PSBB adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar, digadang sebagai salah satu strategi utama pemerintah dalam menanggulangi penyebaran wabah Coronavirus. Saat ini PSBB sedang gencar-gencarnya dilakukan karena dianggap sebagai salah satu alternatif terbaik yang bisa dilakukan oleh Negara Indonesia tanpa harus mengorbankan roda perekonomian secara total.

Istilah PSBB sampai saat ini mulai familiar di telinga masyarakat Indonesia. Presiden Joko Widodo sendiri telah menggalakkan penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB pada tanggal 31 Maret 2020 dalam rangka percepatan penanganan Coronavirus Disease (COVID-19). Terawan Agus Putranto selaku Menteri Kesehatan juga menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 9 Tahun 2020 yang turut merincikan Peraturan Pemerintah dari Presiden Joko Widodo mengamini bahwa penerapan PSBB akan mulai efektif di ibu kota Jakarta mulai hari Jum’at 10 April 2020, maka sejak tanggal tersebut efektif pembatasan kegiatan tertentu dalam beberapa wilayah yang dianggap telah terinfeksi Coronavirus (COVID-19).

Di dalam aturan PMK Nomor 9 Tahun 2020 pasal 2, disebutkan bahwa suatu wilayah provinsi/kabupaten/kota harus memenuhi dua kriteria untuk bisa dan layak menerapkan PSBB. Pertama, jumlah kasus aktif ataupun angka kematian akibat penyakit Coronavirus terus meningkat dan ikut menyebar secara signifikan ke beberapa wilayah sekitarnya. Kedua, wilayah yang terdapat penyakit juga memiliki kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa yang sudah terjadi sebelumnya di wilayah ataupun negara lainnya. Dari kedua data inilah, Kementerian Kesehatan dapat menentukan apakah wilayah ataupun daerah tersebut layak menerapkan PSBB atau tidak.

Di sisi lain, para kepala daerah pun memiliki hak tersendiri untuk mengajukan permohonan penerapan PSBB yang didasarkan pada data kasus COVID-19 yang selama ini terjadi di daerahnya masing-masing. Ketika suatu wilayah telah mendapat persetujuan oleh Menteri Kesehatan, maka PSBB akan diberlakukan masa inkubasi terpanjang selama 14 hari. Ketika setelah masa 14 hari, angka infeksi oleh penyebaran virus Corona masih meningkat, termasuk jika diketemukan kasus baru, maka masa Pembatasan Sosial Berskala Besar ini akan kembali diperpanjang dalam jangka waktu yang sama yaitu 14 hari sejak kasus terakhir ditemukan.

Lalu, hal-hal apa saja yang dilarang selama masa PSBB?

Berbeda dengan aturan pembatasan sosial (social distancing), demi mencegah dan memperlambat penyebaran virus Corona di seluruh wilayah Indonesia, PSBB menerapkan peraturan yang jauh lebih ketat untuk para penduduknya. Berikut beberapa aktivitas yang dibatasi selama masa PSBB berjalan:

1. Perubahan pola aktivitas sekolah dan tempat kerja
Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar, ada beberapa aktivitas baik di sekolah ataupun tempat kerja yang harus dirubah dan dibatasi sesuai ketentuan PSBB. Jika ada perusahaan yang tetap harus beroperasi demi memenuhi hajat hidup orang banyak, pihak perusahaan dianjurkan untuk menjalankan ketentuan PSBB dengan baik dan berkomitmen untuk mengutamakan upaya pencegahan penyebaran penyakit COVID-19 dengan:

- Menerapkan social dan juga physical distancing di ruang kerja.
- Mengurangi kemungkinan interaksi dengan membagi jumlah karyawan yang aktif di kantor, bisa dengan membagi karyawan ke beberapa tim. Sebagian bekerja di kantor dan sebagian lagi bekerja dari rumah dengan berpacu kepada jadwal yang ditentukan oleh perusahaan.
- Mensosialiasi himbauan dan menggalakkan informasi tentang COVID-19 kepada seluruh karyawan.
- Memberikan izin kepada karyawan yang harus menggunakan kendaraan umum jenis tertentu untuk melakukan pekerjaannya dari rumah alias Work From Home (WFH).
- Membagikan masker kepada seluruh karyawan dan juga membagikan kepada lingkungan sekitar kantor.
- Mengurangi kemungkinan layanan tatap muka, mengubah jam operasional kantor dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk tetap bisa bekerja serta saat melakukan absensi.
- Menyediakan hand sanitizer di lingkungan kantor dan melakukan pengecekan suhu terhadap siapa pun yang akan memasuki gedung kantor.
- Melakukan pembatasan akses masuk gedung kantor dan melakukan pengecekan kesehatan karyawan melalui rapid test.
- Melarang para karyawannya untuk bepergian ke luar daerah ataupun luar negeri.

2. Perubahan pada rutinitas kegiatan keagamaan
Selama masa PSBB, masyarakat Indonesia dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah karena ada kemungkinan bagi individu untuk mengalami kontak dengan sekumpulan orang banyak. Karenanya, seluruh kegiatan peragamaan selama masa PSBB harus dilakukan dengan pedoman, peraturan perundang-undangan, fatwa ataupun pandangan dari lembaga keagamaan resmi yang sudah diakui oleh pemerintah.

3. Perubahan protokol berkegiatan di tempat atau fasilitas umum
Beberapa fasilitas dan tempat umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak biasanya tetap dibuka selama masa PSBB. Meski begitu, selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar diberlakukan, seluruh kegiatan yang diselenggarakan di tempat ataupun fasilitas umum harus menerapkan aturan physical distancing dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak. Tempat-tempat seperti supermarket, minimarket, toko, pasar, tempat penjualan obat dan peralatan medis, kebutuhan pangan, bahan bakar minyak, gas dan energi, fasilitas pelayanan kesehatan, tempat kegiatan olahraga serta tempat penjualan barang kebutuhan pokok diharapkan dapat menyesuaian peraturan PSBB dan physical distancing dengan baik.

4. Jam dan peraturan baru dalam operasional transportasi umum
Demi memenuhi tuntutan mobilitas masyarakat yang masih harus dan perlu beraktivitas selama masa PSBB, transportasi umum masih dapat beroperasi seperti biasanya. Namun, tetap ada perubahan pada jumlah penumpang yang diperbolehkan untuk naik dan juga kewajiban untuk menjaga jarak antara satu penumpang dengan penumpang lainnya. Tidak hanya transportasi umum untuk masyarakat saja, Pins. Moda transportasi barang yang beroperasi untuk memenuhi kebutuhan dasar logistik masyarakat pun turut mendapat pengecualian dan dapat beroperasi seperti biasanya.

5. Perubahan cara berkegiatan sosial dan budaya
Dalam hal sosial dan budaya pun, ada pembatasan yang harus dilakukan seperti pelarangan orang-orang berkerumun secara ramai-ramai. Larangan ini dilakukan atas dasar pandangan lembaga adat budaya resmi yang sudah diakui pemerintah dan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kenapa harus ada PSBB di Indonesia?

Pins, meski diakui sulit untuk merubah pola kebiasaan dan aktivitas sehari-hari, kita semua harus mengamini bahwa langkah untuk melakukan pembatasan ini tak lain dan tak bukan adalah demi mendapatkan hasil PSBB yang membaik. PSBB dianggap sebagai salah satu cara efektif dan cocok untuk menurunkan tingkat jumlah orang yang terinfeksi virus Corona di Indonesia. Menurut Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah dalam hal penyebaran COVID-19 ini mengatakan PSBB mampu memberikan dampak yang sangat signifikan dalam penurunan grafik pertumbuhan jumlah orang yang terinfeksi COVID-19.

Achmad Yurianto menerangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar akan mencegah perkumpulan orang-orang baik dalam skala besar ataupun kecil dan juga menekan capaian wilayah penyebaran coronavirus di kalangan masyarakat luas. Pemerintah sendiri berharap dengan menerapkan PSBB, masyarakat jadi terlindungi dari resiko penularan virus Corona. Karenanya, Achmad Yurianto juga menyebutkan peran dan kerjasama masyarakat dalam menyukseskan program PSBB ini sangat penting, tidak ada kebijakan yang berhasil tanpa adanya kerjasama dari masyarakatnya itu sendiri.


Bagi Pins yang sedang bingung mencari rumah yang tepat, ayo temukan beragam pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti & iklankan properti Kamu di Jual Properti. Bergabunglah bersama Kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk Anda Agen properti independen atau Kantor Properti.

Hanya di Pinhome.id yang memberikan Anda kemudahan membeli properti. Pinhome - PINtar jual beli sewa properti.