggal Strategis? Perhatikan Hal Ini!

Memilih lokasi tempat tinggal strategis bukanlah perkara mudah, banyak yang harus kita pertimbangka

Artikel Terkini

Kantor
Kantor Karakteristik Desain Kantor Industrial Favorit Milenial

Konsep industrial kini juga diterapkan sebagai interior kantor. Apalagi jika mayoritas karyawannya

Kantor
Kantor Cara Memilih Meja Resepsionis Ergonomis Untuk Kantor

Ketika memasuki lobby kantor maka selalu ada meja resepsionis. Meja ini biasa dituju untuk mendapat

Berita Pinhome
Berita Pinhome Ini Dia Cara Mudah Bikin Aplikasi di Android Tanpa Ribet!

Setiap tahunnya, penggunaan smartphone, terutama Android, terus mengalami peningkatan. Bagaimana ti

Teknik Sipil
Teknik Sipil Mau Ajukan Cicilan Perumahan Subsidi? Baca Dulu Syaratnya!

Membeli rumah saat ini terbilang cukup sulit karena harganya yang sudah melambung tinggi. Apalagi,

Properti
Properti Kisaran Harga Tipe Rumah Minimalis, Terbaru 2022!

Ingin membeli rumah minimalis? Rumah minimalis ini kini menjadi incaran kaum millenials ketiak menc

Ikuti Media Sosial Kami

Pinhome Indonesia